Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 842. Mengasingkan Diri!


Bab. 842. Mengasingkan Diri!


"Jansen, ayo mandi bersama!"


Setelah Elena merapikan pakaiannya, dia berjalan menuju kamar mandi.


"Bersama?"


Hidung Jansen mengepulkan asap, kalimat itu sangat menggoda!


Bahkan dia sudah bisa membayangkan adegannya!


Apalagi Elena memiliki tubuh yang terbaik di antara para wanita yang dia kenal.


"Jansen risletingnya macet, kemari bantu aku menariknya!"


Suara lain datang dari kamar mandi.


Brak!


Jansen menggunakan Delapan Trigram. Aliran darah di kakinya mengalir dengan cepat dan uap naik!


Bahkan tidak sampai satu detik, dia sudah datang di pintu kamar mandi.


Dia melihat Elena melepas stoking sutra hitamnya.


Tapi di dunia ini, selalu ada satu hal yang paling membuatnya kesal.


Itu adalah panggilan telepon di saat yang penting!


"Dring dring dring!"


Ponsel yang ada di atas ranjang berdering dan karena Elena bosan akhir-akhir ini, dia memeriksa ponsel Jansen dan juga sekalian menyesuaikan nada dering untuknya!


"Sebenarnya kamu mencintaiku atau tidak?"


Mendengar nada dering ini, wajah Jansen menjadi suram, "Cinta sialan!"


"Cepat angkat, mungkin itu telepon penting!"


Terdengar suara Elena dari kamar mandi.


Jansen sudah tidak sabar ingin menghancurkan ponsel itu. Hal penting apa lagi sekarang? Aula Xinglin sudah stabil, Grup Impian Internasional juga sudah berjalan di jalurnya, Tissa hilang dan Aidan bahkan sampai tidak berani untuk kentut, masih ada siapa lagi!


Setelah menjawab telepon, sebenarnya itu adalah panggilan dari Penatua Jack, "Eh, Jansen, kenapa lama sekali angkat teleponnya!"


"Jika ada masalah katakan saja!"


Nada bicara Jansen sangat tidak enak.


Penatua Jack terkejut. Apa Jansen habis makan bubuk mesin? Dia tersenyum canggung dan berkata, "Ini bukan masalah besar. Judge Raja Prajurit ingin mengundangmu, dia sudah


beberapa kali bertanya padaku. Oh ya, Naga Hijau juga akan datang. Sisanya akan datang di sore hari untuk menghadiri acara penghargaan!"


"Aku mengerti!"


Jansen menutup telepon itu dengan marah.


"Sial, apa anak ini tidak tahu bagaimana menghormati yang lebih tua dan mencintai yang lebih muda?"


Di sisi lain Penatua Jack menjadi kesal.


"Ada apa?"


Saat ini Elena juga keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambutnya dengan handuk.


Tiba-tiba Jansen langsung mengangkat kepalanya, dia sudah melewatkan kesempatan!


"Tidak ada, hanya menyuruh kita pergi ke acara penghargaan sore ini!"


Setelah mengatakan itu Jansen mulai merapikan barang-barangnya.


Sore harinya, enam komando daerah militer berkumpul untuk mempersiapkan acara penghargaan itu.


Dalam tugas kali ini beberapa kandidat Raja Prajurit dan rekan-rekan Tim Operasi Khusus meninggal, acara ini juga untuk menghargai mereka.


Selain itu para petinggi juga sudah memutuskan beberapa calon Raja Prajurit baru. Tentu saja, semua daerah militer sudah memberikan kontribusi besar dalam tugas ini. Sulit untuk menentukan peringkat pertama dan kedua, tetapi secara keseluruhan Wilayah Militer Huaxia Utara memiliki kontribusi paling banyak.


Bagaimanapun antibodi virus ditemukan di sana, ini adalah hal yang paling penting!


"Lapor, Jansen sudah pergi dan meninggalkan sebuah surat!"


Saat ini seorang prajurit berlari dan berkata.


Alexander dan yang lainnya semuanya berwajah muram.


Alexander memarahi, "Tidak tahu aturan, apa seorang prajurit boleh datang dan pergi sesuka hatinya?"


"Alexander, sudahlah. Anak itu adalah raja yang belum memakai mahkota. Bagaimanapun, semua orang tahu kalau dia sudah memberikan kontribusi besar!" Pria tua berkulit hitam dari


"Anak itu, kurasa dia ingin mengasingkan diri!"


Penatua Jack yang sangat mengenal Jansen juga berbicara membela Jansen, "Bagaimanapun, dia sudah berkorban begitu banyak untuk Huaxia, jadi biarkan dia egois untuk sekali!"


"Raja Prajurit mengasingkan diri?"


Beberapa ketua mengerutkan keningnya, mereka merasa itu terlalu menyia-nyiakan bakat.


Melihat wajah beberapa Ketua, Penatua Jack melanjutkan,"Jangan khawatir. Ketika Huaxia dalam kesulitan, raja yang tidak dimahkotai ini pasti akan kembali. Hanya saja ambisinya ingin menjadi dokter!"


Alexander juga menghela napas dan berkata, "Huh, bagaimana aku bisa marah padanya? Aku hanya merasa itu tidak adil baginya, jadi aku ingin dia menerima lencana!"


