
"Memang, kami sudah melakukan itu, jadi jangan ganggu aku lagi."
Gracia sangat frontal, dengan dingin berkata, "Tapi, kalau bicara tentang perasaan, perasaanku terhadapmu adalah risih dan jijik. Kalau kamu bukanlah Keluarga Palmer dan kebetulan aku bekerja sama dengan Keluarga Palmer, kamu bahkan tidak punya hak untuk bertemu denganku!"
"Ah!!
Jordie hampir kacau.
Wanita cantik yang dicintainya sudah melakukan itu dengan pria lain.
Apalagi, wanita cantik ini jijik kepadanya?
"Wanita ******!"
Jordie memakinya.
Wajah Gracia langsung berubah menjadi dingin. Dia bukanlah orang yang bisa dimarahi seenaknya. Bahkan Keluarga Palmer yang berasal dari Ibu kota pun tidak boleh!
Jansen menggelengkan kepalanya dengan tak berdaya. Tuan Jordie cukup menjijikkan. Gagal mendapatkan pujaan hati, lantas langsung memaki.
Jansen maju, lalu melayangkan sebuah tamparan ke wajahnya.
Plak!
Suaranya sangat keras, pukulan itu langsung membuat kepala Jordie bengkok, tapi tubuhnya bagus, dia tidak jatuh.
"Kamu berani memukulku? Apakah kamu tahu siapa aku?" Jordie melototi Jansen.
"Aku tahu, bukankah tuan muda Keluarga Palmer? Tapi, bagaimanapun, jangan memarahi wanita! Wanita ada untuk disayangi."
Jansen berkata dengan dingin, lalu kembali melayangkan sebuah tamparan.
Plak!
Kepala Jordie hanya bengkok, tapi tubuhnya berdiri dengan tegap, tulang badannya memang cukup bagus.
"Kamu berani memukulku? Tunggu saja di Ibu kota ini, aku akan membuatmu dipenjara."
Plak!
Jansen menamparnya lagi untuk melihat betapa kerasnya leher orang ini.
"Plak, plak, plak!"
Setelah beberapa tamparan berturut-turut, hidung Jordie memar, wajahnya bengkak dan giginya rontok. Hingga tamparan terakhir, akhirnya Jordie terhempas.
"Memangnya tidak bisa bicara baik-baik? Kenapa harus memaki orang?"
Setelah Jordie terhempas, Jansen berbicara dengan tidak berdaya.
"Pukul dia!"
Di atas lantai, mana mungkin Jordie bisa terima dipermalukan seperti ini? Dia berteriak memerintahkan pengawalnya maju.
Pengawal Gracia segera ingin membantu, tapi Gracia mencegatnya.
Benar saja, pengawal sejumlah ini tidak ada apa-apanya untuk Jansen.
Dalam waktu setengah menit, semuanya dipukuli oleh Jansen dan terguling ke lantai. Mereka tampak menyedihkan.
Wajah Jordie berubah drastis, tidak disangka, pemuda ini jago berkelahi. Di saat ini, sebuah kaki menginjak tubuhnya ke atas lantai. Jansen menatap Jordie, "Kamu, aku mengenal Paman Damian, dia adalah orang yang hebat. Sedangkan kamu, kamu adalah benalu di Keluarga Palmer. Apakah masih ada pengawal yang mau maju? Kalau tidak ada, cepat enyah dari sini!"
"Tunggu saja, aku akan membawa orang datang untuk membalas ini semua!"
Meskipun sudah diinjak-injak, Jordie masih keras kepala.
"Panggil saja mereka"
Jansen menendangnya pergi. Dengan satu tendangan, dia berguling ke depan seperti labu.
Jansen mengikuti Gracia masuk ke dalam gedung.
"Hubungi Kenzo. Berapa pun yang diminta, aku setuju. Suruh dia bereskan."
Setelah dijemput oleh pengawal, Jordie berkata dengan keras, lalu kembali membelai dadanya, "Aduh, pukulannya sangat keras. Dia sama sekali tidak menghargai Keluarga Palmer. Aku ingin membunuhnya!"
Semua pengawal terkejut. Tidak disangka, Tuan Jordie akan memanggil monster itu.
"Jansen, terima kasih untuk tadi."
Di sisi lain, Gracia membawa Jansen berjalan ke depan. Langkah kakinya sangat cepat seperti kilat.
"Kamu bantu menyembuhkan penyakitku, aku membantumu masuk ke dalam lingkaran 10 konglomerat Huaxia. Kita hanya saling memberikan keuntungan saja."
Gracia menjawab tanpa melihat ke belakang.
Akhirnya Jansen tahu. Sepertinya Gracia mencari dia karena penyakit Gracia kambuh lagi.
"Nona Gracia."
Mereka berdua berjalan menelusuri sepanjang aula yang megah. Di sepanjang jalan, semua pegawai menyapa. Ditambah, mereka juga penasaran dengan pemuda ini.
Hari ini adalah pertama kalinya mereka melihat nona Gracia membawa pria lain ke dalam perusahaan.
