Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1315. Harga Yang Harus Dibayar!


Broken Sword memiliki kesamaan dengan pedang pada umumnya, hanya saja bentuknya masih terlihat kuno atau primitif. Meski telah menebas para Zombie, tapi entah kenapa tidak ada aura mayat atau pun bau amis di permukaan pedang itu. Sebaliknya, pedang itu malah menunjukkan ketajaman logamnya.


"Ayo, kita pergi dari sini!"


Tak ingin berlama-lama, Jansen pun segera membawa mereka pergi dari lokasi.


Mr. Allen mengikuti Alice di belakang dengan tatapan yang kosong. "Ini kebesaran Tuhan. Tuhan benar-benar ada saat kita membutuhkan-Nya!" gumamnya terus menerus.


Tuhan yang Maha Kuasa makin memiliki kedudukan tinggi dalam hatinya.


Tatapan mata Alice dan Preston penuh dengan kebanggaan. Mereka mengikuti Jansen di belakang seolah sedang menerobos ke neraka tanpa rasa takut.


Setelah keluar dari aula istana, Jansen tak lagi berani bertindak gegabah. Dia pun mengikuti jalan yang ada di sepanjang pinggir istana.


Sepanjang perjalanan, mereka tidak bertemu satu pun Zombie. Sebaliknya, mereka justru banyak menemukan mayat di samping istana. Tidak salah lagi, mayat-mayat itu merupakan tentara bayaran dan orang-orang dari Negara Matahari.


Mata mereka terbuka lebar, bagian belakang kepala pun telah habis dimakan. Mereka tewas dalam keadaan mengenaskan, seolah bertemu dengan sesuatu yang sangat mengerikan sebelumnya.


Jansen menggelengkan kepalanya sembari menulis sebuah jimat saat melewati mayat mereka. Dan begitulah, Jansen dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan.


Dalam kehidupan bermasyarakat, mungkin ada sebagian orang yang bosan dengan hidup yang biasa-biasa saja. Itu sebabnya mereka mencari sebuah adrenalin yang mampu membuat hati mereka senang. Namun, sekarang akibatnya tidak tanggung-tanggung. Mencari adrenalin di tempat seperti ini sama saja seperti mengantar nyawa. Adrenalin tidak didapat, nyawa justru melayang!


Mungkin ini yang disebut dengan orang yang tidak pernah bersyukur dalam hidup.


Tidak ada yang terjadi selama perjalanan pulang kali ini. Jansen pun mengantar Alice dan Mr. Allen ke sebuah pintu masuk yang berbentuk menyerupai sebuah retakan.


"Maaf, aku tidak bisa mengantar kalian sampai bawah, aku masih harus mencari istriku!"


"Aku sudah sangat berterima kasih karena sudah mengantarku sampai di sini, Jansen. Sekali lagi terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Aku menyukaimu, apa boleh aku mempercayakan masa depanku padamu?"


Alice pun tak lagi berbasa-basi, dia langsung to the point menyampaikan isi hatinya.


"Aku sudah menikah, Alice!" ucap Jansen sembari tersenyum canggung.


"Bukannya di Huaxia boleh yang berpoligami? Aku tidak berkeberatan!" ucap Alice dengan tatapan yang menggebu.


Jansen nampak berkeringat dingin. Alice merupakan sosok wanita yang bergairah, perawakan tubuhnya pun langsing memesona. Pria manapun tidak akan bisa menolaknya.


Sayangnya, Jansen sudah menikah!


Yang dia khawatirkan saat ini adalah Elena, entah istrinya itu sudah hamil atau masih belum.


"Tapi Alice, di Huaxia sudah populer dengan slogan ' satu suami atau istri sudah cukup!'. Jadi maaf aku tidak bisa!" ucap Jansen menolaknya dengan halus. Wajahnya pun nampak memerah.


Satu suami atau istri sudah cukup?


Bukankah di rumah masih ada dua orang lagi?


"Jansen, aku tidak akan mengubah keputusanku. Saat ini mungkin kamu tidak akan menerimaku, tapi nanti kamu pasti bisa menerimaku. Kamu sudah membantuku dua kali. Kamu adalah sosok malaikat penyelamatku, I love you ... !"