"Dia tidak suka ketenaran atau uang. Dia hanya ingin menjadi dokter yang baik!"


Penatua Jack berkata perlahan, "Apalagi tugas ini sudah selesai dengan baik. Mengalahkan beberapa kelompok tentara bayaran di luar negeri dan mengalahkan banyak master dan


menarik perhatian dunia luar. Jika Jansen tidak keluar akan lebih baik, ini bisa melindunginya!"


Semua orang tua itu mengangguk. Bisa mencegat H12 sendirian, ini tidak berarti apa-apa. Lagi pula, kelompok militer lain juga mencegatnya!


Sebaliknya, itu adalah masalah antibodi. Jika organisasi di balik H12 tahu kalau darah Jansen memiliki antibodi, mereka pasti akan mengincar Jansen.


"Begini saja, hapus nama Jansen dalam masalah ini. Seluruh proses tugas ini juga rahasia dan tidak akan diungkapkan!" kata Alexander.


"Nama bisa dihapus, tapi aku khawatir aku tidak bisa menyembunyikan nama Dokter Dewa Perang!"


Pria tua berkulit hitam dari Komando Daerah Militer Barat laut menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sekarang ketenarannya sudah menyebar ke luar negeri, para master dan


pasukan khusus dari seluruh dunia sangat ingin bertemu dengan dokter itu!"


"Kalau begitu biarkan mereka perlahan-lahan memeriksanya, bagaimanapun sembunyikan dulu identitas Jansen. Tunggu sampai mereka menemukannya baru kita bicarakan lagi!"


Alexander berkata. Dia tahu cepat atau lambat identitas Jansen akan terungkap, tetapi dia tidak tahu kapan.


Setelah para raja prajurit mengetahui Jansen sudah pergi, mereka semua berwajah suram.


"Jansen pulang?"


"Sial, aku masih ingin bertarung dengannya? Tidak, aku akan mencarinya saat acara selesai!"


"Barusan ketua memerintahkan, tidak ada yang boleh mencari Jansen. Identitas Jansen harus dirahasiakan. Ini rahasia militer dan milik tingkat ketiga!"


Entah itu para juri atau Naga Hijau, mereka semua ingin berdiskusi dengan Jansen dan memutuskan hasilnya. Tapi sekarang, pikiran ini seperti tidak bisa terlaksana.


Di sisi lain, Jansen menaiki pesawat menuju Ibu Kota. Dia pergi dengan tergesa-gesa, bahkan dia tidak memberitahu Elena.


Dia benar-benar tidak ingin menjadi Raja Prajurit. Lagi pula memikirkan duduk di kantor setiap hari saja, sudah membuatnya sakit kepala.


Setelah turun dari pesawat, dia mengirim SMS kepada Elena, untuk mengatakan kalau dia sedang menunggunya di Ibu Kota. Jansen pergi keluar untuk mencari taksi, tetapi ini adalah jam


sibuk dan dia tidak bisa mendapatkan taksi.


"Bro, aku lihat kamu sudah menghentikan taksi selama lebih dari sepuluh menit. Kenapa masih belum pergi juga?"


Seseorang pria berkacamata di sebelahnya tersenyum.


"Mungkin karena baru lewat Tahun Baru, banyak orang yang sudah kembali bekerja di Ibu Kota, jadi aku tidak dapat taksi!" Jansen tertawa.


"Hehe, alangkah indahnya jika punya mobil sendiri. Sudah berapa lama kamu di Ibu Kota?" pria berkacamata itu membetulkan kacamatanya dan bertanya.


"Sudah lebih dari setengah tahun!"


"Hehe, enggak lama kok. Ketika aku pertama kali datang ke Ibu Kota aku sangat kesulitan untuk berbaur. Aku sama denganmu dulu, tapi aku juga berhasil melewatinya. Sekarang aku punya perusahaan kecil sendiri dan mobil sendiri!" Pria berkacamata itu tersenyum ramah, kata-kata santai dan sedikit membanggakan diri.


Jansen pun terkejut, tetapi dia bisa memahami jika pria berkacamata itu mungkin tidak memiliki perusahaan besar. Jika tidak, untuk apa berpura-pura. Seorang bos sungguhan


mana mungkin memiliki banyak waktu luang?


"Kamu hebat sekali!"


Dengan santai Jansen berkata.


Pada saat ini, mobil pria berkacamata itu tiba. Mobil itu dikendarai oleh seorang sekretaris dan mobil itu adalah Mercedes-Benz E-Class.


"Hehe, mobilku sudah datang!" pria berkacamata itu mengangguk pada Jansen dan berjalan menuju Mercedes itu.


Namun saat ini, Taksi Online yang Jansen pesan juga sudah datang. Pengemudinya adalah seorang pria gemuk, dia dengan marah berkata kepada Jansen, "Apakah kamu yang memesan mobilku? Tuan, bisakah kamu berhenti membatalkan


pesanan terus menerus? Kamu membatalkannya sekali, lalu memesan lagi. Apakah kamu mau mempermainkanku. Apa


kamu tahu waktuku yang kamu buang itu cukup untukku menerima dua pesanan!"


"Maafkan aku!"


Dengan cepat Jansen meminta maaf.