Pada saat yang sama, media juga memberitakan bahwa Gracia, konglomerat Huaxia, sudah mempunya kekasih. Namun, ada yang sengaja merahasiakan asal usul Jansen dan menyebabkan para pria yang diam-diam menyukai Gracia hanya bisa menghela napas.
Mereka berdua tiba di sebuah aula yang megah, tampak ruangan sudah dipenuhi dengan orang yang duduk. Ada pria dan wanita, mereka sangat berkharisma. Mereka semua adalah pemegang saham Grup Aliansi Bintang.
"Aku ingin mengumumkan satu hal. Mulai hari ini, Tuan Jansen akan menjadi Wakil Presdir Grup Aliansi Bintang."
Setelah duduk, Gracia langsung berbicara ke inti utama.
Semua pemegang saham yang hadir terkejut.
Bahkan Jansen pun kaget. Terakhir kali saat Gracia memanggilnya Tuan muda Jansen, saat itu dia merasa aneh. Namun, dia segera bangun dari lamunannya.
Dia dan Gracia telah mencapai kesepakatan. Jansen bantu menyembuhkan penyakit Gracia, membantu Jansen masuk sebagai sepuluh besar orang terkaya di Huaxia. Gracia memang sedang memenuhi janjinya.
Namun, Jansen tidak menyangka Gracia begitu frontal, sepatah kata saja bisa membuatnya jadi Wakil Presdir. Identitas ini membuat banyak orang Huaxia yang iri.
"Presdir Gracia, tidakkah ini terlalu mendadak?"
Setelah hening sejenak, tiba-tiba, seorang pemegang saham berteriak.
Grup Aliansi Bintang adalah gabungan dari beberapa plutokrat. Setiap plutokrat memiliki kekayaan bersih senilai puluhan miliar. Tentu saja mereka tidak akan setuju kalau Jansen menjadi Wakil Presdir.
"Aku sudah memutuskan masalah ini."
Gracia tidak banyak bicara, sangat mirip dengan gayanya bekerja.
Para pemegang saham saling memandang, pada akhirnya, tidak ada yang berani berbicara, Meskipun tiba-tiba, Gracia memang seperti ini. Ditambah, setiap keputusan yang dibuatnya selalu akurat.
Prang!
Saat bersamaan, pintu utama dibuka. Seorang wanita masuk dengan membawa beberapa pengawal. Para pengawal ini adalah wanita. Mereka mengenakan jas dan terlihat dingin.
Wanita ini berusia sekitar 30 tahun, di sudut bibirnya ada tahi lalat. Dia mengenakan pakaian tiga per empat yang ketat dengan dipadukan bersama celana pendek yang menonjolkan kaki jenjangnya. Wajahnya terlihat sangat dingin.
Setelah melihat wanita itu, mata Gracia berkedip.
"Gracia, mengangkat orang luar sebagai Wakil Presdir adalah melanggar aturan."
Wanita itu berjalan mendekat sambil menatap Jansen, "Tangkap dia untuk investigasi. Kita harus tahu tujuannya."
Para pemegang saham mengerutkan kening, sebenarnya mereka tidak terlalu mengenal wanita ini. Kadang-kadang, dia muncul di Grup Aliansi Bintang, tapi mereka tahu, Gracia sangat menjaga reputasi wanita ini.
Sebenarnya, mereka juga merasa aneh. Berdasarkan posisi Gracia saat ini, dia tidak perlu menjaga muka siapa pun. Ditambah, Gracia membangun semua ini sendiri. Tidak ada orang tua di rumahnya.
Semua itu hanya ada di pikiran orang-orang. Tidak ada yang berani menanyakan masalah Gracia.
"Gracia, sebelumnya kamu hampir terbunuh. Untuk masalah ini, keluarga juga sedang menyelidikinya. Aku curiga, jangan-jangan dia dan pembunuh itu ada hubungannya.
Wanita bernama Amira ini menyipitkan mata ke arah Jansen, "Seseorang yang tidak jelas asal usulnya, tiba-tiba menjadi Wakil Presdir Grup Aliansi Bintang? Di dalam ini, pasti ada yang dirahasiakan. Gracia, kamu bisa dibohongi, tapi keluarga tidak akan bisa dibohongi."
Gracia tidak berbicara, dia hanya menatap Jansen.
Jansen juga menatap wanita bernama Amira ini, lalu berkata, "Apa hakmu berbicara seperti itu? Mana buktinya?"
"Ucapanku adalah bukti!"
Amira menjawab dengan dingin, berteriak kepada pengawal di belakangnya, "Tangkap dan interogasi dia. Kalau dia melawan, bunuh di tempat!"
Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Jansen untuk menjelaskan.
Ditambah, bunuh di tempat? Hal ini sepenuhnya menggambarkan asal usul Amira yang mengerikan.
Semua pemegang saham yang hadir terkejut. Sekarang adalah zaman di mana hukum yang berbicara. Memangnya bisa kalau mau bunuh langsung asal bunuh?
Mereka segera menatap Gracia. Anehnya, mereka menyadari sikap acuh Gracia. Dia tidak membantu Amira maupun Jansen berbicara.
Semua orang melihat ke arah Jansen, reaksinya sangat tenang. Dia bertanya, "Kalian benar mau mati?"