
Pintu rumah terbuka, gelap gulita di dalam. Seseorang menyalakan lampu ruang tamu, nampak Galy berdiri di sana.
Veronica terkejut, mengapa ada Galy.
"Nona Veronica memang tulus. Semalam ini masih bergegas kemari!"
Galy berdiri di dekat perapian, dia tertawa.
Veronica tidak mengerti apa yang dimaksud, dia langsung bertanya, "Aku sudah di sini. Sudah saatnya kamu memberi tahu keberadaan Alastor!"
"Hehe. Bagaimanapun juga kamu sudah di sini, jangan terburu-buru. Mari kita bicarakan secara pelan-pelan!"
"Aku tidak punya waktu untuk bicara pelan-pelan denganmu. Kalau kamu tidak mengatakannya, aku akan pergi sekarang!"
Veronica berkata dengan dingin. Semua terasa penuh dengan misteri. Lebih baik pergi, pikirnya.
Setelah berkata, Veronica bersiap untuk berbalik dan meninggalkan tempat itu.
"Tunggu!"
hentak Galy mendadak sambil mengeluarkan pistol.
"Nona Veronica, sore tadi aku belum mengetahui asal usulmu, banyak kata-kataku yang kurang tepat. Untuk itu, aku minta maaf. Sekarang, karena kamu sudah datang ke sini, kamu seharusnya minum secangkir kopi dulu baru pergi!"
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
Veronica memalingkan badannya.
"Itu terserah padamu. Aku tahu suamimu adalah Jansen Scott. Dia adalah sosok yang hebat. Sayangnya, dia ada di Ibu kota bukan di Magical City!" ujar Galy dingin.
Veronica tidak memedulikannya dan malah pergi.
Dor! Dor
Galy melepaskan tembakan peringatan ke dinding di samping pintu.
Wajah Veronica menjadi dingin, tapi dia tetap membuka pintu.
Galy tidak menyangka Veronica sebegitu beraninya. Dia menggertakkan gigi dan kembali melepaskan tembakan.
Tembakan kali ini diarahkan ke pergelangan tangan Veronica.
Dia pernah mengikuti pelatihan senjata api dan keahlian menembaknya sangat bagus. Dia yakin tembakan ini tidak akan gagal.
Klang! Klang!
Sesuatu yang menakutkan terjadi.
Tembakan itu jelas-jelas mengenai Veronica, tetapi tiba-tiba muncul lapisan cahaya di sekeliling tubuh Veronica yang menahan peluru tersebut.
"Apa yang terjadi?"
Galy terkejut dan mematung. Ia kembali melepaskan tembakan ke paha Veronica.
Klang! Klang!
Lapisan cahaya kembali muncul di tubuh Veronica dan menahan peluru itu.
Galy ketakutan, bulu kuduknya berdiri. Pikirnya dia sedang melihat hantu.
Bagaimanapun, manusia tidak akan bisa menahan peluru.
Selain itu, Veronica tidak mengenakan rompi anti peluru.
Veronica juga tidak menyangka Galy akan melepaskan tembakan. Dia adalah keturunan keluarga Woodley, dia juga pernah belajar seni bela diri dan juga pernah terlibat banyak masalah besar.
Dan bagaimana bisa baik-baik saja, Veronica menduga itu karena giok pelindung diri yang diberikan Jansen.
Suaminya benar-benar hebat. Giok pelindung diri yang dibuatnya bahkan bisa membendung peluru.
Veronica teringat saat Jansen sendiri memakaikan giok itu padanya. Hatinya menjadi hangat. Memang suaminya lah yang peduli padanya.
"Berani-beraninya kamu mencoba menembak ku!"
Kemudian Veronica lanjut berjalan dengan wajah dingin.
Galy mundur dengan ketakutan. Ia menabrak lemari anggur yang ada di belakangnya hingga terjatuh bersama dengan lemari itu. Dia sangat malu.
"Jangan kemari!"
Galy terduduk di lantai sambil mengarahkan senjata ke arah Veronica.
Dor! Dor!
Dia melepaskan tembakan lagi. Peluru itu mengenai Veronica dari jarak dekat. Bahunya tersentak sekejap, tapi dia terus bergerak maju.
Galy ketakutan hingga air empedunya terasa nyaris menyembur keluar.
"Enyahlah, jangan mendekat!"
Plak!
Ia makin ketakutan. Bagaimanapun, pistol itu adalah pilihan terakhirnya.
Dia ingin mengambil pistol itu kembali, tetapi Veronica menginjaknya. Dia mengenakan sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter. Haknya yang tajam menginjak tangan Galy dengan keras.
Galy menjerit keras, "Tanganku, tanganku!"
"Katakan, apa yang terjadi, di mana Alastor!"
