
"Diam kamu! Aku sedang bertanya padanya sekarang!"
Polisi itu berteriak dengan dingin dan masih menatap Jansen, "Apa benar kalian mencuri dari Grup Dream Internasional dan memukuli orang?"
"Mencuri? Untuk apa aku mencuri barang-barangku sendiri?" Jansen menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Barang-barangmu sendiri? Apa maksudmu?"
Polisi itu sedikit mengernyit dan merasa bahwa pemuda di hadapannya ini sangat gila, tetapi juga ada sesuatu yang salah.
Biasanya, orang-orang akan menjadi ketakutan saat melihat polisi, tapi pemuda ini malah nampak sangat percaya diri.
Jansen menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia menelepon seseorang, lalu menyerahkan ponselnya kepada si polisi.
Polisi itu mengambil ponsel Jansen dengan skeptis dan menempelkannya ke telinganya.
"Aku Natasha, Presdir Grup Dream Internasional. Ponsel yang kamu pegang ini saat ini adalah milik bosku. Selain itu, wakil direkturmu pasti sedang meneleponmu!"
Benar saja, ponsel polisi itu berdering tepat begitu Natasha selesai berbicara. Raut wajah si polisi langsung berubah ketika dia melihat siapa yang meneleponnya.
"Brox, apakah kamu menangkap bos Grup Dream Internasional? Segera lepaskan dia dan selidiki masalahnya!"
Suara itu terdengar sedikit marah.
Ekspresi si polisi akhirnya berubah. Dia mengembalikan ponsel itu kepada Jansen, tatapannya terlihat penuh hormat.
Ternyata pemuda ini adalah bos dari Grup Dream
Internasional?
Sepertinya dia memang tidak mencuri barang-barang miliknya sendiri!
Polisi itu sontak berseru, "Tangkap mereka!"
Satpam yang menjadi pemimpin itu pun bangkit berdiri dengan penuh kemenangan dan mencibir, "apakah Kalian sekarang menyesal? Kuberi tahu, ya! Ini adalah daerah kami dan kami-lah yang berkuasa di sini!"
Akan tetapi, para polisi malah datang menghampiri dan memborgol semua satpam itu.
"Apa-apaan ini, Pak Polisi?!"
"Kalian sudah melanggar hukum dengan mencuri barang-barang dari Grup Dream Internasional! Nantikan saja tuntutan dari Grup Dream Internasional "
"Hei, mana mungkin kami mencuri sesuatu? Kami adalah satpam Grup Dream Internasional! Mereka itu para pencurinya!"
Pria yang menjadi pemimpin itu meraung sambil menunjuk ke arah Jansen.
"Dia itu bos Grup Dream Internasional!"
Polisi itu menjawab dengan nada tidak bersahabat.
Bum!
Sepasang kaki satpam yang memimpin itu sontak terasa lemas. Dia pasti akan jatuh terduduk di atas tanah kalau bukan karena bantuan polisi.
Mereka ternyata mencuri di depan bos?
Pantas saja pemuda itu ikut campur!
Tepat pada saat itu, sebuah mobil Maserati pun datang. Setelah itu, seorang wanita yang mengenakan mantel berwarna merah turun dari mobil dan berjalan menghampiri. Aura yang sangat kuat terpancar darinya.
"Jansen!"
Orang yang datang itu adalah Natasha.
Ekspresi Jansen pun berubah dan dia berkata dengan santai, "Satpam di Grup Dream Internasional harus diganti. Mulai hari ini, Panah yang akan mengambil alih!"
"Baiklah!"
Natasha mengangguk sambil tersenyum dengan masam, dia tahu Jansen merasa sangat tidak senang. Namun kalau dipikir-pikir lagi, bos mana yang tidak akan marah di saat ada orang yang mencuri barang dari perusahaannya tepat di depan matanya?
Jansen menunjuk ke arah Erson dan yang lainnya dan berkata lagi, "Aturlah agar mereka semua ini bisa mulai bekerja besok. Berikan mereka gaji sebesar 10 ribu per bulan dan tunjangan secara penuh!"
Panah segera mengangguk dan langsung mengambil alih tugas sebagai satpam Grup Dream Internasional. Oleh sebab itu, tentu saja dialah yang bertugas menjalankan perintah
Jansen itu!
Erson dan yang lainnya bak disambar petir!
Anak muda yang mengendarai mobil mewah, tapi tidak takut kotor-kotoran demi membantu orang ini ternyata benar-benar bosnya?
Dia sangat baik hati dan mudah didekati sekali!
Selain itu, mereka akhirnya memiliki pekerjaan dengan gaji sepuluh ribu yuan bulan setelah menganggur selama setengah tahun lebih.
Jansen tersenyum pada Erson dan pergi bersama Natasha.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua akhirnya tiba di rumah komunitas. Natasha mengambil kunci untuk membuka pintu dan menyadari Jansen masih terlihat marah. Pria itu
bahkan tidak mengatakan apa-apa. Natasha tersenyum pahit dan berkata, "Aku minta maaf atas kesalahan manajemen barusan. Grup Dream Internasional terlalu besar!"
"Dasar Kak Natasha bodoh, aku bukannya marah karena satpam-satpam itu!"
menyetujui usulan Elena untuk memberikan sebidang tanah itu kepada Keluarga Miller!"
Natasha berkata tanpa daya, "Aku juga sebenarnya tidak mau, tapi Elena sendiri yang meneleponku. Aku menganggap Elena sebagai keluargaku sendiri, jadi mana mungkin aku
tidak membantunya untuk masalah sekecil ini?"
Amarah Jansen pun mereda, dia bisa mendengar nada ketidakberdayaan dalam suara Natasha.
