
Seperti biasa, Jansen melakukan kaki gunting yang mengancam jiwa ini dengan mudah, namun dia tidak menyangka Tissa tiba-tiba menyerang secara dadakan sehingga dia tidak bisa bereaksi tepat waktu.
Brak!
Keduanya menghantam karpet pada saat bersamaan.
"Jansen, aku tidak berjanji untuk melepaskanmu. Lagi pula, aku selalu terus terang, jika aku suka, maka aku akan melakukannya!"
"Haha, Elena sering salah paham bahwa kamu berselingkuh dengan wanita lain, tapi aku tahu kamu adalah orang yang bersih, kamu juga telah menderita begitu banyak ketidakadilan, bukankah itu pahit?"
"Banyak hal yang telah kau lakukan untuk Elena, datang ke Kota Asmenia, lalu datang lagi ke Ibu kota. Elena membantumu hanya di awal-awal saja, tetapi secara bertahap dia sebenarnya hanya membantu Keluarga Miller, tidakkah kau merasa dirugikan?"
"Karena dirugikan seperti itu, mengapa masih
mengharapkannya? Dengan keunggulan yang kau miliki, banyak gadis yang menyukaimu, misalnya aku."
"Lupa memberi tahu, bahwa aku memiliki pelatihan khusus, dan semua jenis cara dapat memuaskanmu."
Bisa dikatakan, suara Tissa sangat lirih, membuat seseorang merasa candu.
Jansen yang selalu lemah dalam hal ini, hampir tidak bisa menghentikannya.
"Kak Tissa, ayo kita duduk dan mengobrol dengan baik." Jansen tersenyum pelan, "Aku tidak masalah memegang di pinggangmu, tapi kamu harus pamerkan dulu."
"Siapa takut?"
Kak Tissa terkikik.
"Jangan main-main, berdirilah. Kamu dan Elena berteman, jika dia tahu, maka pertemanan kalian akan runtuh. "Jansen menasihati lagi.
"Demi pria yang kamu suka, tidak perlu berteman." Kak Tissa tidak menyerah sama sekali.
Jansen tidak berdaya, dia tetap berjuang keras, meski sulit untuk melawan. Tiba-tiba, dia meletakkan tangannya di pinggang Kak Tissa dan menggelitik dengan lembut.
Benar saja, Kak Tissa tidak bisa menahannya. Awalnya, dia terkikik lalu air matanya mengalir.
"Oke, oke, aku tidak akan datang."
Mau tak mau, dia akhirnya menyerah, dengan wajah merah bak buah apel.
Jansen menggelengkan kepalanya. Dia berdiri dan ingin pergi.
"Jansen, mari bicarakan tentang bisnis."
Lihat Jansen hendak pergi, Tissa duduk kembali.
Hatinya kecewa, pria ini, betapa acuh tak acuh padanya?
Dia percaya pada penampilan dan sosoknya. Jika dia berubah menjadi pria lain, dia akan berkompromi sejak lama.
"Beberapa orang ingin melakukan sesuatu pada Keluarga Miller, tujuannya mereka demi harta Karun milik Keluarga Miller, yang disebut Liontin metode Kultivasi."
Tissa berkata lirih, "Kupikir, sebagai menantu keluarga Miller, jika kau menyampaikan berita itu kepada Kakek Miller, maka akan dapat mempermudah hubunganmu dengan mereka."
Faktanya, Jansen sudah mengetahui berita itu sejak lama. Tapi mempermudah hubungan dengan keluarga Miller?
Tidak perlu sama sekali, bahkan Jansen tidak pernah memikirkan tentang hal ini.
Bagaimana keluarga Miller memperlakukannya ketika dia pertama kali datang ke Ibu kota? Bahkan sampai sekarang dirinya masih memiliki citra yang buruk pada mereka.
Mengapa dia harus menyenangkan keluarga Miller?
Apakah keluarga Miller benar-benar berpikir bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa Elena?
Melihat keheningan Jansen, Tissa menambahkan, "Karakter Elena sangat keras kepala. Meskipun dia salah, tetapi dia
tidak akan mau mengalah padamu, jadi hanya kamu yang bisa menundukkan kepala dan mengakui kesalahanmu."
"Mengapa aku harus mengakui kesalahanku? Aku menyinggung keluarga Miller, apakah itu untuk diriku sendiri? Ini semua tidak selalu untuk Elena."
Jansen dengan dingin berkata, "Enam bulan perjanjian, dia juga membenci keluarga Miller. Setelah kami mencapai tujuan, dia benar-benar berpihak di sisi keluarga Miller, yang membuatku cukup membuat ku jengkel. Selain itu, dia bahkan tidak sadar bahwa dirinya bisa mendapatkan rasa hormat dari keluarga Miller saat ini, adalah berkat aku."
"Aku bisa menyingkirkan serta mendapatkan dunia untuknya. Aku tidak memintanya membantuku, tapi aku tidak pernah menginginkan dia membantu musuh."
"Yang paling membuatku kecewa adalah Elena tidak pernah membicarakan hal-hal denganku, dia juga tidak memikirkan setiap masalah dari sudut pandangku, dan semaunya sendiri.”
