
Di sudut ruangan, seorang pria tua gemuk dengan pelipis berwarna putih sedang duduk di sana. Wajahnya tampak tegas dengan sorot mata yang dingin.
Dia duduk dengan tegap, momentumnya begitu kuat bagaikan raja iblis yang sedang mengintai.
Dia adalah pemimpin Sekte Awan, Jorell Ortega.
Sebenarnya, dia sudah terbiasa dengan orang-orang yang menantang putranya untuk bertarung seperti ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, kali ini dia begitu
penasaran seperti apa orang yang sengaja memprovokasi putranya itu.
Pada saat ini, pintu gerbang pun terbuka. Terlihat Tuan Dean dengan membawa Jansen masuk ke dalam. Entah, berapa pasang mata yang sedang menatap Jansen saat ini.
"Ternyata dia berani datang juga!"
Sontak suasana di dalam ruangan menjadi heboh.
Di atas ring, Lorry yang mengenakan seragam Perguruan Tinju Elang pun dibuat terkejut. Pasalnya, dia mengira Jansen tidak akan datang alias kabur!
Bagaimanapun, orang-orang di luar sana setidaknya tahu betapa hebatnya ilmu seni bela diri seorang Lorry dari Perguruan Tinju Elang.
"Ketua Matthew, apa yang kamu inginkan!?"
Di sudut ruangan, telah duduk para Tetua dan pemimpin sekte yang lain. Salah satu dari mereka terlihat mencibir Matthew.
Matthew hanyalah pemimpin Sekte Delapan Satu. Jika dibandingkan dengan Akademi Tiga Belas tentu saja perbedaannya cukup jauh.
"Salam para Tetua, kedatanganku kemari hanya untuk menonton saja, tidak lebih!"
jawab Matthew tampak acuh tak acuh. Tapi dia tetap memberikan penghormatan pada para pemimpin sekte yang lain.
Terutama saat menatap Jorell, ada jejak ketakutan di sorot matanya.
Kekuatan pemimpin Akademi Tiga Belas, Sekte Awan dikhawatirkan jauh lebih kuat daripada Tetua Lembah Darah. Diperkirakan kekuatannya berada di Peringkat Surgawi Menengah.
Pada saat ini, Jorell juga menatap ke arah Matthew. Dan kemudian menatap Jansen sembari menggelengkan kepalanya. Melihat dari perawakan Jansen, dia berasumsi jika Jansen bukanlah seorang praktisi seni bela diri. Dilihat
dari sudut mana pun, penampilan Jansen sangat biasa-biasa saja.
Sungguh konyol jika dengan kekuatan seperti itu, Jansen ingin mengalahkan putranya, Lorry, dan merebut wilayah Perguruannya!
"Dasar anak muda jaman sekarang! Selalu saja berpikir ada jalan pintas untuk mendalami dunia Jianghu. Aku rasa, pertarungan kali ini tidak akan menarik!" ucap Jorell dengan santainya.
Para Tetua yang hadir di lokasi pun mengangguk. Perbedaan kekuatan antara kedua belah pihak sangat jauh, bisa jadi pertarungan akan menjadi berat sebelah.
"Tuan Jansen, aku kagum dengan keberanianmu datang kemari!"
Pada saat ini, terdengar suara teriakan Lorry dari atas ring. Jansen saat ini, sama sekali tidak terlihat akan melakukan pertarungan. Justru malah terlihat seperti akan melakukan olahraga lari.
"Ring yang ada di Perguruanku adalah ring hidup dan mati. Jika sudah naik ke atas ring, maka hanya ada satu orang yang boleh turun!" ucap Lorry kemudian. "Kamu punya
kesempatan terakhir untuk menolak, tapi jika menolak, maka harus berlutut dan meminta maaf padaku. Selain itu, kamu wajib memberiku kompensasi sebesar delapan puluh juta yuan. Ini adalah aturan yang berlaku di dunia Jianghu."
"Takut? Kamu bisa berlutut sekarang!"
