Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 415. Masalah Panti Asuhan!


Panti asuhan di distrik Utara dikenal dengan nama Panti Asuhan Cahaya Harapan, lokasinya cukup jauh dari pusat kota, sehingga hanya bisa dijangkau dengan naik kereta bawah tanah. Setelah selesai makan, Jansen dan Elena pergi ke sana, melewati jalanan pagi yang ramai ditemani sinar matahari, membuat suasana pagi menjadi penuh dengan kehangatan.


Di Ibu Kota, semuanya sangat asing bagi mereka berdua. Akan tetapi, mereka sudah bisa merasakan kehangatan kota ini.


Terutama Elena yang sedang baik suasana hatinya. Meskipun Elena berada di tempat yang penuh dengan bahaya tersembunyi seperti Ibu Kota ini, asalkan ada Jansen, dia sama sekali tidak merasa takut.


"Jika jalan kita panjang dan tak berujung. Kita akan terus berjalan seperti ini dan menua bersama!" ucap Elena sambil tersenyum.


Jansen juga merasakan hal yang sama dan mengangguk lalu berkata, "Aku berjanji akan selalu ada dan menua bersamamu. Seandainya, tidak ada dua orang pengacau di belakang kita itu, semuanya akan menjadi lebih baik!"


Silvia dan Fernando terus mengikuti mereka dari belakang, tetapi raut wajah mereka berdua sangat masam dan jengkel.


Satu jam kemudian, mereka sampai di Panti Asuhan cahaya harapan, dan Jansen sudah membeli makanan ringan sebelum datang. Setelah masuk, mereka membagikannya kepada anak-anak panti asuhan.


Silvia dan Fernando menunggu di luar karena merasa enggan memasuki panti asuhan itu.


"Jansen ini, buang-buang waktu kita saja, sudah tahu dia tidak bisa menyelesaikan masalah panti asuhan ini, tetapi masih saja membawa kita kemari. Dasar tidak berguna!"


"Silvia, jangan khawatir, tunggu saja sampai dia gagal. Keluarga Miller pasti akan mempermalukannya!"


Karena terpikir hal ini, mereka berdua langsung tertawa sinis. Tidak ada seorang pun yang sanggup menyelesaikan masalah panti asuhan yang sudah berlarut lama ini. Bahkan orang-orang Keluarga Miller pun tidak dapat membereskan masalah yang ada, apalagi Jansen yang begitu berani menerima tugas untuk membereskan masalah panti asuhan. Bukankah Jansen sedang cari mati sendiri?


"Terima kasih atas kedatangan kalian!"


Kepala Panti Asuhan menyambut kedatangan Jansen dengan gembira, terutama karena sudah lama tidak ada orang yang mengunjungi panti asuhan ini, anak asuh di sini merasa terasingkan dan mereka semua sangat kasihan.


"Kak Elena, ayo temani aku bermain ayunan!"


Seorang anak mengajak Elena bermain ayunan, Elena pun mengubah raut wajahnya yang biasa dan dingin menjadi ceria menemani anak itu bermain.


"Elena ini, wajahnya dari luar terlihat dingin, tetapi sebenarnya dia baik hati dan polos!"


Melihat wajah istrinya sendiri, Jansen tidak bisa menahan tawa. Jansen tahu kalau bukan karena Keluarga Miller, Elena pasti akan sama seperti gadis-gadis lainnya, pergi pulang kerja, sesekali berbelanja, dan menjalani kehidupan normal layaknya orang-orang biasa.


Namun pada kenyataannya, ulah Keluarga Miller yang selalu mengikat kebebasan Elena ternyata malah memaksa Elena menjadi orang yang lebih kuat.


Tanpa disadari, hal ini juga semakin menambah tekad Jansen untuk bisa menjadi orang yang lebih kuat.


"Tuan Jansen, terima kasih. Panti asuhan ini sudah akan dibongkar, jadi semakin sedikit orang yang datang berkunjung kemari, kalian termasuk orang pertama yang datang mengunjungi anak-anak tahun ini."


Kepala panti asuhan adalah seorang wanita berusia lebih kurang lima puluh tahun. Wajahnya terlihat sangat kelelahan karena selalu mengurus masalah panti asuhan ini.


"Jika panti asuhan ini dibongkar, apakah kalian sudah menyiapkan jalan keluar?" tanya Jansen.


Kepala panti asuhan menghela napas dan menggelengkan kepalanya, "Apa lagi yang bisa kami lakukan? Anak-anak di sini terpaksa pindah ke panti asuhan lain yang akan menerima mereka, tetapi ini akan menambah kesulitan mereka. Mereka sudah tidak punya orang tua sejak kecil, ditambah lagi karakter mereka yang pemurung. Jika mereka pergi ke tempat baru, aku pikir mereka akan kesulitan beradaptasi dengan hal baru dalam waktu singkat, dan ini akan berdampak besar pada kehidupan mereka nantinya!"


Ketika kepala panti asuhan berkata demikian, dia terus marah, "Perusahaan pengembang itu sungguh biadab, tempat tumbuh kembang anak-anak ini bahkan ingin dibongkar oleh mereka!"


"Jangan khawatir, panti asuhan ini didirikan oleh Nenek Miller. Aku datang kemari mewakili beliau, dan aku berjanji akan berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan panti asuhan ini!" ucap Jansen.


Saat dia berbicara, ada suara mobil di luar panti asuhan. Mendengar suara mobil tersebut, anak-anak yang sedang bermain di halaman panti asuhan langsung ketakutan.


"Orang jahat datang, orang jahat datang!"


Mereka berteriak ketakutan sambil menahan tangis.


Wajah kepala panti asuhan berubah terkejut dan langsung pergi Melihat keluar.


