Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 856. Percikan Air Abadi!


"Kakek, maaf aku datang terlambat!"


Tepat pada saat itu, seorang pemuda jangkung berusia 20-an berjalan mendekat


Langkah pemuda itu terlihat mantap dan gagah. Aura yang luar biasa terpancar dari tubuhnya.


Jansen secara refleks menyipitkan matanya dan menyadari betapa kuatnya pemuda itu. Bahkan, kekuatannya sudah mencapai peringkat Surgawi tinggi.


Menyeramkan!


Bagaimanapun juga, Judge Raja Prajurit nomor satu juga sudah mencapai peringkat Surgawi tinggi!


Jika sekelilingnya diperhatikan lagi, para pengawal Penatua Yiwon juga merupakan ahli yang cakap. Bahkan ada beberapa dari mereka yang juga sudah berada di peringkat Surgawi tinggi.


Jansen tiba-tiba merasa makin penasaran dengan Keluarga Yiwon.


"Harry, kenapa kamu tiba telat sekali?"


Penatua Yiwon menatap pemuda itu dengan raut yang tampak sedikit tidak senang.


"Aku baru saja pergi ke Gunung Changbai dan mengajak Guru ke sini!" jawab pemuda itu sambil tertawa dan melihat ke belakangnya.


Seorang pria tua berjanggut yang mengenakan setelan training berwarna putih berdiri di belakang pemuda itu dengan kedua tangannya berada di belakang punggungnya. Raut wajahnya terlihat sangat tenang seolah-olah dia bahkan tidak ambil pusing jika langit runtuh.


"Master!"


Ekspresi Penatua Yiwon terlihat jelas berubah dan dia berkata dengan sopan, "Terima kasih kamu sudah bersedia datang ke sini!"


"Tidak!"


Pria tua yang dipanggil master itu tersenyum dengan elegan, "Justru aku yang merasa terberkati bisa melihat makam Penatua Yiwon!"


Orang tua itu terlihat jelas bersikap begitu sopan di hadapan Penatua Yiwon.


"Siapa ini?"


Pemuda yang dipanggil Harry itu tiba-tiba melihat ke arah Jansen.


Cindy buru-buru menjawab, "Kak, dia adalah temanku! Dia Dokter Jansen dari Aula Xinglin!"


"Jansen dari Aula Xinglin?"


Ekspresi Harry sedikit berubah. Dia pernah mendengar nama Jansen dan seulas senyum pun tersungging di bibirnya, "Kenapa kamu mengundang seorang menantu yang


menumpang hidup ke sini!"


"Bukan aku yang mengundangnya ke sini, tapi Bibi Levana!" sahut Cindy dengan marah. Dia bisa mendengar nada menghina dari ucapan Harry.


Harry menatap Levana dengan terkejut, "Kenapa kamu mengajaknya, Bibi Levana?"


"Harry, dia adalah temanku. Dia datang untuk membantu mencarikan makam terbaik bagi kakekmu!" jawab Levana dengan nada yang agak dingin. Dia merasa Harry sangat tidak menghormati Jansen.


"Dia?"


Harry menatap Jansen dengan sorot pandangan yang aneh dan tidak bisa menahan tawanya, "Seorang suami pecundang yang berita perselingkuhannya sudah tersebar di penjuru kota itu tahu tentang Feng shui?"


Meskipun sekarang Jansen terkenal, tapi dia tidak berarti apa-apa bagi Keluarga Yiwon!


Sebaliknya, Harry justru sangat menghinanya karena rumor yang mengatakan bahwa dia adalah menantu yang menumpang hidup dan tidak memiliki harga diri.


"Harry, bersikaplah yang sopan!"


Penatua Yiwon sontak menegur cucunya dengan keras.


"Kakek, coba lihat betapa masih mudanya dia! Apa yang pahami tentang Feng shui? Bahkan kurasa kehebatan ilmu pengobatannya itu hanya dilebih-lebihkan!" sahut Harry tidak puas.