Saat mengatakan kalimat terakhirnya, Lorry tampak menunjuk ke arah lantai.
Jansen menggelengkan kepalanya. Takut seperti katanya? Apa yang ditakutkan dari level kekuatan Peringkat Bumi?
Hanya dengan sekilas, dia sudah bisa memprediksi kekuatan Lorry. Bahkan termasuk level kekuatan Jorell juga bisa
dilihatnya. Hanya sebatas Peringkat Surgawi Menengah!
"Hei anak muda, jalan dunia Jianghu sangat jauh, pakai jaketmu. Lebih baik mundur saat ini!"
Pada saat ini, lagi-lagi terdengar sebuah suara serak orang tua. Dan ternyata, suara tersebut bersumber dari Jorell.
Kalimatnya sangat sederhana, tetapi tersirat menyimpan sebuah kekejaman dunia Jianghu.
Jalan dunia Jianghu sangat jauh dan sering diterpa angin badai yang dingin. Jika tidak mengenakan jaket untuk menghindari hawa dingin, maka bisa dipastikan kematian akan datang menjemput.
Ini untuk mengingatkan Jansen agar tidak meremehkan dunia Jianghu, atau dia akan mati!
"Tuan Jansen, ilmu seni bela dirimu siang tadi memang cukup lumayan. Tapi, aku hanya belum bereaksi saja!"
"Berdasarkan pengamatanku, kamu bisa dianggap sebagai salah satu praktisi bela diri kuno, walau hanya setengahnya saja. Tapi perlu diingat, kekuatanku berada di tingkat Bumi Tinggi!"
"Jika berasal dari dunia Jianghu, seharusnya kamu tahu apa yang dinamakan tingkat Bumi. Tapi, jika kamu bukan berasal dari dunia Jianghu, anggap saja aku tidak pernah mengatakannya!" ucap Lorry dengan bangga di atas ring.
"Omong kosongmu terlalu banyak!"
Jansen tak lagi bisa menahan hinaan Lorry padanya, dia lantas berjalan menuju ring.
Sebenarnya, semua orang pasti memiliki tingkat arogansi masing-masing. Tapi, Jansen merasa, bersikap arogan pun harus memiliki kekuatan dan modal yang cukup.
Setidaknya, bagi Jansen, Lorry tidak memiliki itu semua.
"Huh! Sepertinya dia tidak paham dengan pembagian kekuatan yang ada di dunia Jianghu!"
Para Tetua Sekte Awan menggelengkan kepala melihat aksi Jansen. Entah kenapa mereka menjadi kurang berminat untuk melihat pertarungan kali ini.
"Sayang sekali! Belum juga paham dengan kekuatanku, berani-beraninya memasuki ring!"
"Tuan Jansen, aku tidak tahu apa alasanmu berani membuat ulah denganku. Tapi jelas, kamu bukanlah praktisi bela diri yang pantas melawanku!"
"Seorang praktisi bela diri sejati, selalu mengetahui batas kekuatan diri sendiri dan musuhnya, sehingga mampu memenangkan berbagai macam pertarungan!" ucap Lorry terus mencibir Jansen di atas ring.
Untuk mempertahankan nama baik dan wilayah
Perguruannya, entah sudah berapa banyak praktisi bela diri yang dia bunuh. Tapi, sebelum memasuki ring, mereka semua terlihat serius mencari informasi sejauh mana kekuatan musuh yang akan dilawan. Namun, ini kali pertama Lorry melihat tatapan seperti yang ada di sorot mata Jansen. Jansen tampak begitu acuh tak acuh.
"Yang ingin aku katakan adalah kekuatanmu yang hanya sebatas ini, tidak perlu lagi diperjelas!"
Jansen pun mulai membuka suaranya, "Mari kita mulai, jangan sampai kita membuang-buang waktu!"
"Hehe... Orang awam tetaplah orang awam!"
Lorry bersiap untuk menyerang, jurus Sekte Awan pun telah dia tunjukkan.
