Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 29. Semangkuk Sup Pedas


"30 juta yuan untuk giok ini?"


Xavier sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan . Aset pabrik keluarganya hanya bernilai 50 juta yuan. Ia hampir mendapatkan 30 juta yuan di tangannya , tapi ia malah membodohi dirinya sendiri .


" Jansen tiba - tiba menjadi kaya raya . "


Hati Lisa pun penuh dengan rasa iri . Meskipun mulutnya tidak mau mengakuinya , tapi hatinya benar - benar tergeral . Lagi pula , Jansen memiliki uang 30 Juta Yuan . Ia sudah tidak miskin lagi . Ditambah Jansen yang sebelumnya berlaku baik padanya . Itu jauh lebih baik daripada bersama Xavier .


Hanya saja masalah Lisa dengan Jansen sudah begitu lama . Ia tidak terlalu yakin apakah Jansen bisa memaafkannya . Memikirkan hal ini , Lisa merasa sangat menyesal .


Pemilik kios itu mengikuti instruksi Tuan Muda Nico dan memotong beberapa potongan untuk perhiasan , lalu dibawa pergi oleh Jansen. Nico mendapatkan sepotong zamrud yang besar .


Suasana hatinya pun sangat baik . Dengan cepat ia mentransfer uang kepada Jansen. Pada saat yang bersamaan , ia memberikan kunci Lambhorgini kepada Jansen .


" Kakak Jansen, aku lihat kamu tidak mengemudi mobil ke sini . Ini mobil untukmu . "


Jansen baru saja mendapatkan uang 30 juta yuan, jadi ia sungkan untuk menerima mobil sport ini . Yang paling penting adalah yang membayar batu judi itu adalah Tuan Muda Nico . Jansen benar - benar tidak mengeluarkan uang satu sen pun .


" Kakak Jansen , kamu tidak perlu merasa sungkan . Garasi mobil bisa berganti mobil dalam sehari , lalu berganti setahun . Mobilnya juga hanya 10 juta yuan. Baginya , itu tidaklah seberapa . Selain itu , kamu sudah melakukan banyak hal untunya sebelumnya . Jika zamrud ini dibuat menjadi karya seni dan dijual , mungkin harganya akan jadi ratusan juta" ucap Zacky sambil tertawa .


" Kakak Jansen , ambilah . Aku akan memindahkannya atas namamu nanti . "


Nico berkata dengan berani, " Namun , barang ini lumayan bagus , Zacky. Zamrud itu jika dikemas dengan baik dan dijual , mungkin bisa dapat ratusan juta, tapi biaya pengemasan dan promosinya juga tidak sedikit . "


" Aku paham ! "


Jansen mengungkapkan pemahamannya . Bisa mendapatkan uang 30 Juta Yuan saja Jansen sudah puas . Bagaimanapun juga Zamrud itu benar - benar diberikan kepada Tuan Muda Nico . Ia juga tidak tahu bagaimana menjualnya dan daripada buang - buang waktu , lebih baik menjualnya pada Tuan Muda Nico.


Namun , memikirkan akan pulang dengan mengemudi mobil mewah , ia tidak tahu bagaimana nanti menjelaskannya pada Elena .


" Kakak Jansen , sekarang kamu punya tempat tinggal ? Jika kamu tidak menemukan tempat untuk menaruh mobilnya , begini saja , aku memberimu sebuah vila , vila di puncak Bukit Mercury . Kamu pilih . "


Melihat Jansen yang menatap Lambhorgini , Nico tersenyum dan berkata lagi .


" Bajingan , kamu punya ! "


Zacky seketika terkejut . Rumah di puncak Bukit Mercury adalah rumah untuk kalangan kelas atas . Seisi pulau hanya berisikan vila . Harganya pun tidak murah , semuanya mulai dari satu miliar .


Untuk area puncak gunung bahkan bisa lebih dari ratusan Juta Yuan. Apalagi kompleks vila di sana juga salah satu industri dari Grup Dorcane .


" Zacky, kamu jangan bahas itu . Terakhir kali dia menyelamatkan adikku , dia tidak mendapatkan kompensasi apa pun . Sebenarnya Grup Dorcane selalu ingin mencari kesempatan untuk membalas budinya . Jadi , sebuah vila bukan masalah besar . "


Nico menjelaskan kalau sebenarnya ada alasan lain di balik itu . Meskipun keluarganya kaya raya , tapi mereka tetap orang biasa yang juga bisa sakit . Dapat mengenal dokter jenius benar - benar berguna bagi mereka .


" Kakak Jansen , pada akhirnya kamu harus menemukan tempat untuk menaruh mobil ini . Vila itu memiliki garasi , cocok sekali . Selain itu , jika suatu saat kamu tidak menyukainya , kamu bisa mengembalikannya padaku . "


Nico meyakinkan Jansen lagi . Ayahnya telah memberi tahu padanya kalau Jansen bukanlah orang yang mudah tergerak hatinya oleh uang , jadi ia buru - buru mencari alasan .


Jansen pun mengangguk .