Elena adalah istrinya dan wanita itu jarang sekali meminta sesuatu. Oleh sebab itu, Natasha pasti akan menyanggupinya!
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Kamu dan Elena sedang bertengkar, jadi kamu pasti tidak akan setuju kalau kuberi tahu. Aku hanya ingin kalian cepat berbaikan!"
"Berbaikan apanya! Elena itu idiot, dia hanyut terbawa dengan semua pujian yang dilontarkan oleh Keluarga Miller dan bersedia menyanggupi syarat apa pun!"
Jansen berkata dengan marah, "Bukankah kamu sudah melihat betapa menyedihkannya area pembongkaran? Mereka hanya diberikan kompensasi sebesar 100 yuan per meter persegi! Mereka juga tidak diberikan tempat tinggal! Aliran air dan listrik bahkan diputus! Apa seperti itu cara manusia memperlakukan sesamanya?!"
Ekspresi Natasha sedikit berubah, "Setelah aku menyerahkan tanah itu pada Keluarga Miller, aku pikir mereka akan menanganinya dengan baik. Tidak kusangka mereka ternyata sekikir itu. Benar-benar keterlaluan!"
"Memangnya berapa banyak uang yang Keluarga Miller miliki saat ini? Mereka sedang berada dalam kesulitan keuangan sekarang!"
Jansen berkata dengan dingin, "Ambil kembali sebidang tanah itu. Urus biaya pembongkarannya dan dirikan tempat tinggal!"
"Itu bukan masalah besar, tapi bagaimana dengan pihak Keluarga Miller?" tanya Natasha dengan kening yang mengernyit.
"Keluarga Miller itu bagaikan mulut singa. Mereka pikir aku tidak bisa apa-apa tanpa Elena! Kita ciptakan perbedaan harga yang besar! Aku ingin lihat apa aku memang tidak bisa apa-apa tanpa Elena!" Amarah Jansen tersulut lagi.
Di saat yang bersamaan, di kediaman Keluarga Miller. Elena sedang berada di kamarnya sambil memandangi botol air mineral dan tersenyum manis.
Elena sebenarnya cukup terkejut saat tahu bahwa air itu dikirimkan oleh Jansen kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa Jansen masih peduli padanya!
Mungkin sebelumnya Jansen hanya sedang marah hingga mengungkit tentang perceraian.
"Jansen, aku tahu aku salah. Seharusnya aku tidak memihak Keluarga Miller dan mengucilkanmu!"
"Tapi apa kamu tahu betapa sakitnya saat terakhir kali kamu mengatakan bahwa aku tidak berharga?"
"Dasar pria terus terang!"
Jari-jemari Elena yang lentik memainkan botol air mineral itu.
Kini, dia sudah tidak sabar menunggu Jansen untuk segera mendatanginya.
"Elena, apa kamu ada di dalam?"
Tepat pada saat itu, terdengarlah bunyi pintu kamar yang diketuk, diikuti dengan suara Mai, "Bibi Renata memintamu untuk keluar!"
"Baiklah!"
Elena membuka pintu dan berjalan keluar, lalu mengikuti Mai ke aula.
Selain Kakek Miller dan Danial, semua orang sudah berkumpul di situ. Ekspresi mereka sangat tidak enak dilihat.
"Elena, baguslah kamu datang!"
Paman Keempat, Rowen, berkata dengan cemas, "Jansen mengambil kembali sebidang tanah yang merupakan pabrik traktor itu! Keterlaluan!"
"Bukankah mereka berjanji akan memberikan sebidang tanah itu kepada kita saat kamu menelepon Grup Dream Internasional sebelumnya? Tapi lihatlah apa yang dilakukan
Jansen!"
"Menurutku, kamu jangan memaafkannya dan jangan meneleponnya! Kalau kamu tidak memberinya pelajaran, dia tidak akan kapok!"
Maia dan yang lainnya saling mengomel.
Elena mengerutkan keningnya. Dia memang menyetujui saat Keluarga Miller meminta bantuannya dengan mengatakan bahwa mereka menginginkan tanah yang merupakan pabrik traktor itu. Elena pikir itu masalah sepele!
Dia tidak menyangka Jansen akan mengingkari kata-katanya. Bukankah ini sama saja dengan mencoreng nama baik Elena?
"Elena, semua orang di Keluarga Miller mendengarkanmu sekarang. Kalau Jansen bersikap seperti ini, berarti dia tidak
menganggapmu sebagai istrinya. Dia terlalu kikir!"
Renata berbicara dengan sopan seolah-olah Elena-lah kepala keluarganya. Pujian ini juga meningkatkan reputasi Elena agar dia merasa malu dan tidak enak hati.
"Elena, bagaimana bisa Jansen berbuat sesuatu seperti ini?"
Mai juga ikut menimpali. Dia tidak mengerti situasinya, tapi Elena diperlakukan dengan sangat hormat oleh orang-orang dari Keluarga Miller. Dia juga berpikir bahwa sudah sewajarnya Jansen membantu Keluarga Miller.
Apalagi sebagai kerabat, tidak seharusnya ada keributan seperti ini!
"Elena, katakan sesuatu. Tidak peduli pilihan apa yang kamu buat, kami akan menurutimu!" Kakak kedua Elena, Irene, juga angkat bicara.
Elena masih mengerutkan keningnya. Dia juga merasa tidak seharusnya orang tuanya terlalu mencampuri urusan suami istri, tapi sekarang semua orang malah begitu menghargainya. Kalau dia membela Jansen, bukankah itu akan mempermalukan semuanya?
Zachary merasa ada yang tidak beres, jadi dia sontak menasihati, "Mai, jangan ikut campur masalah yang menyangkut tentang Jansen!"