Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 436. Satu Gunung Tidak Boleh Dua Harimau Berkuasa!


"Ah!"


Amanda semakin heran karena Dokter Alfred juga percaya dengan omongan Jansen yang dianggapnya sebagai penipu.


"Kamu ini cerewet sekali, sudah cukup!"


Kesabaran Jansen terhadap Amanda pun sudah habis. Jansen berkata dengan sinis, "Kalau tadi pagi kamu tidak mencegatku, kakak tertuamu yang keracunan itu sudah pasti sembuh. Sekarang kamu lihat, Dokter Alfred saja percaya dengan omonganku, lantas kenapa kamu masih tidak percaya?"


"Kamu!"


Amanda tidak bisa menjawab Jansen.


"Kamu, kamu apa? Kamu tahu tidak, sebenarnya kamu mengalami gangguan hormon endokrin. Apalagi, kamu juga suka makan makanan pedas, dan itu menyebabkan jerawat di wajahmu sulit untuk sembuh selama bertahun-tahun!" Jansen menambahkan.


Kata 'jerawat' langsung membuat Amanda tersinggung, "Kamu!"


"Kamu, kamu apa? Selain hanya sedikit cantik, apa lagi kemampuan kamu? Kamu hanya bisa sok tahu dan sombong. Kamu bahkan tidak percaya dengan orang kepercayaan kakak keduamu. Kamu tidak memiliki hak berbicara di dalam Keluarga Carson!" Jansen menegur Amanda.


Teguran ini membuat Amanda tidak bisa menjawab.


"Kamu tidak percaya keterampilan medisku bukan? Mari kita bertaruh! Jika aku bisa menyembuhkan kakakmu, kamu harus membantuku mencuci pakaian dan memasak untuk aku selama setahun, bagaimana?" Jansen menambahkan.


"Kamu mau aku mencuci pakaian dan memasak? Kamu tahu tidak siapa aku ini?"


Amanda semakin emosi.


"Aku tidak peduli siapa kamu, apa kamu berani bertaruh?"


Jansen berkata dengan nada datar, "Lagi pula, kamu juga tidak rugi jika kalah taruhan ini! Kamu hanya perlu mencuci pakaian dan memasak selama setahun, tetapi kamu juga bisa menyelematkan nyawa kakakmu!"


"Siapa takut! Kalau kamu kalah, kamu juga harus membantuku mencuci pakaian dan memasak selama setahun. Oh ya, aku lihat kamu ini memang orang jahat. Aku akan menusukmu dengan jarum setiap hari!" Amanda berkata demikian sambil menunjuk ke wajah Jansen.


Jansen pun tersenyum karena merasa syarat yang diberikan oleh Amanda juga tidak kejam. Meskipun sifatnya keras kepala, bagi Jansen, Amanda juga termasuk orang yang baik hati.


"Setuju, kalau kamu kalah, aku juga ingin menusukmu dengan jarum supaya orang-orang tidak bisa melihat lagi wajah cantikmu!"


Jansen mengangguk dan setuju, kemudian berkata kepada Arthur, "Kak Arthur, bisakah kamu carikan aku seekor lipan berusia sekitar tiga tahunan?"


"Lipan?"


Arthur terdiam sejenak lalu berkata kepada para bawahannya, "Cepat, lakukan sesuai permintaan Saudara Jansen!"


"Apa yang akan kau lakukan, untuk apa lipan yang sangat menjijikkan itu!" Amanda merasa heran.


"Lipan itu tentu saja untuk ditaruh merayap di wajahmu!"


Jansen tertawa menggoda Amanda, dan lanjut melakukan teknik akupuntur ke tubuh Adam. Jansen menjelaskan, "Kalian tahu kenapa penyakit tuan Adam ini tidak boleh memakai obat anti-inflamasi? Karena reaksi dari obat anti-inflamasi sangat kuat, racun yang ada di dalam tubuh tuan Adam bisa menyebar ke banyak tempat dan merusak organ dalam. Apalagi, racun yang ada di dalam tubuh tuan Adam sudah begitu banyak, kalau racun itu tidak dibersihkan maka Tuan Adam hanya bisa bertahan hidup sampai malam ini!"


