
" Jansen ini anak yang baik hati , jujur , dan memperlakukan kita sebagai keluarganya . Jika Elena salah memilih , ia pasti akan menyesal seumur hidupnya . "
Ibu Mai enggan sekali melihat Jansen pergi . Setelah ia pulang ke rumah dan melihat Elena , seketika Elena marah .
" Elena , ke mana saja kamu hari ini ? Aku hampir saja dibunuh orang . Aku meneleponmu , tapi kamu tidak menjawab ! "
" Bu , aku sedang bekerja . Apa yang terjadi ? "
" Kamu masih mengerti untuk memanggilku ibu ? Jika Jansen tidak datang dan menolongku , hari ini aku pasti tidak akan datang . Kuberi tahu padamu , Jansen adalah menantuku . Tidak peduli apa pun itu , kamu harus mengundangnya kembali . Kalau tidak , aku bukan ibumu . "
Setelah Ibu Mai marah , ia langsung kembali ke kamarnya . Elena terbengong di sana . Kenapa semuanya ada hubungannya dengan Jansen ? Lalu , ia segera bertanya pada Diana , tapi Diana dengan kesal menceritakannya .
Setelah Elena mendengar ceritanya , Elena jadi makin tidak paham . Ia pikir setelah Jansen dianiaya , Jansen pasti sangat membenci keluarga Lawrence. Namun , tidak disangka ternyata Jansen sama sekali tidak membenci keluarga Lawrence. Jansen malah melakukan yang terbaik untuk membantu keluarga Lawrence saat ada masalah .
Dengan perasaan yang campur aduk , Elena kembali ke kamarnya . Kemudian , ia berbaring di atas kasurnya .
" Jansen , aku sangat jahat padamu , tapi kenapa kamu tidak membenciku ? "
" Kamu seharusnya tahu kalau aku sebenarnya tidak bisa menyukaimu . Aku juga tidak mungkin bersama denganmu . "
" Pernikahan kita ini hanya karena kesepakatan para tetua . "
Elena berbicara dengan dirinya sendiri . Ia sadar kalau kehidupannya secara perlahan sudah terbiasa dengan kehadiran Jansen. Keluarganya juga sudah menganggap Jansen sebagai bagian dari keluarganya . Elena tidak tahu bagaimana Jansen melakukannya , tapi tidak bisa disangkal kalau Jansen ada di keluarga Jansen , itu membuat jadi lebih damai dan berwarna . Tidak seperti sekarang yang mana tiap hari dipenuhi dengan kekosongan dan kehampaan .
" Mungkinkah tanpa kusadari , aku sudah menyukainya ? "
" Hanya saja , ini tidak mungkin . Aku masih tidak bisa melepaskannya , hah . Hatiku ini , bagaimana bisa cocok dengan pria lain ? "
" Akan tetapi , Jansen , aku sangat merindukanmu . "
Air mata Elena menetes dan membasahi bantal . Ia menggenggam liontin pemberian Jansen. Tanpa ia sadari , ia pun tertidur . Saat Jansen tidak ada , yang bisa membuat Elena bisa tidur dengan tenang mungkin hanya Liontin giok itu .
Di sisi lain , Jansen juga mengalami kesulitan tidur . Ia memikirkan kembali perubahan setelah ingatannya pulih . Ia menemukan kalau profesi kedokteran adalah misinya . Tanpa ia sadari , ia sudah menolong banyak orang , tapi secara tidak langsung ia juga menolong dirinya sendiri .
Misalnya hari ini , jika ia tidak memiliki keterampilan medis , ia mungkin tidak bisa keluar dari kejadian itu dengan selamat . Untuk keluarga Lawrence, sekarang ibu Mai sudah tidak membenci Jansen lagi , begitu pula dengan Ayah Elena. Sedangkan Diana , sebelumnya gadis ini yang paling membenci Jansen dan sekarang malah sangat percaya pada Jansen . Satu - satunya yang tersisa adalah istri Jansen yang manis , Elena Lawrence.
Memikirkan hal ini , Jansen diam - diam menghela napas .
Keesokan harinya , sebuah ketukan pintu membuat Jansen terbangun . Ia melihat orang yang ada di balik pintu . Dia adalah Bibi yang bertugas untuk memasak , memanggil Jansen.
" Tuan Jansen , ada orang mencari Anda . Dia bilang dia Sekretaris Josep . "
Jansen buru - buru keluar dari vila hanya untuk bertemu dengan Sekretaris Josep yang sudah menunggu dari tadi . Ia takut sudah membuat Sekretaris Josep menunggunya lama . Ia juga tampak tidak sabar bertemu dengan Sekretaris josep .
" Dokter Jansen , ketepatan hari ini Sekretaris Josep punya waktu luang . Jadi , ia ingin mengundangmu . Entah apakah hari ini Dokter Jansen ada waktu luang ? "
Sekretaris itu bisa dianggap sebagai kaki tangan dari orang yang berkuasa di Kota Asmenia , tapi ia sangat sopan terhadap Jansen.
" Pas sekali , saya juga waktu luang . Saya siap - siap dulu ,mohon tunggu sebentar . "
Jansen tersenyum sambil mengangguk . Setelah ia cuci muka dan gosok gigi , ia makan sarapan , kemudian duduk di mobil Sekretaris itu dan pergi ke kediaman Sekretaris Josep.
