Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 422. Sanatorium Amerta!


Naomi terdiam setelah dimarahi Antonio. Naomi heran karena Paman Antonio benar-benar percaya pada keterampilan medis yang dimiliki Jansen.


Jansen memang seorang dokter, tetapi dia hanya seorang dokter kecil di Kota Asmenia, sedangkan ini adalah Ibu Kota, ada banyak rumah sakit dan dokter terbaik se-Huaxia di Ibu Kota, lantas apa hebatnya Jansen?


"Dokter-dokter hebat yang kamu bilang tadi sudah pernah aku kunjungi semua. Satu pun tidak ada yang berguna!"


"Sekarang, Silvia juga ternyata bukan anak kandungku. Aku sangat tersiksa, aku ingin segera bercerai dan mencari istri baru untuk mendapatkan keturunan baru!"


"Kamu ini bukannya membantu malah mengacaukan rencanaku!"


Antonio kembali meluapkan emosinya kepada Naomi.


"Paman Antonio, kamu memarahiku karena pecundang itu?"


Naomi menghentakkan kakinya dengan kesal, dan bertekad untuk membuka wajah palsu Jansen.


"Semua orang di Keluarga Miller saling menyimpan dendam, benar-benar tidak mirip sebuah keluarga!"


Paman ketiga duduk di kursi roda, terus menghela napas, dan menatap mata Elena, "Ketika ayahmu masih memimpin keluarga ini, meskipun rumah tangganya sendiri juga kacau, tetapi karena wibawa yang dimiliki ayahmu, tidak ada seorang pun yang berani macam-macam. Sekarang mereka semua sudah tidak mementingkan kepentingan Keluarga Miller, mereka hanya mementingkan keuntungan mereka sendiri. Keluarga ini tidak seperti sebuah keluarga lagi!"


Elena tidak bersuara karena dia selalu membenci Keluarga Miller dan ayahnya.


"Jansen, apa yang kamu katakan pada Antonio itu benar?" Paman ketiga bertanya lagi.


"Benar!"


"Ahh, kasihan sekali Antonio ini, Martha telah berbohong padanya belasan tahun, pantas saja dia begitu sedih, aku harap kamu bisa menolong dia, anggap saja aku yang memohon padamu!"


"Baiklah!"


Jansen mengangguk setuju sebagai balas budi Jansen kepada Paman Ketiga karena telah berulang kali membantu Jansen.


"Oh ya, mengenai penyakit ankylosing spondylitis yang aku derita, sekarang sudah ada kabar dari Sanatorium Amerta. Aku ingin pergi ke sana Melihat sebentar, lagipula, mereka begitu ramah kepadaku, aku harus pergi ke sana, ayo temani aku!" Paman Ketiga menambahkan.


Jansen sedikit mengerutkan kening, tetapi tetap mengangguk setuju. Dia menyuruh Elena pergi mencari Natasha, dan kemudian Jansen menemani Paman Ketiga pergi ke sana!


Elena tidak punya teman di Ibu Kota, dan Keluarga Miller pun tidak menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarga mereka. Bagi mereka, Elena hanya sebuah alat tawar-menawar. Teman Elena di ibukota hanya Natasha seorang.


Setiap Elena terpikir dengan Natasha, hatinya dipenuhi dengan kehangatan.


Jansen menemani Paman Ketiga pergi ke Sanatorium Amerta. Sanatorium ini cukup terkenal di Ibu Kota, dan merupakan tempat pemulihan cedera bagi para pensiunan perwira militer dan tentara. Pengamanan di sanatorium ini juga sangat ketat.


Mobil berhenti di pintu gerbang sanatorium. Stella, Istri Paman Ketiga, menelepon dan kemudian diizinkan masuk oleh petugas keamanan.


Dekorasi ruangan di dalam sanatorium terlihat biasa saja, tetapi suasananya sangat tenang, dan ruang perawatan juga diatur dengan sangat baik.


Tak lama berselang, muncul beberapa orang petugas keamanan yang membawa senjata. Wajah mereka tampak sangar. Kemungkinan jika ada orang yang berani berbuat onar di sini, maka mereka akan segera menghabisi orang tersebut.


Seorang petugas keamanan mengantarkan Paman Ketiga masuk ke ruang perawatan. Setiba di sebuah kamar, petugas keamanan itu kemudian pergi. Stella mendorong masuk kursi roda Paman Ketiga.


Ruang di dalam kamar tersebut sangat luas, dipenuhi oleh para dokter berpakaian putih yang mondar-mandir. Di balik jendela kaca, tampak juga berbagai mesin peralatan medis.


"Seluruh peralatan medis dan sumber daya kesehatan paling modern di negara ini ada di sanatorium ini. Tempat ini juga sangat terkenal di Ibu Kota!" Stella memperkenalkan tempat ini kepada Jansen.


Setelah memasuki sebuah ruangan, Jansen langsung Melihat seorang kenalan dan memanggil, "Kak Arthur!"


Orang yang sedang duduk di dalam ruangan itu adalah Arthur Carson, dia juga menderita ankylosing spondylitis, tetapi tidak terlalu parah. Dia kebetulan datang kemari untuk memeriksakan diri.


"Haha, Saudara Jansen!"


Arthur menyambutnya dengan senyuman lalu menatap Paman Ketiga dan berkata, "Paman Lucky, kamu juga datang ke sini, bagaimana kondisinya sekarang?"


"Ahh, kadang baik kadang buruk, kalau bukan karena bantuan keponakanku sebelumnya, aku rasa sekarang aku sudah tak sanggup berjalan lagi!" Ketiga sambil menghela napas. ucap Paman


"Jansen, bagaimana kondisi luka Paman Ketiga?"