"Kamu menyumpahi kakakku lagi, kakak aku tidak keracunan!" Amanda terus memarahi Jansen.


"Warghh"


Saat ini, Adam sedang duduk sambil memuntahkan berbagai kotoran yang berbau busuk. Kotoran yang dimuntahkan itu berwarna ungu. Setelah selesai muntah, raut wajah Adam kembali normal.


Kejadian ini persis sama dengan yang terjadi pagi tadi.


Amanda masih ingin lanjut memarahi Jansen, tetapi dia mengurungkan niatnya.


"Sepertinya ini memang keracunan!"


Dokter Alfred berkata dengan terkejut.


Saat ini, para bawahan Arthur telah berhasil menangkap lipan berusia tiga tahun yang banyak terdapat di pekarangan berbagai bangunan tua di Ibu kota.


Lipan itu dimasukkan ke dalam toples lalu diserahkan kepada Jansen.


"Ah, kamu mau menyuruh kakakku makan binatang menjijikkan ini?" Amanda berteriak ketakutan.


"Diam kamu!"


Jansen memarahi Amanda. Setelah itu, dia mencapit salah seekor lipan dengan tongkat dan menaruhnya di depan Adam lalu berkata, "Tuan Adam, ini ada tiga ekor lipan. Kamu harus menelannya meskipun takut!"


"Hah?"


Adam memang punya wawasan yang luas, tetapi ini baru pertama kalinya dia jumpa dengan metode pengobatan seperti ini.


"Tuan Adam, jika kamu tidak menelan lipan itu, kamu tidak akan bertahan sampai malam ini. Jika kamu menelan lipan itu, mulai sekarang dan seterusnya, kekuatanmu akan segera pulih!" ucap Jansen.


"Baiklah, aku sudah sering diterjang tembakan senjata dan peluru. Aku tidak takut dengan serangga kecil ini!"


Suara aneh terdengar dari tenggorokannya. Dia hampir muntah karena menelan lipan itu hidup-hidup.


Selanjutnya, dia memakan dua ekor lipan yang masih tersisa.


Semua orang merinding ketakutan, hanya Adam si Dewa Perang yang memiliki keberanian seperti ini. Orang lain mungkin akan pingsan jika harus memakan lipan itu.


Detik demi detik waktu berlalu, semua orang terus melihat ke wajah Adam, tetapi mereka belum menemukan keanehan pada wajah Adam.


Emosi Amanda kembali memuncak. Dia merasa Jansen sedang mempermainkan kakaknya, dan ingin memarahi Jansen lagi.


"Gatal sekali!"


Adam tiba-tiba merasakan tenggorokannya gatal dan tidak bisa menahan diri untuk membuka mulutnya!


Seekor lipan yang telah berubah warna menjadi ungu itu merayap keluar mulut Adam, diikuti tiga ekor lipan berikutnya. Setelah jatuh ke tanah, semua lipan itu saling berkelahi.


Lipan berwarna ungu terlihat sedang bertarung dengan tiga ekor lipan lain.


Melihat hal tersebut, Jansen langsung memasukkan semua lipan itu ke dalam toples dan menutup toples dengan rapat agar lipan-lipan itu tidak kabur.


Terdengar suara rintih beberapa ekor lipan itu.


Semua orang merasa terkejut ketakutan.


Amanda bahkan lebih ketakutan lagi, wajahnya pucat dan kedua kakinya gemetar terus tanpa henti.


"Satu gunung tidak bisa ada dua harimau berkuasa!"


Dokter Alfred merenung sejenak dan tiba-tiba mengerti apa makna dari ungkapan ini.


