
Saat Jansen kembali menyelam, seorang pria memberikan isyarat dengan panik kepada Jansen, lalu menunjuk ke dalam bis. Di dalam bis yang tenggelam, tampak seorang wanita hamil.
Wanita hamil itu terlalu berat, Jansen sulit untuk
menyelamatkannya. Ditambah, wanita hamil itu sulit untuk diselamatkan melalui jendela.
Jansen menunjuk ke atas dan menyuruh pria itu untuk naik duluan, sedangkan Jansen sendiri langsung menyelam dan mengejar bis tersebut.
Elena khawatir melihat kondisi tersebut. Bis tenggelam dan membentuk pusaran air. Elena khawatir Jansen akan tersedot ke dalam pusaran tersebut.
Namun di saat seperti ini, Elena sendiri juga harus menyelamatkan orang banyak. Dia tidak bisa memedulikan hal itu.
Jansen segera masuk ke dalam bis yang telah tenggelam ke dasar sungai. Bis yang berguncang membuat Jansen hampir kehilangan kendali.
Dengan cepat, Jansen melaju ke tempat duduk wanita hamil itu, lalu membuka sabuk pengamannya. Tanpa pikir panjang, Jansen menendang pintu bis dan membawa wanita hamil itu berenang ke atas.
"Sudah naik!"
Saat Jansen keluar, orang-orang di darat berteriak dengan penuh semangat.
Elena yang basah kuyup sedang memapah orang-orang naik ke darat. Setelah mendengar suara teriakan, Elena melihat ke belakang dan tersenyum lega.
"Hebat sekali! Kedua orang ini bisa menyelamatkan semua orang yang ada di dalam bis."
"Cepat, ambilkan selimut."
Orang-orang di daratan turut membantu.
"Jansen!"
Cindy terus memotret dengan menggunakan ponselnya. Berita ini adalah berita yang sangat bagus.
Tissa tidak membantu apa-apa, dia hanya bantu
mengambilkan selimut. Dia sangat marah melihat Aidan yang hanya berpangku tangan di samping.
"Bodoh! Kenapa kamu melewatkan kesempatan sebagus ini?"
"Kesempatan bagus apa? Cuma kecelakaan kecil saja."
Aidan menggelengkan kepalanya dengan acuh. Dia dilahirkan untuk menjadi pahlawan, dia hanya melakukan hal-hal besar. Dia tidak punya waktu untuk mengurus masalah kecil seperti ini.
"Apakah Kamu bodoh? Elena juga ada di sana. Kalau kamu ikut membantu, bagaimana pandangan Elena kepadamu?"
Tissa mengeluh, "Lihat, Jansen begitu pintar. Dia meninggalkan kesan sebagai seorang pria yang baik dan berintegritas di mata Elena!"
Aidan baru menyadarinya. Wajahnya pun tampak kecewa.
"Semuanya baik-baik saja, 'kan? Semuanya sudah lengkap, 'kan?"
Orang-orang yang diselamatkan sedang duduk di tanah dengan ditutupi selimut, mereka semua gemetar kedinginan.
Seseorang menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Bagaimanapun, tempat ini berada di pinggiran kota. Ambulans membutuhkan beberapa waktu hingga tiba.
"Ada 36 orang di dalam bis. Sepertinya semua selamat."
Sopir bis berteriak, "Semua ini salahku. Untuk apa aku banting setir?"
"Kamu tidak salah, mobil itu yang salah. Tenang saja, pemilik mobil itu tidak akan bisa kabur."
Semua orang berusaha menghibur sopir bis.
"Semuanya, jangan ribut lagi. Kondisi wanita hamil ini kurang baik."
Pada saat ini, suara Jansen terdengar. Jansen sedang meletakkan wanita hamil yang terakhir diselamatkannya ke atas tanah.
"Istriku!"
Suami dari wanita hamil itu berlarian seperti orang gila. Di samping, juga terdapat seorang wanita tua yang melipat kedua tangannya dengan gugup dan terus berkata, "Amitabha, Amitabha!"
Suami dari wanita hamil itu kembali berteriak ke kerumunan, "Apakah ambulans belum datang? Di mana dokternya?"
"Ambulans membutuhkan lima belas menit untuk tiba di sini."
"Apakah di sini ada dokter?"
Melihat wanita hamil yang tidak sadarkan diri, kerumunan merasa ada yang tidak beres.
Perut wanita itu sangat besar, dia pasti sudah mau melahirkan. Ditambah, dia juga sesak napas dan kedinginan. Kondisinya terlihat kurang baik.
Jansen tidak menghiraukan kerumunan. Dia sedang memeriksa denyut nadi dan menggunakan Profound Qi untuk menghangatkan tubuh wanita hamil ini.
Elena terenyuh menatap Jansen yang basah kuyup. Elena ingin membantu, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya.
Di saat bersamaan, seorang dokter lari mendekat, lalu mengeluarkan stetoskop untuk mendengarkan jantung janin. Dokter menggelengkan kepalanya, "Maaf, aku sudah tidak mendengar detak jantung janin maupun ibunya."
Dokter tidak melanjutkan, tapi semua orang mengerti maksud dari dokter tersebut.
Semua orang menghela napas.