Alice memeluk Jansen dengan erat. Tak lupa dia mencium Jansen sebelum mengikuti Mr. Allen pergi.


"I love you...?"


Preston yang sedari tadi berada di samping mereka berdua pun nampak canggung. Dia lantas berpura-pura seolah tidak melihat atau juga mendengarnya.


"Preston, kamu tahu harga yang harus dibayar ketika berbicara sembarangan di depan istriku nanti?"


ucap Jansen dengan wajah yang dingin menatap Preston.


"Berapa harganya?"


tanya Preston tanpa sadar.


"Aku akan meninggalkanmu di istana ini!"


Jansen pun pergi dengan meninggalkan kalimat itu.


Preston pun bergidik dan buru-buru mengejar Jansen. "Kak Jansen tidak perlu khawatir, anggap saja aku tidak melihat apa pun barusan. Bukankah tadi kita sempat mengobrol? Sepertinya aku tanya mengenai suatu hal, coba aku ingat-ingat lagi. Oh iya ... aku tadi tanya, apa kebotakan juga disebabkan oleh semacam penyakit!?"


Preston tampak mengubah topik obrolan, bagaimanapun dia lebih memilih untuk mati karena bertarung, kelaparan atau pun berlatih, daripada harus mati di tempat seperti ini!


"Ya!"


jawab Jansen singkat.


"Kira-kira penyakit apa kak yang bisa menyebabkan kebotakan?"


tanya Preston lebih lanjut dengan raut wajah terkejut.


Awalnya, dia hanya asal bertanya saja, tapi ternyata Jansen benar-benar tahu mengenai hal itu. Muncul sebuah kecurigaan dalam hati Preston. "Apa mungkin dia benar-benar seorang dokter?" pikirnya dalam hati.


"Tidak ada rambut!"


ucap Jansen sembari mempercepat langkah kakinya dan tiba di sebuah halaman alun-alun istana.


"Tidak ada rambut? Yang benar saja kak, penyakit apaan itu!?"


"Eh... tunggu sebentar, kalau dipikir-pikir masuk akal juga. Botak kan memang tidak ada rambut, jadi bisa disebut dengan penyakit tidak ada rambut!"


"Hahaha... ya, ya, ya... kebotakan adalah penyakit yang disebabkan tidak ada rambut!"


ucap Preston sembari tertawa terbahak-bahak. Dengan candaan yang Jansen berikan, dia tak lagi merasa takut.


Keduanya kembali masuk ke dalam istana melalui jalur samping. Dengan bantuan kompas sekte, mereka mencari arah untuk melanjutkan perjalanan.


Tidak ada bahaya apa pun pada perjalanan kali ini. Tanpa terasa, mereka telah tiba di ruang makam utama, di mana terlihat sebuah peti tergantung di dalamnya.


Hal ini mengingatkan Jansen pada sebuah pemandangan yang pernah dilihatnya saat berada di Penjara abadi kala itu. Di tempat itu juga terdapat sebuah peti yang sengaja digantung. Cara semacam itu merupakan hukuman terberat bagi mayat.


Bagaimanapun, para leluhur sangat menjunjung adab penguburan mayat di dalam tanah. Dan mayat yang digantung akan mati dalam keadaan jiwa yang tidak tenang.


Apa mungkin ini adalah peti mati dari mayat Raja Istana?


Tapi... Tianggang adalah seorang master dari teknik Xuan. Bagaimana mungkin dia melakukan hal tabu seperti ini?


Kecuali... jika Raja Istana belum mati.


Memikirkan hal ini, Jansen pun mulai mengaktifkan kesadaran illahi nya untuk memeriksa sekitar. Benar saja, tidak ada mayat dalam peti mati itu, kosong!


"Kak Jansen, di sini!"


Pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara teriakan Preston. Ada sebuah lubang yang menyerupai gua di balik ruang makam utama. Kompas sekte pun bergerak menunjuk ke arah lubang!


Ini membuktikan jika beberapa tahun lalu, sekte Yuhua sudah menemukan tempat rahasia dan kemudian membuat sebuah lubang berbentuk gua.