
"Stok sudah mau habis. Aku tidak jual lagi!"
Jansen melirik kedua orang itu dan hanya menggelengkan kepalanya. Jansen menawarkan mereka untuk membeli tadi, tetapi mereka tidak mau. Kenapa sekarang baru mau beli?
Sudah tidak bisa lagi!
"Sepuluh juta!"
Pria itu berkata dengan kesal.
"100 Juta pun aku tak mau jual! Ini Jimat Pelindung punya aku! Aku tidak butuh rasa kasihan kalian!"
Jansen dengan dingin menolak untuk menjual kepada mereka. Dia menjual semua jimat yang tersisa kepada orang lain dengan harga yang sama, satu lembar satu juta.
Semua orang semakin percaya dengan Jimat Pelindung tersebut karena Jansen tidak bergeming meskipun telah ditawari uang lebih.
"Sisa dua lagi, aku beli!"
Felicia berhasil merebut dua buah liontin giok yang tersisa. Setelah itu, dia pun tersenyum lebar.
"Kamu sangat hebat!"
Pasangan pria dan wanita itu sangat menyesal dan merasa dipermalukan karena Jansen tidak bersedia menjual ke mereka meskipun mereka mau membayar dengan harga sepuluh juta. Jansen malah bersedia menjual ke orang lain dengan harga satu juta.
"Kamu lihat saja!"
Mereka berdua pergi dengan marah.
Jansen juga tidak menghiraukan mereka, apalagi mereka tidak ada apa-apanya di mata Jansen.
"Jansen, tadi terima kasih ya!"
Felicia menyimpan liontin giok itu. Dia menatap Jansen dengan penuh rasa terima kasih, "Kamu lagi-lagi menyelamatkan nyawaku!"
"Terima kasih!"
Pria di sebelahnya juga berterima kasih kepada Jansen, meskipun dia terlihat agak malu.
"Tidak apa-apa!"
Sebenarnya, jimat ini punya persentase keberhasilan tertentu dalam menghadang peluru.
Hanya jimat yang dipakai Elena saja yang punya persentase keberhasilan hingga seratus persen.
"Kami akan kembali menjalankan tugas dulu. Kamu sekarang tinggal di mana? Kalau ada waktu, aku akan mencari kamu!"
"Ibu kota!"
Setelah mereka berdua bertukar alamat, Felicia pun pamit dan pergi.
"Tuan, sebaiknya kamu cepat pergi!"
Biksu Dharma Jue yang berdiri di samping tiba-tiba berkata, "Ada banyak barang langka di acara pertemuan Terbuka. Hal ini pasti akan menimbulkan kehebohan!"
Jansen mengangguk setuju. Lagi pula, dia tidak ingin ada terlalu banyak orang yang mengincar dirinya.
Biksu Dharma Jue mengikuti Jansen pergi. Dia berjalan dengan pincang, tapi tubuhnya tetap stabil dan kuat. Ini berkat Salep Giok Sambung Tulang.
"Anak Muda, bagaimana dengan liontin giokmu?"
Setelah berjalan sejenak, Biksu Dharma Jue tiba-tiba bertanya.
Jansen segera tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Biksu Dharma Jue. Dia pun tertawa, "Liontin giok itu dibuat oleh seorang senior di perguruanku. Aku hanya membantunya menjual!"
"Ternyata begitu ya!"
Biksu Dharma Jue sedikit kecewa karena Salep Giok Sambung Tulang sudah tidak bisa diwariskan lagi. Meskipun demikian, dia juga berharap bisa mempelajari cara pembuatan Jimat Pelindung tersebut. Namun, Jansen sendiri sayangnya juga tidak tahu.
Jimat Pelindung itu dibuat oleh seorang guru Jansen. Kalau begitu, Jansen tentu punya latar belakang yang luar biasa!'
"Sudah, sampai sini seharusnya baik-baik saja!"
Setelah melewati satu jalan, Biksu Dharma Jue berkata demikian lalu pamit dan pergi.
Jansen melambaikan tangan saat berpisah dengan biksu itu. Jansen tentu tahu apa yang dipikirkan Biksu Dharma Jue. Jansen tidak sebodoh itu. Jika Jansen berterus terang bahwa dia sendiri yang membuat jimat itu, tentu saja para praktisi dunia Jianghu akan mengincarnya.
Meskipun kekuatan Jansen saat ini sudah kuat, tetapi Jansen masih belum terbiasa dengan dunia Jianghu. Oleh karena itu, Jansen sebaiknya lebih berhati-hati.
"Jansen, kamu dimana?"
Gracia tiba-tiba menelpon.
Jansen bertanya di mana mereka berada lalu berjalan ke tempat mereka. Lima menit kemudian, dia melihat Gracia. Setelah berbincang sejenak, Jansen baru tahu bahwa Gracia telah menemukan Polygonum Multiflorum yang berusia seratus tahun.
Jansen melihat sekilas dan mengangguk. Itu memang Polygonum Multiflorum yang berusia seratus tahun. Ini berarti Gracia hanya butuh mencari gadoderma yang berusia seratus tahun.
Sedangkan untuk daun taisui, Jansen juga sudah mendapatkannya.
Secara keseluruhan, Jansen berhasil mengumpulkan banyak uang dari penjualan Jimat Pelindung.
"Haha, aku menemukan kalian!"
Tiba-tiba terdengar suara yang sangar dari kejauhan. Mereka berdua adalah seorang pria tua yang berpakaian seperti Pendeta Tao dan seorang pria berjanggut kuat dan kekar yang mirip petani.