Veronica memandangi Galy, dingin bak seorang ratu.
Galy mengangkat kepalanya untuk melirik, kemudian tidak berani melihatnya. Sebenarnya, dia pernah melihat Veronica di majalah. Saat itu, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelahnya, dia terus mencari kesempatan untuk menjebak Veronica ke tempat tidur.
Sayangnya sekarang, Veronica hanyalah mimpi buruknya.
"Aku, aku tidak tahu. Aku hanya dimintai tolong oleh seseorang!"
Galy menangis dan berteriak, "Nona, tolong lepaskan aku. Aku sudah tidak jadi ancaman bagimu. Tolong biarkan aku pergi!"
"Benarkah?"
Veronica berjalan ke depan dan menggeledah Galy. Ia menemukan sebuah pistol lain.
Bagaimana tidak menjadi ancaman?
Jika dia percaya, dia akan berbalik dan orang ini akan menembaknya secara diam-diam.
Veronica menggenggam tangan Galy yang lain, dibaliknya dan lengan itu pun terkilir.
Seni bela diri Veronica sangat lemah bagi para master Dunia Jianghu, tetapi bagi orang biasa Veronica bagaikan seorang master.
"Nona, ampuni nyawaku, ampuni nyawaku. Kamu boleh menyuruhku melakukan apa pun, tolong bebaskan aku!"
Dahi Galy penuh dengan keringat dingin, hatinya terasa sesak. Dia pikir Veronica adalah seorang wanita yang manis, tak disangka seorang wanita yang kejam.
"Kamu masih tidak mau mengatakannya!"
Veronica mengeluarkan tenaga lagi pada pergelangan tangannya.
"Aku benar-benar dimintai tolong oleh seseorang. Mereka bilang hanya perlu membawamu kemari. Pengaruh mereka sangatlah besar, aku tidak berani macam-macam dengan mereka!" teriak Galy.
Veronica berhenti sejenak, dia merasa ada hal yang janggal. Mereka menggunakan Alastor untuk menjebaknya kemari, tapi malah menyuruh seorang bodoh seperti Galy untuk berbicara dengannya.
Apa maksud mereka?
"Galy, kamu benar-benar tidak berguna!"
Pada saat itu, terdengar sebuah suara dingin. Di tangga, seorang wanita seksi yang mengenakan pakaian dan celana kulit perlahan berjalan turun.
Dia mengenakan sepatu hak tinggi hitam. Langkahnya bagaikan membawa sihir.
Bentuk wajahnya juga sangat cantik, seperti wanita cantik bergaya Hallyu.
"Nona Penny!"
Saat melihat Nona Penny, Galy bagaikan melihat penyelamat nyawanya. "Tolong aku!"
"Diam!"
Wanita itu berteriak dan menatap Veronica. "Nona Veronica lebih berpengalaman dari yang kita duga. Kami sudah meremehkan mu!"
"Apakah kamu yang menulis surat padaku?"
Veronica juga sedang melihat Nona Penny. Anehnya, Nona Penny tidak nampak seperti orang dari dunia Jianghu, lebih mirip anak keluarga kaya.
"Ya begitulah, Penny Brown!"
Wanita itu berhenti berjalan dan berkata dengan ringan, "Keluarga Brown memang mengetahui keberadaan Alastor. Tapi imbalan yang keluarga kami harapkan agak tinggi, yaitu 60% saham Grup Aliansi Senlena!"
"Enam puluh persen?"
Wajah Veronica berubah. Saham Grup Aliansi Senlena tak ternilai dan memiliki prospek yang bagus. Bahkan satu persen sahamnya sudah cukup untuk membuat keluarga biasa menjadi kaya raya!
Enam puluh persen, ini terlalu serakah.
Apalagi, jika sahamnya mencapai 60%, dia sudah bisa mengendalikan seluruh aliansi bisnis.
Veronica menggelengkan kepalanya dan menolak, "Aku tidak bisa membuat keputusan tentang masalah ini!"
"Aku tahu kamu tidak bisa mengambil keputusan dan hanya perkataan suamimu yang dapat diandalkan. Tapi kamu tahu kenapa kami mengundangmu ke sini, kan?" Penny tersenyum.
Veronica mengerutkan kening dan berpikir, tiba-tiba dia tersentak.
"Sepertinya, wanita yang bisa menjadi istri dokter Jansen semuanya sangat pintar. Benar sekali, kami menggunakan mu sebagai sandera!"
Melihat raut wajah Veronica, Penny menunjukkan senyum yang menawan, seolah-olah semua hal ada di bawah kendalinya.
"Apa kamu gila? Apa kamu tidak takut mencari masalah dengan suamiku?"
Veronica mundur selangkah, dia merasa bahwa wanita ini sudah terlalu gila.