"Apa ini bisa disebut sebagai pasangan? Bukankah pasangan seharusnya jujur satu sama lain?"
Tissa tertawa, "Jadi, karakter kalian tidak sama. Jika tidak membuahkan hasil yang diharapkan, mengapa masih bersikeras bersama?"
"Tissa."
Tiba-tiba, Jansen menyela, "Aku tidak tahu tujuanmu, tapi aku tahu niatmu. Kamu ingin aku berpisah dari Elena, jadi kamu memprovokasi hubungan di antara kita."
Wajah Tissa berubah secara dramatis. Jansen, yang lembut beberapa saat lalu, tiba-tiba menunjukkan taringnya pada saat berikutnya, yang membuatnya kurang responsif.
"Tidak!"
"Tissa, kamu adalah calon Raja prajurit. Bagaimana bisa menyukai seseorang dengan seenaknya? Selain itu, kalau tidak salah tebak, kamu juga ketua Grup Pearles, orang kaya ke 11 di
Huaxia. Kalian merupakan bisnis keluarga yang memiliki pendukung plutokrasi di luar negeri."
Bagaimana bisa orang dengan keterampilan dan latar belakang yang begitu hebat bisa tertarik untuk campur tangan di masalah keluarga orang lain?
"Aku tidak tertarik untuk mengetahui tujuanmu, tapi aku hanya mengingatkanmu, jangan main-main denganku."
Ekspresi Jansen tampak dingin, suaranya terdengar seperti datang dari lapisan tanah ketujuh.
Tissa seperti disambar petir, saat hendak membuka mulutnya untuk menjelaskan, tapi Jansen sudah lebih dulu pergi.
"Selain itu, terakhir kali kamu meminta Aidan datang ke Kuil Bulan, kamu bahkan mengeluh bahwa Aidan tidak membantu menyelamatkan orang dan melewatkan kesempatan untuk membahagiakan Elena. Aku juga tahu soal ini. Ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu, telingaku sangat baik. Bergosip di belakang punggung orang, silakan pergi jauh!"
Kalimat terakhir Jansen membuat Tissa menyipitkan matanya.
Tissa tiba-tiba menyadari bahwa pria ini mungkin yang paling sulit untuk ditaklukan, dari pada seorang pria yang telah bermain-main dengannya sepanjang hidupnya.
Karena Jansen sangat rendah hati, sehingga membuat seseorang merasa sangat terbiasa.
Namun, kebetulan dia juga memiliki wawasan tentang segalanya.
"Jansen, aku pasti akan mendapatkanmu!"
Alih-alih marah, Tissa bangkit dengan minat yang kuat, seperti bertemu mangsa langka.
Setelah Jansen meninggalkan hotel, suasana hatinya sangat kesal.
Kata-kata Tissa memang disengaja, tetapi juga
menggambarkan pikiran keluarga Miller.
Meskipun keluarga Miller takut padanya, menantu yang paling memuaskan tetaplah Tuan muda Aidan.
Yang terpenting, Elena justru berdiri di pihak keluarga Miller dan sengaja membuatnya marah.
Apakah ini masih tampak seperti seorang istri?
Tinggalkan saja!
Dengan penuh semangat, Jansen berjalan menuju Aula Xinglin, dan tiba-tiba telepon berdering saat di tengah jalan.
"Jansen, jangan kembali ke Aula Xinglin untuk sementara waktu, Timo mengajak seseorang untuk mencarimu."
Itu adalah panggilan dari Cindy, "Di mana kamu sekarang? Aku akan mendatangimu."
Jansen bahkan lebih marah. Dia hanya ingin menjadi dokter. Mengapa ada begitu banyak orang yang tidak punya mata?
Menunggu sejenak di pinggir jalan, Cindy berlari dengan cemas, "Jansen, jangan kembali ke Aula Xinglin dulu, aku akan menyuruh seseorang menangani masalah ini!"
Cindy tahu, Timo sudah membenci Jansen sejak terakhir kali Jansen membuatnya berlari menuruni gunung dengan telanjang.
Timo memiliki beberapa relasi. Meski markas umum tidak berada di Ibu kota, tetapi keluarganya memiliki banyak relasi di Ibu kota.
"Maaf, aku membuatmu mendapat masalah," kata Cindy, meminta maaf.
"Orang-orang itu tidak ada urusannya denganmu."
Jansen menggelengkan kepalanya dan tetap berjalan ke Aula Xinglin.
"Jansen, jangan kesana!"
Cindy buru-buru menarik Jansen dan berkata dengan cemas, "Meskipun Timo agak takut mati, dia memiliki satu saudara laki-laki yang sangat protektif terhadap kesalahannya. Kudengar bahwa dia adalah Senior Militer Huaxia Utara. Saat tahu bahwa adiknya telah diganggu, dia pasti tidak akan membiarkanmu lolos. Selain itu, keluarganya kaya dan memiliki hubungan yang baik. Ayahnya seorang Pengobatan tradisional di Ibu kota, dan kakaknya memiliki citra yang baik di Ibu kota."