"Tuan Harry, Dokter Jansen pasti merupakan seseorang yang luar biasa karena nyonya Levana sendiri yang mengajaknya. Bagaimana kalau kita biarkan saja dia ikut?"


Pria tua yang dipanggil master itu ikut angkat bicara. Dia menatap Jansen dan tersenyum ramah, "Dokter Jansen, aku sudah mendengar banyak tentangmu!"


Jansen balas mengangguk karena ada benaknya merasakan sesuatu yang ganjil. Meskipun pria tua itu bersikap sopan padanya, Jansen tetap bisa merasakan semacam aura permusuhan darinya!


Bukan hanya itu, perasaan ini sangat familier bagi Jansen. Rasanya dulu dia pernah merasakannya!


Oh ya, dia Luciano!


"Karena hari sudah larut, jadi ayo kita pergi bersama-sama!"


Penatua Yiwon menyela pembicaraan, lalu lanjut berjalan.


"Padahal seorang pecundang, tapi malah pura-pura jadi master!"


Harry melirik Jansen dan berjalan pergi sambil mendengus dingin.


Jansen sama sekali tidak memprovokasi Harry, jadi dia merasa sedikit aneh dengan reaksi pemuda itu. Namun, Jansen hanya balas menggelengkan kepalanya dan mengikuti


Levana.


Penatua Yiwon berjalan menyusuri gunung dan masuk hingga ke bagian dalamnya dengan penuh semangat meski fisiknya sudah tua.


"Di sanalah aku biasanya menggembalakan ternak ketika masih kecil!"


"Dulu, suasana saat Tahun Baru terasa sangat meriah karena anggota keluargaku ada banyak sekali. Kami juga mengadakan adu banteng!"


Penatua Yiwon berkata sambil berjalan, sepertinya dia sedang bernostalgia tentang masa mudanya.


"Dokter Jansen, bagaimana pendapatmu tentang daerah di sekitar sini?"


Ketika mereka belum berjalan terlalu lama, pria tua yang dipanggil Master itu menoleh dan menatap Jansen.


Jansen tidak begitu tahu tentang siapa pria tua ini sebenarnya, tapi dia bisa menangkap nada provokasi dalam suara lawan bicaranya.


Jansen melihat ke sekeliling dan berkata, "Tempat ini dialiri sungai di bagian timur dan dilindungi gunung tinggi di belakangnya. Angin sungai yang berhembus pun jadi terhalang oleh gunung. Hujan akan turun saat udara yang


dingin bertemu dengan sinar Matahari. Itu sebabnya hujan sudah beberapa kali turun di saat kita baru saja masuk. Metafisika menamai pola sebentar hujan dan sebentar kering ini dengan sebutan Percikan Air Abadi!"


Semua orang, termasuk Penatua Yiwon, sontak menatap Jansen selagi dia berbicara.


Jansen berkata lagi, "Itu sebabnya kebanyakan orang yang tinggal di sini memiliki kekayaan yang berlimpah!"


Ekspresi Penatua Yiwon dan yang lainnya mendadak berubah. Desa mereka memang kaya dan telah diturunkan dari generasi ke generasi.


Namun, Harry tidak berpikiran sama dan mencibir, "Kedengarannya bagus sekali. Jadi kalau semua orang di kota pindah ke sini, bukankah masing-masing dari mereka akan


jadi orang kaya?"


"Dokter Jansen, ucapanmu itu terlalu mengada-ada!"


Pria tua yang dipanggil Master itu juga tertawa.


Jansen tetap pada pendiriannya dan melanjutkan, "Percikan Air Abadi memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.


Mereka yang tinggal di sini memang akan bernasib baik, tapi tempat ini membahayakan kesehatan mereka karena hujan dibawah matahari memaksa keluar uap air dari tanah dan


pegunungan sehingga uap racun pun muncul. Mereka yang tinggal di sini akan menjadi kaya, tapi sakit-sakitan! Mungkin inilah alasan kenapa semua orang pindah!"