Ilmu meringankan badannya cukup bagus. Gerak langkahnya tampak tak beraturan, tapi justru terlihat seperti jurus bayangan. Seolah-olah mengandung unsur langkah delapan diagram.
Semua orang di sekitar lokasi bersorak melihat pemandangan ini.
Mereka-mereka yang ada di sini kebanyakan memang orang-orang jalanan, tentu saja mereka menyukai adegan kekerasan semacam ini.
Jansen menunjukkan ketertarikannya. Sekte Awan memang mempunyai latar belakang yang cukup bagus. Jurus meringankan badan ini benar-benar membuatnya sedikit tertarik.
Dengan satu tangan di saku celana dan satu tangan di angkat ke depan, Jansen dengan mudah menangkis pukulan Lorry.
"Hah! Lumayan juga!"
cibir Lorry yang kemudian menggunakan pukulan gunung menembus laut!
Blar! Blar! Blar!
Energi Qi melonjak keluar, udara pun mengeluarkan suara seperti petasan!
"Luar biasa! Ini yang dinamakan master seni bela diri, kekuatan yang dikeluarkannya menghasilkan suara!"
"Dasar tolol! Itu kekuatan energi Qi tahu!"
"Di dunia ini benar-benar ada energi Qi?"
Banyak komentar di bawah ring. Beberapa dari mereka baru pertama kali menyaksikan pertarungan seperti ini. Tentu saja mereka terkejut saat mendengar istilah Energi Qi
benar-benar ada.
"Teknik pukulan Lorry semakin lama semakin berkembang!" Para Tetua Sekte Awan justru berdecak kagum melihat kemampuan Lorry.
Jorell pun mengangguk, "Jika terus berkembang seperti ini, mungkin sudah waktunya untuk mewariskan keahlian lain
dari sekte ini. Tapi sayang, energi Qi nya masih lemah. Jika terlalu dini berlatih, aku takut akan mencelakainya. Jika bisa melangkah ke peringkat Surgawi, mungkin akan mudah
untuknya!"
"Ketua, Lorry baru menginjak usia 30 tahun. Dan melihat dari dunia Jianghu saat ini, hanya ada beberapa praktisi bela diri yang sudah melangkah ke Peringkat Surgawi meski baru
berumur 30 tahun!"
"Itu benar, Ketua! Ketua terlalu menuntut banyak!"
"Aku perkirakan, dalam waktu tiga tahun lagi, Lorry sudah bisa masuk ke dalam Peringkat Surgawi. Bisa dianggap, dia menjadi pemimpin sekte delapan satu yang termuda!"
Para Tetua terus mengemukakan pendapatnya.
Jorell menyentuh janggutnya berulang kali sembari tersenyum. Dia cukup puas dengan perkembangan anaknya ini.
"Ini, sepertinya ada yang tidak beres! Coba lihat, Bos Lorry sudah bertarung sekian lama, tapi bocah sialan itu masih baik-baik saja!"
"Kalau diperhatikan, bocah itu cukup hebat juga!"
Saat ini, keluar beragam komentar dari arah kerumunan.
"Kalian buta? Bos Lorry sedang pemanasan tahu! Orang-orang seperti kalian ini memang tidak paham dengan kekuatan Bos Lorry. Kalau serius, Bos Lorry pasti sudah mematahkan leher bocah sialan itu hanya dengan tiga jurus!" terdengar teriakan dari murid utama kubu Lorry.
Dia tak kuasa menahan diri untuk berdiri saat melihat seseorang berani meragukan kekuatan Lorry. Dengan meragukan kekuatan Lorry, tentu saja juga akan menjadi penghinaan terbesar baginya.
"Tiga jurus!"
Orang-orang pun semakin ramai bersorak.
Sebenarnya, mereka tahu Jansen adalah seorang praktisi bela diri. Pertahanannya cukup bagus, tapi terlalu mengerikan juga jika Lorry bisa mengalahkannya hanya dalam tiga jurus saja!