Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 668. Menerima Tawaran Kerja Di Grup Dream Internasional!


"Benar! Tanah itu milik Grup Dream Internasional, mungkin Jansen tidak punya pilihan lain selain mengambilnya kembali karena sedang mengalami kesulitan!" Paman Kedua, Leimin, juga berusaha menengahi


"Apanya yang tidak punya pilihan lain! Bukankah dia adalah bos dari Grup Dream Internasional? Mana mungkin dia tidak bisa menyelesaikan masalah sekecil itu?"


Renata melengkungkan bibirnya dan berkata, "Lagi pula, apa yang Jansen berikan kepada Elena di saat Elena sudah menikahinya dan menemaninya melalui segala kesulitan! Tidak ada mas kawin maupun hadiah pernikahan yang layak! Sekarang karena Jansen sudah keluar dari kesulitan, dia jadi terbawa arus dan tidak tahu diri! Jangan lupa, hukum membagi harta bersama pasangan secara sama rata setelah


bercerai!"


"Bu, apakah kamu sangat ingin kakak Elena bercerai? Lagi pula, perputaran modal Keluarga Miller sedang tidak bagus dan bukankah Kakak Jessica yang menyebabkan masalahnya? Kenapa kamu tidak menegurnya!" Naomi tidak tahan lagi melihat


perdebatan di keluarganya.


"Ya ampun, dasar gadis satu ini! Kamu masih saja membelanya!"


Renata mengancam hendak memukul putrinya.


Elena tidak ingin ada keributan di keluarganya, jadi dia segera mengambil keputusan, "Sudahlah, nanti aku akan menelepon Jansen dan meminta bertemu!"


Renata dan yang lainnya langsung menyanjungnya dengan mengatakan bahwa Elena adalah anak yang paling menjanjikan di antara semua putra dan putri Keluarga Miller.


"Kak Elena, bagaimana kalau aku pergi ke Grup Dream Internasional besok untuk menanyakan tentang uang hadiah bagi Keluarga Woodley?" Ricky tiba-tiba menyela, "Lihatlah, aku sudah tidak muda lagi! Aku sudah susah payah berhasil mendapatkan seorang wanita, jadi aku tidak bisa gagal di sini!"


"Pergilah, mintalah uang itu kepada kakak ipar mu. Beritahu padanya bahwa jangan berani-beraninya dia berpikir untuk mencari Elena lagi kalau dia tidak mau memberikan


uangnya!"


Renata berkata menyumpah seolah-olah Jansen harus memohon agar bisa tetap tinggal di sini.


Elena menghela napas. Meski Jansen merasa dirugikan, dia tetap harus lebih bermurah hati demi keharmonisan mereka sebagai suami dan istri.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali di kantor pusat Grup Dream Internasional.


Kantor pusat itu adalah sebuah gedung pencakar langit dengan air mancur yang besar di pintu masuknya. Gedung itu terlihat sangat megah.


Satu per satu yang mengenakan jas maupun rok berjalan masuk dengan senyuman yang tersungging di wajah mereka. Mereka merasa bangga bisa bekerja di Grup Dream Internasional.


Dua orang wanita cantik sedang berjalan menuju gerbang.masuk. Mereka semua berpakaian formal, dengan stoking sutra, sepatu hak tinggi, serta setelan rok kerja.


Mereka adalah Diana dan Laras yang sama-sama baru saja lulus kuliah. Mereka sangat gugup karena ini adalah pertama kalinya mereka datang untuk melamar kerja.


"Diana, kenapa kakak iparmu tidak datang?"


"Untuk apa dia datang? Kurasa dia waktu itu meminta kita datang untuk melamar pekerjaan demi menyemangati kita!"


Mereka berdua berjalan masuk sambil mengobrol dan tepat pada saat itu, sebuah suara yang akrab pun terdengar, "Laras! Diana! Ternyata kalian benar-benar datang untuk melamar!"


Anzel yang mengenakan setelan jas berwarna biru pun datang menghampiri. Rambutnya disisir rapi ke belakang dan dia terlihat sangat bersemangat.


Diana dan Laras langsung menyipitkan mata mereka. Mereka memiliki kesan yang buruk terhadap pria itu.


"Kalau kalian ke sini untuk melamar, biar aku yang antar kalian!" kata Anzel mengambil inisiatif


Diana dan Laras saling melirik sebelum akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala mereka.


Saat menaiki lift menuju lantai 13, pandangan mereka menyapu sekeliling. Mereka melihat begitu banyak pelamar yang semuanya masih sangat muda. Kebanyakan dari mereka sudah memiliki pengalaman kerja selama setahun dua tahun!


Mereka juga memiliki kualifikasi akademik yang hebat, seperti gelar master, gelar doktor, dan lain sebagainya.


Diana dan Laras tidak memiliki latar belakang akademik yang sehebat mereka.


"Diana, Laras, kalian sudah datang!"


Irish dan yang lainnya datang ke koridor dengan cangkir kopi di tangan mereka. Anzel memberi tahu mereka sebelumnya dan segera datang untuk melihat keseruan itu.


"Kalian tidak perlu gugup. Isi saja resumenya dan tunggu dipanggil untuk wawancara!"


Irish tersenyum dan berujar menghibur, "Kami waktu itu hanya perlu sekali wawancara dan sudah bisa bekerja tiga hari setelahnya. Kalian tidak perlu khawatir, Maxime adalah manajer divisi di sini dan koneksinya luas. Dia hanya


perlu membujuk divisi HRD dan kalian pasti akan lulus wawancara!"


"Benarkah?"


Diana dan Laras merasa sedikit bersemangat. Bohong kalau mengatakan mereka tidak tergiur dengan lingkungan kantor Grup Dream Internasional yang modern yang mereka lihat di


sepanjang perjalanan ke sini sebelumnya!


