Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 76. Kebersamaan Suami Istri


Makan malam kali ini berlangsung dengan sangat bahagia , dipenuhi dengan suasana kekeluargaan yang harmonis !


" Jansen , kamu dan Elena juga sudah lebih setahun menikah , kapan Ibu bisa menggendong cucu ? "


Setelah makan , Zachary dan Mai mulai mengungkit masalah anak lagi . Jansen dan Elena saling menatap satu sama lain , keduanya sama - sama terlihat canggung .


Elena segera menjawab , " Ayah , Ibu , Jansen baru juga kembali , kalian jangan membicarakan hal ini lagi , biarkan Jansen beristirahat ! "


" Oke , oke , tapi kalian juga harus selalu berusaha ! "


Zachary tertawa dengan keras , dia mengira anak muda takut merasa malu jadi dia berkata lagi ,


"Jansen , kalau kamu merasa tidak mampu , kita bisa pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya . Sekarang ilmu kedokteran sudah berkembang , banyak penyakit berat bisa yang disembuhkan ! "


" Zachary , apa yang kamu bicarakan . Jansen juga dokter , kalau ada masalah masa dia sendiri tidak tahu ? " kata Mai menggerutu .


Jansen merasa semakin canggung , lalu dia berkata tanpa berpikir panjang , " Aku bisa kok , Elena juga tahu"


Wajah Elena seketika memerah , dia menatap Jansen dengan tatapan emosi . Sebenarnya Elena juga tahu , hal ini jugalah yang menjadi alasan kenapa mereka tidur di ranjang yang terpisah . Setelah mendengar ceramah dari kedua orang tua itu , Jansen dan Elena kembali ke kamar mereka . Melihat kamar baru yang sudah beberapa hari tidak dia tiduri itu , Jansen menghela napasnya . Memang rumah adalah tempat yang paling nyaman . Jansen lalu meregangkan pinggangnya dan langsung berbaring di atas ranjang .


" Kamu baru saja pulang , belum mandi malah langsung naik ke atas ranjang . " Elena kembali menggerutu .


Setelah itu , Elena mengambil pakaiannya dan pergi mandi . Di kamar mandi , tatapan mata Elena yang tengah membasahi tubuhnya dengan air hangat terlihat sedikit kosong . Belum lama ini dia baru menyadari status Jansen di mata ayah dan ibunya , Jansen sudah menjadi orang yang tidak tergantikan di keluarganya .


Mengingat - ingat kembali kejadian - kejadian yang terjadi selama waktu yang singkat ini . Di pesta ulang tahun ayahnya , Jansen membuat keluarganya menjadi bangga .


Jansen jugalah yang sudah merebut kembali proyek perusahaan ayah . Sewaktu ibunya terkena kasus penipuan , Jansen jugalah yang membantunya menyelesaikan masalah itu . Begitu juga ketika kasus yang sedang Elena selidiki mengalami masalah , Jansen lah yang membantunya memecahkan kasus itu .


" Jansen , oh Jansen , siapa kamu sebenarnya ! "


Tiba - tiba Elena merasa dirinya sepertinya tidak benar - benar mengenali Jansen . Setelah ingatan Jansen kembali , Elena merasa ada yang berbeda , dia jadi mengagumi Jansen !


Karena rasa kagumnya ini , Elena tanpa sadar jadi lebih bergantung pada Jansen dan juga menjadi lebih penasaran . Bahkan Elena jadi menganggap hal - hal ajaib yang terjadi di sekitar Jansen menjadi hal yang biasa.


Dengan pikiran yang dipenuhi hal - hal baik dan buruk , Elena keluar dari kamar mandi . Melihat Elena yang keluar dari kamar mandi , Jansen lalu mengambil pakaian dan pergi ke kamar mandi . Setelah itu , terdengar suara percikan air mengalir dari kamar mandi .


Elena duduk di depan meja sambil menyeka rambutnya . Tiba - tiba matanya terpaku , Jansen dan dirinya sudah membuat persetujuan , setiap Elena selesai mandi , Jansen tidak boleh menggunakan kamar mandi !


" Jans... "


Elena yang awalnya ingin berteriak akhirnya mengurungkan niatnya . Sudahlah , mereka berdua juga merupakan suami istri , tidak perlu terlalu perhitungan . Lagi pula , Jansen juga tidak mungkin berbuat jahat !


Jansen sama sekali tidak tahu , pada saat yang sama di kamar mandi , hati Jansen menjadi menggebu - gebu begitu melihat baju yang ada di keranjang pakaian . Di keranjang pakaian terdapat stoking hitam yang tadi baru dikenakan oleh Elena , mungkin stoking itu juga masih terasa hangat .


" Tidak boleh , aku tidak boleh berpikiran secabul itu ! "


" Tapi , dia adalah istriku , ini tidak termasuk cabul ! "


Jansen beberapa kali ingin menjulurkan tangannya , namun pada akhirnya dia menahan keinginannya itu , hatinya terasa sangat tertekan .


Selesai mandi , Jansen melihat Elena sedang duduk di depan meja sambil membaca buku .


Jansen berjalan mendekat dan berkata , " Kamu sudah bekerja seharian , lelah ya ? ".