"Kamu adalah suaminya? Apakah Kamu sudah gila? Istrimu sedang mengandung hampir 9 bulan. Untuk apa membawanya keluar? Tidak bertanggung jawab!"
Beberapa wanita memarahi pria itu tidak tahu bersyukur.
"Istriku!"
"Langit memberkati, menantuku mengandung anak kembar. Dia tidak boleh mati!"
Ibu mertua dari wanita hamil itu berlutut dan berdoa menghadap ke Kuil Bulan.
Dokter langsung marah melihat ibu tua yang masih sibuk berdoa ini. Dokter pun berkata dengan kesal, "Berdoa adalah berbicara tentang ketulusan. Menantumu sudah mau melahirkan, untuk apa kamu masih membawanya datang ke kuil? Apalagi, tempat ini adalah tempat terpencil. Kalau dia melahirkan, kamu juga tidak bisa menyelamatkannya."
"Kacau!"
"Orang tua ini terlalu memercayai takhayul!"
"Berdoa itu untuk mendapatkan ketenangan pikiran, tapi kamu malah menjadikannya sebagai obat dari semua masalah hidupmu?"
Orang-orang terus protes. Mereka sangat menyayangkan kondisi ini.
Ibu mertua dari wanita hamil ini tidak menghiraukan kerumunan, dia tetap menatap ke arah Kuil Bulan, lalu tiba-tiba berteriak, "Jemmy, bantu aku memapah istrimu ke
kuil untuk berdoa. Dia pasti akan sadar."
Setelah selesai bicara, ibu tua ini ingin menarik wanita hamil tersebut.
Orang-orang kembali memarahi ibu tua ini. Jantung merasa langsung tersentak. Masih mau menyiksa wanita hamil ini?
Iman dari ibu tua ini sudah dibutakan!
"Berhenti!"
Jansen berbicara sambil memegang pergelangan tangan wanita hamil ini. Jansen sedang menyalurkan Profound Qi
ke dalam tubuh wanita hamil ini. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan wanita hamil ini dulu.
"Apa yang kamu lakukan? Pergi! Jangan menghalangiku untuk menyelamatkan cucuku!"
Ibu tua ini sangat marah, dia mengangkat tangan dan ingin menampar Jansen.
Plak!
Namun, Elena menahan pergelangan tangan ibu tua ini. Elena menatap ibu tua ini dengan tatapan dingin dan berkata, "Kalau masih bertindak sembarangan, aku akan membuangmu ke sungai!"
"Mau menindasku? Tidak tahu menghargai orang tua?"
Wajah ibu mertua dari wanita hamil ini sama sekali tak tampak ketakutan.
Elena marah sampai tertawa, "Tutup mulutmu! Kalau bukan karena suamiku yang menyelamatkanmu, kamu sudah mati tenggelam. Suamiku adalah dokter terkenal, dia pasti ada cara untuk menyelamatkan menantummu."
Elena mengucapkan kata "suami" dengan bangga.
Ibu mertua dari wanita hamil berteriak dengan marah, "Oh, pantas saja kamu membantu pria ini. Ternyata dia suamimu? Suami istri yang tidak tahu diri!"
Plak!
Sebuah tamparan melayang ke wajah ibu tua ini. Ibu tua ingin marah, tapi dia langsung membeku dalam seketika.
Bukan Elena yang menamparnya, melainkan putranya sendiri.
"Tutup mulutmu!"
Pria itu menatap ibunya dengan tatapan mengerikan, "Kamu yang membunuh Fenny! Katamu, dia harus menjadi vegetarian. Selama hamil, dia mengikutimu menjadi vegetarian. Nutrisi tubuhnya tidak terpenuhi dan menyebabkannya hampir keguguran beberapa kali. Kali ini, kalau bukan karena kamu yang ingin meminta cucu laki-laki dan memaksa Fenny untuk datang berdoa, mana mungkin hal ini terjadi?"
"Jemmy, kamu, kamu memukulku?"
Ibu mertua dari wanita hamil itu membelai pipinya.
Plak!
Jemmy kembali menamparnya sebagai peringatan.
"Pergi dari sini!"
Jelas, pria ini sudah menahannya cukup lama.
"Bagaimana bisa ada orang seperti itu? Siapa pun yang menjadi menantunya pasti akan sial."
Orang-orang di sekitar juga tidak tahan melihatnya.
Mendengar teguran dari orang-orang, ibu mertua dari wanita hamil itu pun berangsur-angsur terdiam.
"Dokter, tolong selamatkan istriku. Aku akan bersujud kepadamu."
Pria itu kembali bersujud kepada Jansen. Sebelumnya, dokter sudah mengatakan tidak ada cara, tapi penolong ini tampak tidak menyerah sama sekali. Sekarang, pria ini hanya bisa mengharapkan keajaiban.
"Aku akan berusaha."
Jansen mengangguk, "Suruh orang-orang menyingkir. Jangan mengganggu wanita hamil ini. Oh iya, besarkan apinya untuk menjaga kehangatan."
"Apa lagi yang mau kamu lakukan? Menantuku sudah meninggal. Kamu masih tidak mau membiarkannya tenang?"
Ibu mertua dari wanita hamil ini kembali berteriak.
Elena sudah tidak tahan. Dia langsung menendang ibu tua ini hingga terhempas sejauh lima meter.