
Gracia dan yang lainnya mempersilakan Jansen pergi ke tempat lain. Meskipun mereka tidak menemukan bahan ramuan obat herbal berusia seratus tahun, mereka berhasil mendapatkan banyak barang yang langka dan antik, misalnya pedang dinasti Tang dan sebagainya.
Chris ingin membeli pedang baru karena pedangnya telah dibuat patah oleh Jansen.
Jansen berjalan santai dan menemukan tempat yang cocok untuk menjual barang dagangan.
Jansen sebenarnya tidak kekurangan uang, tetapi
uangnya yang hanya berjumlah miliaran juga
tidak tergolong banyak.
Semua uangnya itu dia kumpulkan dari hasil sewa yang didapatkan oleh sewa toko dan PT. Senlena di Kota Asmenia.
Kebetulan, Grup Dream Internasional juga baru memulai bisnis dan kekurangan modal, untuk saat ini bahkan belum punya laba.
Meskipun menjabat sebagai Wakil Direktur Grup Aliansi Bintang, Jansen sendiri juga segan mengambil uang sesuka hati dari perusahaan.
Tujuan dia menjajakan barang dagangan hanya untuk mencoba peruntungan dan mendapatkan bahan ramuan obat herbal yang langka. Kalau pun tidak ada, setidaknya dia bisa mendapatkan sedikit uang.
Dia mulai menjajakan barang-barang seperti Salep Giok Sambung Tulang, Bubuk Giok Es, dan dua jenis Jimat Pelindung.
Selain Jansen, para penjual lain juga menjual barang yang sama.
Namun, para penjual lainnya yang merupakan pendeta Tao ataupun biksu terlihat sangat berbeda dan sangat meyakinkan dibandingkan Jansen.
Sementara itu, Jansen hanya memakai pakaian olahraga dan mirip seorang mahasiswa yang baru lulus kuliah. Dia sama sekali tidak mirip seorang master.
Orang-orang di sekitar melihatnya dan diam-diam tertawa. Apakah dia mirip praktisi dunia Jianghu?
"Ayo, mari-mari! Jimat pelindung, untuk keselamatan keluarga, tolak bala, satu lembar 500 ribu yuan!"
"Pil merah , Pil mimpi, satu butir 800 ribu yuan! Bisa tambah tenaga, bisa buat praktisi makin hebat!"
"Ayo diobral, diobral! Buku Pusaka Sekte Tapak suci, satu buah dijual 100 ribu yuan!"
Terdengar satu per satu suara teriakan para penjual. Barang-barang tersebut sangat unik dan mahal.
Namun, Jansen tahu semua barang itu hanyalah barang-barang yang tidak istimewa. Jimat yang dijual itu pun tidak diberkati. punya efek yang besar meskipun sudah
"Apakah orang ini benar-benar sedang berjualan? Jangan-jangan, dia menjual barang-barang murah yang biasanya dijual pedagang kaki lima di bawah jembatan!"
Setelah menunggu seharian, Jansen akhirnya kedatangan pembeli. Mereka adalah sepasang pria dan wanita. Pakaian mereka terlihat istimewa. Mereka sepertinya adalah orang kaya yang juga seniman bela diri, dan bahkan telah mencapai kemampuan Tingkat Xuan.
"Hehe, Adik, aku lihat orang ini sudah gila gara-gara miskin!"
Pria berpakaian jas itu berkata demikian. Dari penampilan dan bahasa tubuhnya, dia terlihat seperti orang sukses.
Wanita di sebelahnya terlihat seperti seorang wanita karier. Dia menghela napas, "Kasihan juga dia, ayo kita beli satu!"
Kemudian, dia bertanya kepada Jansen, "Jimat ini berapa harganya?"
"Satu juta yuan!"
Jansen ragu sejenak lalu memberi harga yang lebih rendah.
Bagi Jansen, uang sebanyak satu juta tidaklah banyak. Apalagi, jika jimat ini dijual kepada Tuan Hilton dan yang lainnya, harganya bisa lebih dari jutaan.
Jansen pun hanya mencoba-coba menjual barang karena ini adalah pertama kalinya dia datang ke acara pertemuan Terbuka ini.
"Kalau kalian punya bahan ramuan obat herbal yang langka, kalian juga boleh barter!" Jansen menambahkan.
Wanita itu terdiam sejenak lalu tertawa dan berkata, "Kamu ini sudah gila gara-gara miskin!"
Pria berpakaian jas di sebelah wanita itu terus menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ah, jimat kamu ini. Adik seperguruanku mau membelinya dengan harga 100 ribu yuan karena kasihan dengan kamu. Dia mau bantu kamu, tapi kamu malah buka harga satu juta?"
"Kasihan?"
Jansen kesal mendengar perkataan yang cenderung menghinanya ini.
"Adik seperguruanku ini adalah wanita karier di kehidupan biasa. Gajinya saja mencapai delapan juta setahun. Uang 100 ribu itu sangat kecil bagi dirinya, tapi kamu jangan salah, kami kasihan padamu bukan berarti bersedia ditipu kamu!" pria berpakaian jas itu kembali berkata.
"Hei, aku lihat liontin giok ini bagus juga. Aku mau beli buat iseng-iseng. Kasih harga murah ya, seratus ribu, aku mau dua!"
Wanita karier itu menawar harga.
"Satu juta, tidak bisa ditawar lagi!"
Jansen tidak bergeming karena tidak rela jimat yang dikerjakannya dengan susah payah hingga larut malam itu dihargai dengan murah. Kalau pun tidak terjual, dia merasa lebih baik menghadiahkannya ke orang lain.
"Aku tidak mau lagi!"
Wanita itu marah dan menarik pria berpakaian jas itu pergi.