Tanpa waktu lama , mobil pun berhenti di sebuah vila . Vila ini dibangun di atas gunung . Halamannya yang kecil dipenuhi dengan tanaman pot , seolah - olah vila itu terisolasi dari pusat kota , tapi juga elegan .
Selain itu , saat ini vila ini ramai sekali . Tidak sedikit orang berkumpul di sini . Kalau diperhatikan dengan baik , orang - orang ini adalah orang - orang yang berkuasa di Kota Asmenia . Mereka berkumpul mengelilingi seorang pria tua berambut putih di halaman kecil itu . Mereka berbicara padanya . Pria tua itu mengenakan rompi rajutan , sepatu boots plastik . Meskipun ia tampak lebih tua , tapi semangatnya sangat bagus . Ia memegang cangkul dan menanam sayuran .
" Dokter Jansen! "
Saat ini suara yang akrab terdengar . Ia adalah profesor Oscar . Selain itu , Kepala Riko yang kemarin juga ada di sini . Ia tersenyum dan mengangguk saat melihat Jansen.
" Jansen , akhirnya kamu datang . "
Kemudian , sebuah suara terdengar lagi . Tampak Josep berjalan menghampiri dengan perasaan senang . Ia menyapa Jansen secara pribadi . Orang - orang yang melihat kejadian itu mulai menebak - nebak .
" Josep, dia ? "
Pria tua yang menanam sayuran itu juga penasaran saat melihat Jansen .
" Ayah , ini Dokter Jansen yang pernah aku ceritakan itu . Penyakit kolera di RS Rakyat dia yang menanganinya , " kata Josep memperkenalkan .
" Jadi , dia Dokter Jansen . Haha , tidak kusangka dia begitu muda . " Seketika pria tua itu tertawa .
Tawanya begitu cerah . Itu membuat orang - orang di sana memiliki perasaan yang baik .
" Jansen , ini adalah Guru besar Orlando . Ia baru saja pensiun dari kota . Muridnya tersebar di seluruh penjuru negeri . Beliau juga ayah dari Sekretaris Josep. "
Profesor Oscar berjalan ke arah Jansen dan berbisik padanya memperkenalkan . Jansen mengangguk . Pantas saja orang - orang hebat ini memanggilnya guru besar . Ia buru - buru menyapa dengan sopan ,
" Halo , guru besar Orlando. "
" Jansen, aku mendengar tentangmu dari Josep . Kamu masih muda , tapi kamu sangat jago dalam pengobatan tradisional . Haha . Huaxia benar - benar diberkahi bisa ada kamu yang seperti Dokter TCM , " ucap Orlando seraya tertawa lebar .
" Guru besar Orlando terlalu memuji . Aku hanya tahu sedikit tentang pengobatan . "
" Ke sinilah . Masuk dan duduk di dalam . "
Kerumunan itu mengikuti Orlando masuk ke dalam rumah . Tidak sedikit dari mereka menyapa Jansen. Orang - orang ini bukan kaki tangan Orlando, melainkan kepala polisi .
Sayang sekali , Jansen tidak ada yang mengenal mereka . Jadi , ia hanya menjawab dengan sopan .
Setelah masuk ke ruang tamu , mata Jansen tiba - tiba berkedip . Ia merasa kalau suhu di ruang tamu ini cukup dingin . Ia melihat ke sekitar dan menemukan kalau jendela dari ruangan selain ruang tamu agak gelap . Sepertinya di dinding di luarnya terdapat tanaman yang besar . Kemungkinan ada semacan tanaman merambat .
" Siapa dia ? "
Saat ini ada seorang wanita berusia empat puluhan keluar dari dapur . Ia menatap Jansen dengan heran . Sebagian besar orang yang ada di sana sudah pernah ia temui , tapi ini pertama kalinya ia bertemu dengan orang semuda Jansen .
" Rose , Jansen Scott yang pernah ku ceritakan" Ucap Josep memperkenalkan .
Di saat yang bersamaan , ia berkata pada Jansen ,
" Dia adalah istriku . "
" Halo , Bibi Rose. " Jansen buru - buru menyapa .
Wanita itu masih menatap Jansen penasaran . Sebelumnya ia mendengar dari Josep kalau ada Dokter TCM yang hebat dalam hal pengobatan . Ia pikir kalau dokter itu sudah tua dan memiliki rambut putih , tapi tidak disangka kalau dokter itu begitu muda .
" Rose , kamu jangan meremehkan Dokter Jansen yang masih mudah . Keterampilan medisnya sudah diakui oleh Profesor Oscar , Pak Edi , dan Tuan Reagan Hamer. "
Josep tahu bahwa orang - orang tidak mempercayai Jansen , jadi ia memperkenalkan sedikit tentangnya . Setelah ia berkata demikian , raut wajah orang - orang berubah . Itu karena Profesor Oscar dan dua orang lainnya itu adalah tiga dokter besar di Komunitas Kedokteran Asmenia. Jika mereka memuji Jansen, itu artinya keterampilan medis pemuda ini benar - benar luar biasa.