" Iya ! "


Mata Elena terus terpaku pada bukunya , dia berkata , " Sekarang akhirnya aku secara resmi menjadi polisi profesional, tanggung jawabku semakin besar . Setelah kejadian waktu itu , aku merasa aku kurang berpengalaman ! "


Jansen mengatakan hal ini sambil memijat pundak Elena. Elena tak kuasa menahan desahannya , wajahnya menjadi sedikit memerah . Tidak bisa bohong , Elena benar - benar menyukai pijatan dari Jansen, setiap kai Jansen memijatnya , Elena merasa sangat rileks .


Setelah berpikir sejenak , Elena tiba - tiba berkata , " Jansen , kamu jangan pergi lagi ya . Waktu itu aku terlalu gegabah sehingga sampai mengungkit cerai . "


" Oke ! "


Jansen menganggukkan kepalanya sambil tersenyum . Jansen tahu sangatlah sulit untuk membuat wanita yang sedingin es ini berkata seperti itu .


" Terima kasih ! "


Jelas terlihat , Elena sangat senang . Jansen tiba - tiba menyeringai lalu berkata , " Oh iya , waktu itu aku membantumu memecahkan kasus , bukankah kamu seharusnya memberikanku hadiah ? "


Saat mengatakan hal itu , tangan Jansen yang berada di atas bahu Elena menjadi sedikit " Nakal " .


" Tidak boleh ! "


Elena tiba - tiba menahan tangan Jansen , dia menolehkan kepalanya dan mengernyitkan alis sambil menatap Jansen, tatapannya terlihat kukuh . Tatapan ini membuat hati Jansen seperti tercubit , mereka sudah menjadi suami istri , kenapa Elena selalu menolak sentuhannya !


" Jansen , maaf , sekarang masih belum saatnya ! " kata Elena sambil menundukan kepalanya .


Melihat ekspresi Jansen , hati Elena tiba - tiba merasa bersalah .


" Elena , aku tahu , pernikahan kita ini awalnya adalah sebuah kecelakaan . Mungkin sekarang kamu sudah mengakuiku dan sudah sangat puas terhadapku , tetapi aku merasa di dalam hatimu kamu masih menyimpan laki - laki lain ! " kata Jansen .


Seluruh tubuh Elena gemetar , Elena menggigit bibir merahnya tanpa mengatakan apa pun .


" Aku juga tidak menyalahkanmu , aku hanya bisa bilang , kita bertemu bukan di waktu yang tepat . Tapi aku percaya , di hatimu nanti hanya akan ada aku seorang ! " kata Jansen dengan penuh penekanan .


Mata Elena sedikit lembab , dia menganggukkan kepalanya keras - keras . Sebenarnya Jansen juga tidak menyalahkan Elena , bagaimanapun juga , pernikahan mereka tidak disasari oleh cinta , mereka menikah hanya demi mewujudkan perjanjian . Tentu saja akan sulit bagi Elena untuk tiba - tiba menerima Jansen begitu saja .


Namun , Jansen juga merasa sedikit penasaran , siapa laki - laki yang bisa membuat wanita dingin seperti Elena ini tidak bisa melupakannya !


" Kita memang bertemu bukan di saat yang tepat ! "


Elena merenungkan perkataan Jansen barusan , dia juga setuju dengan perkataan ini .


Bagaimanapun juga , dia adalah seorang wanita dengan pemikiran yang sangat tradisional . Dulu dia menyukai seorang laki - laki , tidak semudah itu dia bisa melupakan laki - laki itu . Meskipun kalau sampai dia bertemu lagi dengan laki - laki itu , dia tahu dia tidak akan bisa bersama dengan laki - laki itu , tetapi kenangan yang ada dalam ingatannya tidak semudah itu bisa dihapuskan .


" Jansen, aku juga berharap nantinya hatiku akan dipenuhi oleh dirimu seorang ! " kata Elena dengan penuh wibawa .


" Tenang saja , apakah kamu lupa aku bekerja sebagai apa ? Aku adalah seorang dokter , hatimu yang tersakiti ini juga masih tergolong penyakit , selama itu adalah sebuah penyakit , pasti akan ada cara untuk menyembuhkannya ! " kata Jansen sambil tertawa .


Jansen kemudian mengalihkan pembicaraannya , " Oh iya , organisasi di balik si pembunuh waktu itu sepertinya berbahaya . Kamu sudah menangkap si pembunuh , takutnya organisasi di balik si pembunuh akan mengincarmu , kamu harus lebih berhati - hati ! "


" Tenang saja , ini di Huaxia, bukan di luar negeri , organisasi pembunuh tidak akan berbuat terlalu kejam ! " Elena sama sekali tidak khawatir akan hal ini .


Tetapi Jansen justru menyadari betapa berbahayanya hal ini .


Malam itu mereka baru tertidur saat hari sudah larut . Meskipun mereka tidur di ranjang terpisah tapi mereka saling berbincang - bincang , membicarakan hal - hal yang terjadi saat mereka masih kecil .


Keesokan harinya , kedua orang itu bangun siang , hari itu mereka juga disibukkan oleh pekerjaan . Hari itu adalah hari peringatan satu tahun pernikahan mereka , Jansen dan Elena sepakat bahwa mereka akan memberikan satu hari libur bagi diri mereka untuk menjalani hari sebagai sepasang suami istri .


Melihat Elena tidak ada , saat sarapan pagi Diana berkata , " Kakak Ipar , semalam Kakak tidak melakukan apa - apa , Kakak memang terlalu toleransi ! "