"Paman Guru, itu dia orangnya. Dia yang membuat Polin dan yang lainnya ditangkap oleh orang-orang Sekte kongtong!"
"Kalian rupanya!"
Orang tua itu memiliki ciri-ciri berbadan kurus, berjanggut panjang, rambut beruban dan berantakan. Namun, Jansen tahu bahwa dia memiliki kemampuan yang lumayan kuat, setara Tingkat Bumi.
"Anak Muda, kamu sudah cari masalah dengan anggota kami. Kalau kamu masih mau hidup, serahkan uang satu miliar!"
Mendengar perkataan ini, Gracia dan yang lainnya baru sadar ternyata orang-orang ini adalah teman dari komplotan penipu tadi. Mereka sepertinya merupakan anggota Sekte Tieling.
"Satu miliar? Kamu pergi rampok saja kalau mau!"
Chris berkata dengan sinis.
"Tampaknya nyawa kalian ini tak ada harganya
dibandingkan uang satu miliar?"
Orang tua itu menyipitkan matanya dan berkata sambil tertawa sinis, "Ya sudah, aku terpaksa bunuh kalian!"
Tak lama kemudian, dia memandang Gracia dari atas ke bawah dan berkata, "Gadis ini lumayan juga, bawa dia kembali ke markas sekte untuk dijadikan pelayan!"
Pria kekar berjanggut yang berdiri di sampingnya menunjuk ke arah Jansen dan berkata, "Guru, gara-gara anak muda itu, kakak-kakak seperguruan jadi terbunuh!"
"Anak muda itu pasti akan mati, aku akan mencabut tulangnya!"
Orang tua itu mengumpat sambil menatap Jansen dengan tatapan penuh kebencian.
Jansen mengerutkan kening, "Mau bunuh aku?"
Jansen melihat sekeliling dan ternyata masih ada praktisi dunia Jianghu lain, namun mereka hanya diam dan ikut menonton.
"Dasar bodoh! Kamu memang harus mati. Kalau hebat, coba saja lapor polisi. Dunia Jianghu punya aturan tersendiri. Tidak ada gunanya kamu lapor polisi!" pria kekar berjanggut itu berkata demikian sambil tertawa.
Jansen berpikir sejenak dan dia akhirnya sudah paham.
Masalah dunia Jianghu hanya bisa diselesaikan dengan cara dunia Jianghu. Tidak ada gunanya lapor polisi untuk urusan ini. Apalagi, daerah sini adalah daerah pegunungan. Saat polisi datang, orang-orang ini sudah terlebih dahulu kabur.
"Hadapi aku dulu sebelum melawan Tuan Jansen!"
Chris dan adik seperguruan langsung maju menyerang dengan berbekal pedang. Mereka berdua menggunakan teknik pedang dari Sekte Qiankun.
"Pedang kembar yang mematikan? Thomson sekte Qiankun, apa hubungan mu dengannya?"
Raut wajah orang itu sedikit berubah. Dia bertanya dengan pelan.
Chris dan adik seperguruan tidak menjawabnya. Mereka langsung menyerang orang tua itu dengan pedang.
"Kurang ajar! Hanya karena kalian anggota Sekte Qiankun, lantas aku harus takut dengan kalian? Sekte Qiankun cuma sekte kecil, bagian dari Sekte Delapan Satu, kekuatannya masih di bawah Sekte Tieling!"
Orang tua itu membentak mereka lalu mengerahkan tenaga dalamnya.
"Jurus Racun Besi!"
Dia mendorong dengan telapak tangan hingga muncul angin kencang. Angin ini disertai butiran besi yang memiliki bau mematikan.
"Gawat!"
Raut wajah Chris berubah. Dia menarik adik seperguruannya untuk menghindari angin kencang itu.
Saat itu juga, orang tua itu datang menghampiri mereka berdua dan menyerang dengan hantaman telapak tangan.
Buk, Buk, Buk!
Mereka berdua akhirnya kalah dengan pedang yang terlepas dari genggamannya.
Namun, pengawal Gracia juga ikut membantu. Dia memang terlihat seperti wanita biasa, tapi punya kemampuan yang lihai. Selain itu, dia juga menguasai ilmu bela diri Judo modern. Dia sangat mengerikan.
Tak lama kemudian, dia akhirnya jatuh dan bergulat dengan orang tua itu.
Para praktisi dunia Jianghu yang menonton di sekeliling ikut berkomentar. Selain energi Qi, wanita itu juga memiliki pengalaman bertarung dan kemampuan refleks yang sangat baik.
Dia memiliki bakat bela diri yang luar biasa.
Namun, tak peduli seberapa hebat keterampilan eksternal yang dimiliki, yang paling berpengaruh adalah energi Qi.
Orang tua itu sengaja memberikan celah untuk diserang, saat pengawal wanita itu terkecoh, orang tua itu langsung menyapu kakinya dengan tendangan.
Bruk!
Pengawal itu juga kalah.
"Guru memang luar biasa!"
Pria berjanggut itu langsung tersanjung dan menatap Gracia lalu berkata, "Guruku adalah seorang pendeta Tao pemimpin dari Sekte Tieling. Kamu boleh jadi pelayan guruku karena itu adalah berkah bagimu seumur hidup!"
Kemudian, dia memandang Jansen dengan jijik, "Wah, ayo cepat kemari, kamu tidak ingin mati juga!"
Jansen menggelengkan kepalanya karena merasa ada seorang lagi yang datang cari mati. Saat Jansen hendak menyerang, tiba-tiba muncul suara marah dari seseorang.
"Hantu Cardinan, kamu berani melukai muridku!"
Cahaya silau pedang pun muncul.