"Jansen, apa kamu sudah terpikirkan solusinya?" tanya Elena kepada Jansen setelah menenangkan anak-anak itu. Elena dengan cemas lanjut berkata, "Masalah ini bahkan tidak bisa diselesaikan oleh Keluarga Miller, aku takut!"


"Jangan khawatir, ada aku!"


Jansen tersenyum pada Elena lalu berjalan ke depan pintu gerbang.


"Kalian masih tidak mau pergi!"


"Tuan Gordon, mohon belas kasihannya, Tuan. Kalau panti asuhan ini dibongkar, bagaimana dengan anak-anak ini!" kata kepala panti asuhan dengan cemas.


"Aku tidak mau tahu, aku kemari mewakili Grup Aliansi Bintang. Kalau ada masalah apa, silakan bilang ke mereka. Apalagi, pemerintah daerah akan membebaskan lahan ini. Tidak ada gunanya kalian bersikeras tetap ada di sini!"


Pria paruh baya itu merokok dan berkata dengan nada datar, "Selain itu, aku telah memberimu waktu tiga bulan. Ternyata kalian malah tidak bergegas pindah. Kalian pikir kami ini tidak berani berbuat kejam!"


"Bukan begitu, hanya saja, kami tidak tahu harus bagaimana mengurus anak-anak ini!"


Wajah kepala panti asuhan dipenuhi ketakutan.


"Kasih dia pelajaran!"


Pria paruh baya itu menghembuskan asap rokok dan tak ingin lagi banyak omong kosong.


Seorang preman datang menyerang kepala panti asuhan dengan pipa besi, karena mereka sudah memberikan ultimatum kepada panti asuhan ini agar segera pindah. Mereka akhirnya menggunakan kekerasan untuk mengusir paksa orang orang panti asuhan ini.


Raut wajah kepala panti asuhan berubah seketika, dia hanya bisa menyaksikan pipa besi itu dihantamkan ke arahnya.


Pong!


Namun, tiba-tiba sebuah tangan datang menghadang dan menangkap pipa besi itu, kemudian menariknya dengan kuat dari tangan preman itu. Tubuh preman itu goyah dan langsung terjatuh keras ke tanah.


"Siapa kamu, berani-beraninya kamu ikut campur masalah Grup Aliansi Bintang!"


Pria paruh baya itu terkejut sejenak lalu membuang puntung rokok dan Melihat seorang pemuda yang muncul tiba-tiba itu.


Pemuda itu adalah Jansen. Dia tertawa dan berkata, "Begini, aku datang kemari mewakili Nenek Miller. Awalnya, panti asuhan ini didirikan oleh beliau. Karena itu, aku harap kalian mau berbaik hati, kasihanilah anak-anak ini, mohon berikan mereka tempat tumbuh dengan bahagia!" ucap Jansen sambil senyum.


"Kamu suruh kami beri mereka tempat tumbuh dengan bahagia, kalau begitu siapa yang beri kami kebahagiaan!"


Setelah mendengar nama Nenek Miller, pria paruh baya itu sedikit menahan emosinya dan berkata, "Lahan ini juga sudah disetujui oleh pemerintah daerah. Keluarga Miller tidak punya akte tanah yang sah, tidak ada gunanya berdebat!"


"Hehe, Tuan, jangan salah paham. Dia ini bukan orang Keluarga Miller!"


Silvia, yang sedang menonton pertikaian hebat dari kejauhan, tiba-tiba berkata.


"Ya, aku lihat dia sendiri sepertinya ingin menguasai lahan ini dengan berpura-pura membantu Keluarga Miller berbicara!" ucap Fernando mengompori mereka.


Ini sungguh menjijikkan!


Panti asuhan ini dibangun dengan jerih payah Nenek Miller, sebagai keturunan Keluarga Miller, Silvia dan Fernando bukan hanya tidak membantu keluarga mereka sendiri, tetapi malah membela orang luar.


Jelas, mereka tidak ingin Jansen berhasil menyelesaikan perkara ini.


"Sungguh Hebat, kamu bukan anggota Keluarga Miller, tetapi berani ikut campur masalah ini!"


Pria paruh baya itu semakin marah. Dia mengambil sebatang tongkat besi dari samping dan menunjuk ke hidung Jansen lalu berkata, "Aku akan memberimu kesempatan. Sekarang keluar dari sini, atau aku akan mematahkan kakimu!"


"Aku memang bukan datang kemari untuk kepentinganku sendiri, tetapi demi anak-anak ini!" Jansen masih terus bersikap segan.


"Kamu kira aku ini bodoh!"


Pria paruh baya itu kesal lalu sedikit tersenyum, "Dengar, aku ini dari perusahaan jasa keamanan yang berada di bawah Grup Aliansi Bintang. Perusahaan kami khusus menangani hal-hal yang butuh kekerasan, misalnya penagihan utang, pengusiran paksa. Tidak ada yang tidak bisa kami selesaikan, coba kamu cari tahu siapa kami, aku ini Gordon, semua orang di Ibu Kota tidak ada yang berani ikut campur dengan masalah yang sedang aku tangani!"


Sebenarnya, kumpulan preman ini khusus bergerak di bidang yang abu-abu dan memanfaatkan celah hukum. Hanya saja mereka berada di bawah manajemen Grup Aliansi Bintang.


Sebagai salah satu dari sepuluh grup korporasi terbesar di Huaxia, Grup Aliansi Bintang tentu tidak hanya melakukan kegiatan bisnis dengan legal, terkadang juga melakukannya dengan cara-cara berlawanan dengan hukum.


"Tuan Gordon juga bukan orang sembarangan. Harusnya tidak perlu berbuat begitu kejam terhadap anak-anak ini kan!"


Jansen tidak tergerak dan terus menasihati.