Vila itu akan dipindahkan atas nama Jansen besok , jadi Jansen baru mengambil mobil Zacky dulu . Setelah melewati Plaza , tiba - tiba Jansen melihat wanita yang ia kenal . Ia pun buru - buru menyuruh Zacky untuk berhenti . Lalu , ia meminta Zacky untuk berjalan menghampiri wanita itu .


" Wah , gadis cantik , Kakak Jansen. Kamu memang beruntung . "


Saat Zacky melihat wanita itu , seketika wanita itu tersenyum pada Jansen.


" Dia adalah istriku . "


Jansen hanya bisa memutar matanya . Wanita yang berjalan di Plaza adalah Elena Lawrence . Hari ini Elena tidak mengenakan seragam polisi , melainkan mengenakan baju olahraga .


Penampilannya sangat santai , tapi ia tampak cantik dan pas dengan perawakan tubuhnya . Bahkan jika ia adalah orang biasa , pakaian olahraga akan menarik perhatian banyak orang yang lewat .


" Sa, Elena ! "


" Jansen , kok kamu bisa ada di sini ? "


Elena sedikit terkejut melihat Jansen ada di sini . Sekarang Elena tidak memiliki rasa tidak suka terhadap Jansen seperti awal dulu . Ia tidak tahu itu karena ia telah menghabiskan waktu satu tahun bersama Jansen atau karena sifat Jansen yang selalu membuatnya terasa nyaman bersama Jansen .


" Kamu sendiri ? "


Jansen agak terkejut . Elena adalah orang yang kompetitif dan banyak menghabiskan waktu untuk bekerja . Ini adalah pertama kalinya melihat Elena jalan - jalan .


" Ya . "


Elena mengangguk .


" Apakah kamu sudah makan ? "


Jansen bertanya dan Elena menggeleng .


" Aku tahu ada restoran sup pedas di dekat sini . Rasanya enak , tapi agak sedikit pedas . Ayo pergi . Aku akan mengajakmu untuk mencobanya . "


" Sup pedas ? Makanan itu sepertinya tidak begitu bersih . "


" Jangan bilang kalau kamu belum pernah makan sup pedas . "


Mendengar Jansen berkata demikian , Elena mengangguk dengan wajah merona . Elena berasal dari keluarga terpelajar . Ia belum pernah makan jajanan jalanan . Ia juga merasa kalau itu tidak higienis .


" Hari ini aku akan mentraktirmu . Ayo kita pergi . "


Jansen tidak peduli Elena setuju atau tidak . Ia langsung menariknya pergi . Awalnya Elena terganggu oleh masalah pekerjaan dan Jansen yang bikin ulah . Ia melukan masalah pekerjaan dan menggeleng kepalanya tanda daya .


Ada gang kecil di samping Plaza . Di gang itu ada restoran kecil spesialis sup pedas . Namun , sekarang sudah siang , jadi ramai sekali , ditambah lagi cuacanya sangat panas . Orang yang menunggu maupun sedang makan semuanya penuh dengan keringat .


Melihat pemandangan seperti ini , wajah kecil Elena menunjukkan kekhawatiran . Apakah kebersihan di tempat seperti ini terjaga ? Apakah benar - benar bisa makan ?


" Cepat , ada orang pergi . Jangan sampai keduluan ! "


Saat Elena membeku , Jansen langsung menarik tangannya dan bergegas ke salah satu meja dan kursi yang berantakan .


" Sial , kurang cepat . "


Karena bisnis restorannya bagus , jadi tidak sedikit orang menunggu di sana . Melihat Jansen yang baru masuk tapi sudah dapat tempat , mereka pun kesal .


Namun , saat mereka melihat Elena , mereka terkejut seolah - olah ada dewi kahyangan .


" Ya ampun , aku seganteng ini , tapi aku tidak punya adik . Tampak pria itu jelek sekali , tapi mendapatkan wanita secakep itu . Apalagi makan semangkuk sup pedas , makin cakep . Iri sekali . "


Ada seorang pemuda yang merasa tampangnya tampan . Ia mengibaskan rambutnya sambil merasa iri .


" Elena, kamu jaga kursiku . Aku akan pergi untuk memesan . Setelah Jansen mendapatkan kursi untuk Elena , ia segera memesan makanan ."


Elena merasa seperti boneka . Ia sepenuhnya diatur oleh Jansen . Namun , melihat restoran kecil yang ramai , ia memiliki perasaan yang berbeda .


Saat itu ia juga menunjukkan senyumnya . Saat Jansen membawa mangkok sup pedas , Elena awalnya menyicip sedikit , tapi setelah ia merasakannya , rasanya ternyata cukup enak . Kemudian ia makan dengan lahap . Karena makanannya pedas , dahinya mengucur bau keringat .


Melihat penampilan Elena yang seperti itu , Jansen hanya menggeleng sambil tersenyum . Ia tahu kalau Elena sudah sangat santai dengannya .


" Jansen, apakah kamu sering makan di sini ? "


" Karena harganya murah dan mengenyangkan , jadi saat kuliah aku sering datang ke sini . "


" Oh . "


Elena mengangguk , lalu merasa sedikit malu . Meskipun ia satu SMA dengan Jansen, ia benar - benar tidak begitu akrab dengan Jansen.