Harry tertawa lebih keras lagi, "Sebentar bilang kaya, sebentar lagi bilang sakit-sakitan! Bagaimana kalau kamu jadi penulis novel saja? Ceritamu bagus!"


"Harry, diamlah!"


Tiba-tiba, Penatua Yiwon menyela sambil mendengus dingin, "Kakek yang tinggal di sini dan bukannya kamu! Kakek lebih tahu keadaan di sini daripada kamu. Kamu lupa bagaimana


bibi ketigamu meninggal? Juga kakekmu dari pihak ibumu? Mereka semua menderita penyakit paru-paru!"


Harry langsung terdiam.


"Dokter Jansen, ilmu metafisikamu telah membuka mataku!"


Penatua Yiwon menatap Jansen lagi, tatapannya lebih sopan, "Aku harap Dokter Jansen bisa membantuku memilih tempat pemakaman yang cocok nantinya!"


"Aku akan berusaha semaksimal mungkin!"


Jansen balas tersenyum.


Amarah Harry pun tersulut saat melihat kakeknya yang bersikap sopan pada Jansen. Hal ini berarti kakeknya memercayai pria itu.


Master yang berada di sebelahnya menyipitkan matanya. Dia diundang untuk melihat Feng shui, tapi dia belum pernah melihat pola yang seperti itu.


Mereka terus mendaki gunung, berjalan melewati tempat tinggal penduduk, dan terus berjalan maju untuk mencari tempat pemakaman.


Tidak lama kemudian, mereka melihat air terjun di depan sana. Ada pula sungai kecil yang mengalir di sepanjang gunung.


"Penatua Yiwon, Feng shui di tempat ini cukup baik. Keempat sisinya dikelilingi gunung, di sebelah kirinya ada piring emas yang menawarkan keberuntungan, dan air mengalir di sebelah kanannya. Bagian depan tampak seperti


ladang bunga yang bermekaran dan gunung di belakang terlihat seperti bantal giok. Pola ini sesuai dengan Feng shui! Kalau kamu dimakamkan di sini, generasi keluargamu


pasti akan makmur!"


Orang tua yang disebut Master itu berdiri di atas batu dan memperhatikan gunung yang dalam, beserta sungai dan air terjun. Sebuah kompas muncul di tangannya dan dia


menghitung jalannya.


"Kakek, dengar apa kata Master!"


Harry langsung merasa sangat senang. Bagaimanapun juga, dialah yang mengundang Master itu.


Penatua Yiwon awalnya tersenyum senang, tapi tak lama kemudian kembali mengerutkan keningnya dan menatap Jansen, "Dokter Jansen, bagaimana menurutmu?"


Jansen juga melihat sekeliling dan berkata dengan datar, "Tempat ini dikelilingi oleh gunung yang mirip naga dan menjaga aula tengah. Ini adalah tanah bagi para kaisar. Mereka yang dimakamkan di sini pernah menjadi kaisar!"


Sekujur tubuh Penatua Yiwon, bahkan pupil matanya, bergetar.


"Kaisar apanya! Memangnya usiamu berapa sampai-sampai membual seperti itu!"


Harry menyela dengan sinis.


Namun, Penatua Yiwon menggelengkan kepalanya. "Apa yang dia katakan itu benar. Nenek moyang kita pernah menjadi kaisar sebuah Dinasti!"


Ekspresi semua orang langsung berubah begitu


mendengarnya.


Mereka tidak menyangka bahwa Keluarga Yiwon dulunya adalah keluarga kekaisaran!


Sepertinya tidak ada nama kaisar dari Dinasti mana pun yang memiliki nama Keluarga Yiwon dalam sejarah!


Kecuali nama mereka diubah karena takut akan sesuatu!