"Aku lihat liontin giok ini tak akan terjual satu pun dalam sehari ini!"
Pria berpakaian jas itu menertawakan Jansen. Dia mengambil Salep Giok Sambung Tulang dan mengamatinya sambil berkata, "Warnanya hitam sekali, baunya pun menusuk hidung, ini salep murahan!"
Mereka sengaja berbuat demikian sebagai bukti bahwa mereka tidak masalah dengan uang 200 ribu yuan. Mereka hanya tidak ingin membeli barang dari Jansen.
Jansen menggelengkan kepalanya, tetapi dia tidak marah karena ini adalah transaksi jual beli yang sangat adil. Pihak pembeli dan penjual harus sama-sama mencapai kesepakatan.
Selain itu, Jimat Pelindung ini dibuatnya sendiri dengan susah payah. Dia juga tidak ingin dikasihani orang lain.
"Hei, Jansen, kamu Jansen, kan?"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tidak asing bagi Jansen. Seorang wanita berambut pendek bersama seorang pria lalu datang menghampiri Jansen.
Pria itu mengenakan setelan jas, usianya sekitar tiga puluh tahun. Namun, bagian dahinya terlihat kasar. Dia sepertinya bukan orang biasa.
Sedangkan wanita ini sudah tidak asing lagi bagi Jansen.
"Felicia Fang?"
Jansen akhirnya ingat.
"Haha, ternyata benar kamu!"
Felicia sangat senang. Dia sudah lama tidak berjumpa dengan Jansen. Mereka berdua terakhir kali berjumpa saat sindikat kriminal luar negeri di gurun pasir. Tak disangka, mereka berdua kembali berjumpa di tempat ini.
"Felicia, apa kamu kenal dia?"
Pria di sebelahnya mengerutkan kening.
"Aku kenal. Dia adalah teman baik aku. Dia juga sangat hebat!"
Felicia tersenyum dan mengangguk.
Pria itu memandang Jansen dari atas ke bawah dan merasa Jansen bukanlah orang biasa, tetapi juga bukan praktisi dunia Jianghu.
"Jansen, kamu sedang jualan ya? Aku beli dari kamu ya!"
Felicia tertarik dengan liontin giok yang dijual Jansen. Dia menduga Jansen sedang kekurangan uang sehingga datang menjual barang dagangan.
"Paman, aku tidak bawa uang, kamu bantu aku bayar dulu!"
Felicia kembali memandang pria di sebelahnya itu.
Pria itu mengangguk, "Aku beli ini lima, itu juga, berapa harganya semua?"
Meskipun liontin giok ini memiliki pengerjaan yang baik, tetapi wujudnya tidak mirip Guanyin sehingga terkesan unik.
"Dua jenis barang ini semua totalnya sepuluh juta!"
Pria itu terkejut, "Liontin giok ini harganya sepuluh juta? Jangan-jangan, ini semua adalah zamrud!"
"Tidak, itu hanya giok biasa, tapi aku sudah menambahkan beberapa jimat!" Jansen menjelaskan.
Pria itu langsung marah.
Dia tidak percaya pada barang-barang dagangan Jansen. Alasan dia membantu membeli adalah karena permintaan Felicia. Namun, Jansen malah sembarang buka harga.
"Astaga, anak ini begitu berani sembarang buka harga. Dia bahkan juga berani dengan temannya sendiri!"
Orang-orang yang berdiri di sekitar ikut menertawakannya.
Pria itu mundur mendengar harga sepuluh juta.
Sebenarnya, harga wajar yang dapat diterima untuk liontin giok itu sekitar satu sampai dua juta yuan. Meskipun pengunjung yang datang adalah orang-orang kaya yang tidak sayang uang, tetapi menjual liontin giok itu dengan harga sepuluh juta yuan tentu sangat tidak bisa diterima.
"Felicia, kamu lihat!"
Pria itu tidak mau ditipu oleh Jansen. Dia terus memandang Felicia.
"Paman, belilah, kenapa tidak beli?"
Felicia tahu alasan Jansen mau menjual dengan harga setinggi ini. Barang-barang mahal ini pasti punya kegunaan besar.
Pria itu marah, tetapi dia tetap membelinya dan berkata, "Aku beli! 15 juta! Bungkus semua barang di sini!"
"Tidak bisa begitu, Salep Giok Sambung Tulang dan Bubuk Giok Es ini harganya sangat mahal, Lima juta tidak cukup!"
Jansen menggelengkan kepalanya. Dia menghitung sepuluh liontin giok lalu menyerahkannya kepada pria itu.
Barang yang dijualnya itu terlihat tidak meyakinkan karena dia tidak menggunakan kemasan apa pun. Dia hanya menggunakan sehelai tali merah.
Pria itu tampak tidak puas. Akan tetapi, dia juga merasa heran apakah Jansen ini seorang penipu. Kalau Jansen memang seorang penipu, Jansen tentu tidak akan ragu menerima harga 15 juta yuan untuk semua barang yang dijualnya. Sebaliknya, Jansen masih tidak mau menjualnya dengan harga itu.
"Terima kasih!"
Felicia menerima dua liontin giok itu dan langsung memakainya di leher. Setelah memakainya, dia langsung terkejut, "Bagus sekali! Rasanya dingin dan sejuk!"
"Jimat yang ditanam adalah Jimat Talisman penenang hati. Saat memakai liontin giok tersebut, berkat efek dari jimat di dalamnya, kita akan kebal dari serangan gaib selain juga dapat membantu kita tidur nyenyak!" Jansen menjelaskan, "Jimat yang satunya lagi adalah Jimat Pelindung yang bisa menolak bala dan menghindari bencana bagi si pemakai!"