Kemungkinan besar di dalam tubuh Adam sudah ada seekor lipan. Jadi, untuk memaksa lipan itu keluar dari tubuh Adam, maka digunakanlah tiga ekor lipan yang masih hidup untuk dimasukkan ke dalam mulut Adam. Di dalam tenggorokan, semua lipan itu saling berkelahi dan akhirnya mereka semua keluar dari dalam mulut Adam.


"Bagus!"


Jansen menjelaskan kepada Dokter Alfred, "Lipan ini suka tempat yang dingin dan lembab, tetapi daya tahan lipan ini sangatlah kuat. Mereka telah menetap di dalam tubuh tuan Adam. Selain itu, lipan ini juga membawa racun ke dalam tubuh, sehingga tuan Adam terus-menerus keracunan.


Jansen sebenarnya tahu bahwa ada orang yang sengaja ingin mencelakakan Adam dengan berbuat seperti ini, tetapi Jansen tidak mengatakannya secara spesifik.


"Kak, kenapa kamu memakan lipan itu?"


Amanda akhirnya bisa berbicara dan menjerit ketakutan.


Raut wajah Adam juga sedikit berubah. Setelah berpikir sejenak, Adam pun berkata, "Mungkin saat aku bertugas di dalam hutan tropis, aku meminum air gua di sana, sehingga aku keracunan!"


Jansen mengangguk, "Aku khawatir di dalam tubuh tuan Adam masih ada telur lipan, tetapi masalah ini bukanlah masalah besar. Hanya dengan memakan sedikit ramuan obat juga bisa hilang. Akan tetapi, lipan ini sangat sensitif dan pandai Meliuk-liuk berkeliaran di dalam tubuh. Takutnya, lipan ini akan kebal terhadap berbagai jenis obat, sehingga nantinya pengobatan tidak akan efektif."


Setelah berhenti sejenak, Jansen menambahkan, "Sebenarnya, tadi pagi aku hampir memaksa lipan ini keluar, tetapi sayangnya aku diganggu seseorang. Kalau pun sekarang kita mengusirnya dengan jarum akupuntur atau ramuan obat, tentu lipan ini sudah pandai dan kebal, sehingga tidak akan mudah keluar dari tubuh tuan Adam. Itulah kenapa aku baru terpikir untuk menggunakan cara ini!"


"Kamu diganggu?"


Kali ini, Adam dan Arthur sama-sama menatap Amanda dengan wajah masam.


Amanda merasa sangat malu hingga menundukkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak tahu kalau dia benar-benar punya cara untuk menyembuhkan Kak Adam!"


"Kamu ini, kamu ini, kamu hampir mencelakakan kakak pertama!" Arthur mengerutkan kening dan memarahi Amanda.


"Haha, lupakan saja, yang penting tuan Adam sekarang sudah baik-baik saja!"


Dokter Alfred membantu Amanda berbicara, dan memandang Jansen dengan tatapan yang penuh rasa kagum, "Keterampilan medis Dokter Jansen ini memang sulit ditebak. Menurut saya, Dokter Hantu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kehebatan Dokter Jansen!"


Mendengar ucapan ini, Abian Colev, yang berada di sampingnya, langsung merasa tersinggung karena dia adalah murid dari dokter Hantu. Dokter Alfred pasti sedang menyindirnya.


Abian Colev malu bukan main, dan terpaksa pergi dengan kecewa.


"Dokter Alfred terlalu memuji saya, saya hanya kebetulan sangat paham dengan penyakit ini!" ucap Jansen dengan rendah hati sambil tersenyum.


"Dokter Jansen, saya tidak tahu apakah pantas mengatakannya!"


Dokter Alfred bertanya dengan penuh cemas.


"Silakan langsung katakan saja!"


"Saya ingin belajar pengobatan tradisional dengan Dokter Jansen!"


Dokter Alfred memohon Jansen dengan Alfred.