Saat ini, Maxime sedang berbicara dengan seorang manajer, "Tuan Hengky, Laras ini adalah temanku! Tolong bantu, ya!"


Manajer yang dipanggil Tuan Hengky itu tertawa, "Jangan khawatir, aku pasti akan mengabulkan pemerintaanmu, Manajer Anzel. Oh ya, gadis bernama Diana juga menyerahkan resumenya bersamaan dengan Laras. Apa kamu mau dia diluluskan pula? Menurutku dia memiliki pencapaian akademik yang bagus. Kalau mengikuti prosedur yang semestinya, dia bisa diterima selama lulus wawancara!"


"Tentu saja tidak boleh!"


Maxime menggelengkan kepalanya, "Laras saja yang diterima!"


Manajer Hengky tertegun sejenak dan langsung mengangguk.


Divisi yang dipimpin oleh Maxime adalah yang unggul di perusahaan ini, jadi ada banyak manajer yang memiliki kesan baik terhadap Maxime. Oleh sebab itu, mereka pasti akan


memberikannya bantuan yang dia minta!


Manajer Hengky pun keluar sambil membawa para resume pelamar dan memanggil nama mereka satu per satu.


"Aku lulus? Tidak perlu wawancara?"


Laras sangat terkejut saat mendengar namanya disebut.


Gadis yang ada di sampingnya nampak iri.


"Selamat, Laras!"


Diana meraih tangan Laras dengan gembira dan mengerutkan keningnya, "Sepertinya namaku tidak dipanggil Apa itu berarti aku harus diwawancara?"


"Apakah kamu Diana? Aku sudah membaca resumemu dan semuanya bagus. Hanya saja, kami minta maaf sekali tidak bisa menerimamu karena jurusan kuliahmu berbeda dengan kualifikasi Karyawan yang kami butuhkan!"


Manajer Hengky datang menghampiri dan mengembalikan resume itu ke Diana.


Diana langsung tertawa dengan kikuk, "Manajer, aku tidak perlu mengikuti wawancara? Jurusanku sangat spesifik dengan lowongan pekerjaannya, bukan?"


"Maaf, perusahaan tidak membutuhkannya untuk saat ini!"


Manajer Hengky menolak sambil tersenyum.


Melihat Diana yang tidak diterima untuk bekerja, Laras pun mengerutkan keningnya dan berkata, "Manajer, jurusan kuliahku sama dengan Diana! Kenapa aku bisa lulus tanpa perlu wawancara?"


"Ah, itu..."


Manajer Hengky hanya bisa tertawa kikuk.


"Biar aku saja yang menjelaskan!"


Irish tiba-tiba datang menghampiri dan berkata sambil memainkan kukunya, "Diana, kamu tersingkir karena saudara iparmu. Bukankah kakak iparmu sangat pandai berpura-pura? Kalau dia memang bisa, coba kita lihat apakah Keluarga Miller akan mengulurkan tangan mereka untuk membuatmu diterima bekerja di Grup Dream Internasional!"


"Laras bisa lulus karena dia lebih pandai menjadi manusia daripada dirimu!"


Raut wajah Diana langsung menjadi tidak enak dilihat. Ternyata ini karena ada campur tangan Irish. Diana pun berkata dengan marah, "Irish, kita ini lulus dari satu universitas yang sama! Walaupun kita bukan teman sekelas, tapi kita teman satu universitas! Kamu licik sekali kalau hanya menindasku seperti ini!"


"Memangnya kenapa kalau aku hanya mau menindasmu? Jangan lupa betapa sombongnya kakak iparmu kemarin!" Irish balas mencibir.


"Diana, sebaiknya kamu pergi. Kuberitahu, ya, kamu tidak bisa masuk ke Grup Dream Internasional karena Irish tidak terlalu menyukaimu. Tidak usah merasa ini semua tidaklah adil. Ini yang namanya realita dalam bermasyarakat, tidak ada yang namanya perlakuan yang adil!" Maxime juga datang menghampiri dan berkata, "Bisa dibilang, aku yang mengatur siapa yang tetap bisa bekerja di Grup Dream Internasional dan siapa yang harus pergi dari sini!"


"Kamu pasti akan mendapatkan balasannya!"


Diana mendengus dingin dan berjalan pergi.


Para gadis yang menunggu untuk melamar pekerjaan itu diam-diam bersukacita. Kehidupan bermasyarakat memang sangat kejam. Satu pesaing pun berkurang yang merupakan sebuah keuntungan bagi mereka yang ingin bekerja di Grup Dream Internasional.


"Aku juga pergi saja!"


Laras berkata tanpa keraguan sedikit pun dan bergegas mengikuti Diana pergi.


"Laras, pekerjaan inilah yang diinginkan oleh jutaan orang. Inilah kemampuan yang kamu butuhkan untuk bisa tinggal di Ibu kota! Kalau kamu melewatkan kesempatan ini sekarang kamu pasti akan menyesalinya!" Anzel tersenyum dan berkata, "Apa kamu ingin kembali ke Kota Asmenia yang kecil itu dan menghabiskan seumur hidupmu menjadi pegawai rendahan di sana?"


"Aku tidak percaya tidak ada tempat yang cocok untuk kami di Ibu kota selain Grup Dream Internasional!" sahut Laras dan dia berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.


Anzel segera menggelengkan kepalanya, "Baiklah, terserah padamu saja. Kamu punya nomorku, 'kan? Aku akan menunggumu menghubungiku kapan saja!"


Setelah itu, Anzel berkata kepada Diana yang sedang berjalan pergi, "Begitu pula denganmu, Diana! Tidak usah mengandalkan kakak iparmu. Dia tidak bisa mencampuri urusan di perusahaan ini!"