Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1323. Bersaing


Erika dan Elena memiliki hubungan yang sangat baik, Erika justru lebih terlihat bahagia daripada Elena sendiri.


"Aku akan menjadi seorang ibu!?"


Elena masih terkejut dengan berita mendadak ini, tatapan matanya fokus menatap ke arah Jansen.


Di permukaan, Jansen memang terlihat tenang. Tapi sebenarnya, kegembiraan yang ada di hatinya tidak kalah dari Elena.


Hidup begitu sempurna saat seorang pria memiliki keluarga dengan istri dan anak di dalamnya.


Jansen merupakan sosok pria yang tradisional, masih berpegang teguh pada adat istiadat, tentu saja dia menginginkan seorang anak.


Tiba-tiba, wajah Jansen kembali suram, "Tiga bulan pertama kehamilan dinamakan trimester pertama kehamilan, sangat rentan terjadi keguguran. Dan kamu malah ada di tempat seperti ini!?"


"Mana aku tahu kalau sedang hamil!"


jawab Elena nampak kesal.


Melihat Elena akan marah, tentu saja Jansen tidak berani membuat ulah dengan wanita itu. Sekarang, ibarat kata Elena adalah seorang putri, Jansen rela melakukan apa saja demi seorang putri.


"Sekarang sudah tahu kan? Kalau begitu, ikutlah pulang denganku, sangat berbahaya berada di tempat sekitar ini. Kamu juga harus mempertimbangkan keadaan janin yang ada di dalam perutmu," bujuk Jansen.


"Mana mungkin aku pergi sekarang? Meninggalkan senior dan juniorku seperti ini!?"


sahut Elena melengkungkan bibirnya.


"Elena, lebih baik kamu pergi dari sini, serahkan semuanya pada kami!"


bujuk semua murid sekte yang lain.


Elena malah bersikap keras dengan menggelengkan kepala. "Tidak bisa, sekarang sekte berada di urutan terbawah, di saat seperti ini, aku tidak bisa pergi begitu saja!"


 "Elena, utamakan keselamatan anakmu, tempat ini sangat berbahaya. Kalau terjadi sesuatu bagaimana nanti?" ucap Erika berusaha membujuk.


Ada jejak keraguan di wajah Elena saat ini. Tapi pada akhirnya dia tetap bersikeras berada di tempat ini. Dia merasa terlalu egois jika melakukannya.


"Oke, baiklah! Kamu baik-baik diam di sini, jangan pergi ke mana-mana!" ucap Jansen nampak tak tahan lagi.


"Serahkan tugas membunuh mayat hidup ini padaku, aku tidak akan membiarkan Cabang Gunung Salju Peri berada di urutan terbawah, bagaimana?"


"Benarkah!?"


ucap Elena dengan mata yang berbinar.


"Bagaimana bisa aku berbohong, istri sedang hamil tentu saja semua ini tugas suami!" sahut Jansen.


Kemudian, dia menatap ke arah Erika dan yang lainnya. "Tolong bantu aku menjaga Elena, tugas ini biar aku yang mengurusnya!"


Erika pun mengangguk, "Meski kamu tidak mengatakannya, kita juga akan tetap menjaga Elena. Mengenai tugas sekte ini, lebih baik kita selesaikan bersama-sama!"


"Sudah terlambat, keberadaan mayat hidup di sini juga sangat sedikit, sulit untuk menyusul Cabang lain!" ucap Jansen sembari menggelengkan kepalanya, "Tolong jaga dia untukku dan serahkan sisanya padaku!"


Selesai mengatakannya, dia pun berbalik dan pergi dari lokasi.


"Jansen, hati-hati!"


teriak Elena saat melihat kepergian Jansen. Sebagai istri, tentu saja dia sangat mengkhawatirkan suaminya.


"Harusnya kamu yang berhati-hati, duduk di sini dan tunggu aku kembali!" jawab Jansen.


Karena jumlah mayat hidup di wilayah tenggara sangat sedikit, itu sebabnya dia memilih pergi ke wilayah yang lebih banyak keberadaan mayat hidupnya.


Wilayah itu tentu saja di sekitar gerbang perunggu!


Kecuali berada di depan gerbang perunggu dan membunuh semua mayat hidup.


Tentu saja, hal tersebut sangat mudah untuk dikatakan. Tapi sebenarnya, gerbang perunggu sangatlah berbahaya. Lagi pula, tidak ada yang tahu sebenarnya apa yang tersimpan di dalam gerbang perunggu.