Arthur lantas menatap Jansen.


Arthur lantas merasa lega karena dia yakin dengan keterampilan medis yang dimiliki Jansen. Arthur hanya akan merasa khawatir jika Jansen benar-benar berkata penyakit Paman Ketiga tidak bisa disembuhkan.


Saat ini, masuk seorang pria tua yang kepalanya botak dan berbadan gemuk, "Hehe, dua orang ketua sudah datang!"


Pria ini adalah Kepala Sanatorium Amerta. Dia sendiri langsung menyambut mereka berdua karena Arthur dan Lucky memiliki kedudukan tinggi.


Setelah itu, mereka lanjut beramah-tamah seperti biasanya.


"Penyakit Ketua Arthur tidak terlalu serius sekarang. Kalau untuk penyakit Ketua Lucky, aku sudah meminta bantuan seorang dokter militer terkenal, dokter ahli saraf terbaik di Huaxia, Profesor Fabian!"


Kepala Sanatorium berkata demikian sambil membuka pintu, dan kemudian beberapa orang masuk ke dalam ruangan.


Seorang yang berjalan paling depan kira-kira berusia empat puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus, berpakaian jas putih, dan raut wajahnya serius.


Di belakangnya ada seorang asisten, tetapi yang mengejutkan, salah seorang di antara mereka adalah Naomi.


Naomi Melirik Paman Ketiga, dan tersenyum. Namun, Naomi tiba-tiba sadar bahwa Jansen juga ada di sana, sehingga dia sangat marah.


Penipu ini ternyata juga ikut datang kemari.


"Mari, izinkan saya memperkenalkan kepada Anda, ini Profesor Fabian, yang juga anggota dari Asosiasi Pendidikan Kedokteran Nasional, ini adalah asisten dari Profesor Fabian, dan ini adalah Dokter Spesialis Bedah di RS Rakyat Ibu kota, yaitu Naomi. Naomi ini dikenal dengan julukan ahli bedah nomor satu!" Kepala Sanatorium memperkenalkan mereka dengan sopan, "Hari ini, mereka datang untuk memeriksa penyakit Ketua!"


"Terima kasih, Dokter Kepala Wildan, tetapi aku sudah menemukan dokter lain untuk menyembuhkan penyakit ku ini!"


Tak disangka, Lucky menolak diperiksa oleh dokter-dokter tersebut.


Suasana berubah menjadi canggung dan Profesor Fabian merasa sangat tersinggung.


"Ini!"


Kepala Sanatorium buru-buru bertanya, "Kalau boleh tahu, siapa dokter yang diundang oleh Ketua? Apakah dokter ini seorang dokter negara?"


Lucky sebenarnya datang kemari hanya karena ingin memberi muka kepada Kepala Sanatorium. Lucky lantas memperkenalkan Jansen, "Ini dokter yang aku undang kemari, Dokter Jansen!"


Semua orang yang ada di samping merasa heran dan kesal.


Khususnya Profesor Fabian, raut wajahnya sangat masam. Dia mengira dokter yang diundang Lucky adalah dokter negara, tetapi malah hanya seorang dokter muda. Bagi Profesor Fabian, dokter muda seperti Jansen bahkan belum tentu punya kualifikasi untuk menjadi muridnya.


Profesor Fabian merasa dirinya telah dipermalukan dengan kehadiran Jansen, karena bagaimanapun juga, dia adalah dokter militer yang disegani.


"Paman Ketiga, kenapa kamu malah memilih Jansen untuk memeriksa penyakitmu?" Naomi tiba tiba menyela.


"Naomi, apa kamu kenal Tuan Jansen ini?" Profesor Fabian bertanya.


"Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah menantu Keluarga Miller, tetapi dia hanya seorang pecundang, seorang pria lemah yang tidak berguna, dia hanya pandai menipu orang, keahliannya nol besar!"


Naomi mengerutkan kening dan memandang Jansen dengan marah, "Jansen, aku tanya kamu dulu, kamu ini lulusan universitas mana? Kamu pernah bertugas di rumah sakit apa? Apa kamu pernah melakukan penelitian tentang penyakit ankylosing spondylitis? Apa kamu pernah menerbitkan jurnal ilmiah?"


"Semua kualifikasi yang kamu sebutkan tadi, aku tidak punya satu pun!" ucap Jansen sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak punya kualifikasi apa pun, tetapi kamu malah berani terima tugas penyembuhan penyakit Paman Ketiga!"


Naomi semakin marah, "Aku, Dokter Kepala Ahli Bedah RS Rakyat Ibu Kota, mahasiswi terbaik Universitas Harvard, anggota WHO, dengan kualifikasi yang aku miliki ini semua pun aku masih sulit menyembuhkan penyakit Paman Ketiga, tetapi kamu malah sok pintar!"


"Itu karena keterampilan medismu saja yang payah!" balas Jansen dengan nada datar.


Naomi sangat geram, dia sudah tidak sabar membuka topeng palsu Jansen di depan umum.


Fabian juga menahan emosinya dan berkata dengan nada datar, "Anak muda, kamu bilang kamu bisa menyembuhkan ankylosing spondylitis? Aku tidak tahu seberapa jauh kamu bisa menyembuhkannya? Apa yang akan kamu gunakan untuk menyembuhkan penyakit ini?"


"Dengan menggunakan kombinasi ramuan obat tradisional dan obat farmasi, aku yakin penyakit ini akan sembuh sepenuhnya!"


"Omong kosong, kurasa kamu tidak tahu apa apa tentang ankylosing spondylitis!" Fabian marah besar sambil berjalan mondar-mandir.