"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah! Hahaha!"


Meski ada sedikit kekhawatiran di hatinya terhadap gerbang perunggu, tapi rasa senang menjadi seorang ayah telah memenuhi pikiran Jansen saat ini.


Di sisi lain, para Tetua Cabang nampak berkumpul satu sama lain.


"Gelombang ketiga pasukan mayat hidup sudah hampir berakhir. Menurut kebiasaan yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya, sebentar lagi gelombang keempat akan segera datang. Bisa jadi gerbang perunggu akan tertutup setelahnya!"


"Tentu saja ada kemungkinan gelombang kelima akan terjadi, tapi kemungkinan itu sangatlah kecil!"


"Gerbang perunggu menyembunyikan salah satu dari sekian banyak rahasia yang ada di Gunung Kunlun. Gunung ini terlalu misterius, aku harap setelah gerbang ini tertutup, Gunung Kunlun akan kembali tenang meski hanya sementara!"


Para Tetua sekalipun merasakan takut di hati mereka. Apalagi ada beberapa benda kuno seperti gerbang perunggu yang ada di Gunung Kunlun.


Saat para Tetua berada dalam obrolan mereka, nampak seorang murid sekte yang berlari menghampiri mereka. Murid sekte tersebut tidak lain adalah Deliza. "Penatua Yohan, muncul seorang master bela diri di tengah-tengah Cabang Gunung Salju Peri! Dia merebut banyak mayat hidup!"


"Master bela diri!?"


Para Tetua pun mengerutkan keningnya saat mendengar pernyataan Deliza.


"Dia adalah suami Elena, kekuatannya luar biasa. Saat mengantarnya barusan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia berhasil mengalahkan banyak murid sekte Cabang Rizhao. Dia juga merebut puluhan mayat hidup!" ucap Deliza kemudian.


Wajah para Tetua pun memucat, tiba-tiba mereka teringat akan sesuatu.


"Suami Elena? Bukankah dia yang mendapatkan hasil terbaik saat ujian sekte luar? Kekuatannya jauh lebih kuat dari Jiro!" ucap Penatua Yohan kemudian.


"Ya, nama pria itu Jansen!" Angguk Deliza.


Wajah Penatua Yohan mendadak suram, "Awalnya, divisi Gunung Salju Peri akan benar-benar berada di urutan terbawah, tapi sekarang, dengan kemunculan Jansen, jumlah mayat hidup yang mereka dapatkan pasti akan merangkak naik!"


"Penatua Yohan terlalu berpikir yang macam-macam. Sekalipun Jansen muncul di tengah-tengah cabang Gunung Salju Peri, mereka juga tidak akan mendapatkan banyak mayat hidup. Intinya, yang terbawah tetaplah menjadi yang terbawah!"


ucap tetua yang berasal dari Hongland sembari tertawa terbahak-bahak.


"Tidak semudah itu untuk dikatakan. Kekuatan Jansen sangatlah kuat, setara dengan kekuatan murid senior yang ada di tiap cabang. Awalnya hanya ada Erika di divisi Gunung Salju Peri, sekarang justru muncul Jansen. Pastinya akan terjadi sesuatu yang tidak ada habisnya setelah ini!"


Sebuah suara penuh dengan kekhawatiran terdengar dari kejauhan.


"Kamu hanya meningkatkan status orang lain saja dan menghancurkan prestise dirimu sendiri. Hanya seorang Jansen, apa mungkin dia sebanding dengan Erika!?" ucap salah seorang tetua setelah mendengar suara yang ada di kejauhan.


"Bisa!"


jawab seseorang dari kejauhan.


Tak berselang lama, terlihat sosok Arson yang berjalan perlahan sembari memegang dadanya yang sesak. "Barusan, aku juga sudah dikalahkannya!"


Suasana pun nampak hening sesaat.


Para tetua dan murid nampak terkejut satu sama lain.


Arson adalah murid sekte divisi Hongland yang memiliki kekuatan urutan kedua setelah Cassia. Dan ternyata, dia kalah dari seorang Jansen!


Suami Elena ini kenapa bisa seluar biasa itu!


Itu artinya, muncul seorang master bela diri yang sebanding dengan kekuatan Erika saat ini!


Tidak diragukan lagi, situasi menjadi sangat buruk saat ini.