Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 416. Masih Berani Keras Kepala!


"Sialan, apa telingamu rusak? Aku sudah berbicara panjang lebar, tetapi kamu masih tidak paham juga? Ingat hukum rimba, di dunia ini yang kuatlah yang berkuasa, siapa suruh kamu miskin dan lemah!"


Gordon berteriak keras tanpa henti, "Kalau kamu ingin berdebat, sini berdebatlah dengan tongkat besi ini. Aku patahkan kedua kakimu. Kalau kamu masih sanggup berdiri, hari ini kami tidak akan membongkar panti asuhan ini!"


Setelah berkata demikian, Gordon menghantamkan tongkat ke arah Jansen dengan keras dan tanpa ampun.


Silvia dan Fernando saling bertatapan sejenak. Mereka berdua sangat menantikan keseruan perkelahian ini.


Akan tetapi, hal yang diinginkan Silvia dan Fernando tidak terjadi. Karena tongkat yang dihantamkan oleh Gordon ke kaki Jansen malah bengkok. Sedangkan Jansen masih baik-baik saja dan mulai tertawa sinis.


"Kamu benar, sesuai hukum rimba, di dunia ini yang kuatlah yang berkuasa!"


Jansen berkata pelan, maju selangkah ke depan, dan kemudian menabrakkan bahunya ke dada Gordon.


Puk!


Gordon jatuh terpelanting ke belakang dan tulang dadanya hampir retak.


Jansen juga tidak segan lagi. Dia memukul preman lain yang berdiri di dekatnya dengan tangan kosong hingga preman itu terpelanting ke belakang dan tongkat besi di tangan pun terlepas, seakan ditabrak oleh mobil.


Dua tulang rusuk preman itu patah.


Jansen mengambil sebatang tongkat besi dan langsung menghajar ke arah para preman itu. Ada yang patah kakinya, dan ada juga yang patah tangannya. Adegan ini sungguh mengerikan!


"Bunuh dia!"


Pada saat ini, Gordon yang terjatuh terus mengomel sambil memegang dadanya yang terluka parah. Dia merasa kekuatan Jansen sangat dahsyat karena tulang dadanya hampir dibuat retak.


Akan tetapi, Jansen pun dengan cepat menghampiri Gordon dan langsung menghantamkan tongkat besi ke arah Gordon hingga membuat lengannya patah!


"Ah, tanganku!"


Gordon menjerit berulang kali dan berguling-guling di atas tanah, menghindar dari Jansen.


Kini Gordon sangat terkejut dengan kehebatan Jansen. Dia heran apakah Jansen ini pensiunan tentara.


Silvia dan Fernando sontak terdiam, mereka heran kenapa dokter kecil seperti Jansen ini bisa punya kekuatan yang begitu hebat!


"Sialan, kenapa bukan kakinya yang patah!"


"Silvia, orang ini bisa sedikit bela diri, gawat!"


Mereka berdua marah dan tidak bisa terima kenyataan, seolah-olah yang dihajar itu bukan Gordon, tetapi mereka berdua.


"Panggil orang lainnya, cepat panggil!"


Saat ini pula Gordon berteriak ke anak buahnya. Akan tetapi, pandangan Gordon terhalang. Setelah Melihat ke atas, ternyata Jansen sudah berdiri di hadapan Gordon.


"Kamu benar-benar keras kepala. Aku mau lihat, keras kepalamu yang hebat atau tulangmu yang keras!"


Jansen berkata dengan nada datar lalu menendang Gordon hingga terbang dan beberapa giginya copot. Gordon, yang beratnya hampir seratus kilogram, jatuh tergeletak di tempat yang jauh dan membuat debu di atas tanah berterbangan.


Semua preman yang Melihat di sekeliling sangat terkejut. Kekuatan kaki Jansen benar-benar lebih dahsyat daripada tenaga yang dihasilkan oleh tabrakan mobil.


Mereka semua sudah tidak berani maju.


Jansen tidak lanjut menghajar preman lainnya. Dia juga langsung menelepon.


Tak lama kemudian, ada sejumlah mobil datang di kejauhan. Setelah mobil berhenti, sejumlah besar pria kekar turun. Orang-orang ini adalah para pengawal, dan mereka semua sangat jago.


Suasana kian mencekam, hawa pembunuhan kian terasa.


Silvia dan Fernando akhirnya tersenyum karena tak menyangka orang-orang Grup Aliansi Bintang akan datang dengan jumlah yang lebih banyak.


Ini sungguh konyol. Saat sudah menang Jansen bukannya cepat kabur. Setelah lebih banyak orang datang lagi, Jansen pun sudah sulit untuk kabur.


"Habisi dia!"


Melihat anak buahnya yang lain sudah datang, Gordon duduk di atas tanah sambil berteriak menunjuk ke arah Jansen.


Jansen tiba-tiba menghilang dan langsung muncul lagi di hadapan Gordon. Jansen lantas menendang Gordon sekali lagi.


Tubuh Gordon yang tinggi menjulang kembali terbang ditendang Jansen. Dia terjatuh di atas tanah hingga bokongnya retak!


"Aduh!"


Boleh dibilang ini adalah hari terburuk sepanjang hidup Gordon.


Pada saat ini, anak buah Jansen akhirnya datang juga. Panah membawa belasan orang datang. Meskipun jumlahnya kalah jauh bila dibandingkan dengan anak buah Gordon, tetapi mereka yang datang ini juga bukanlah orang-orang lemah.


Ini mengejutkan Jansen. Dua hari yang lalu, Jansen menyuruh Panah untuk mengembangkan kekuatannya di Ibu Kota. Tak disangka, dalam waktu yang singkat sudah begitu banyak orang yang bergabung dengannya.


"Tuan Jansen!"


"Habisi mereka!"


Jansen sendiri sudah malas bergerak. Sebenarnya, orang-orang Gordon ini sama sekali bukanlah tandingan seorang Jansen.


"Pukul mereka!"


Liam dan kawan-kawan maju menyerang orang-orang Gordon. Gerakan mereka sangat lincah dan pukulan juga sangat kuat.


Tidak tahu dari mana datangnya, Johnny langsung mengambil sebatang pilar besar dan mengayunkan ke arah mereka semua.


Dengan satu sapuan pilar besar itu, belasan orang pun terkena sapuan hingga terbang.


Panah tidak berani membunuh orang, tetapi caranya dalam menghajar lawan cukup kejam dan juga pandai memanfaatkan kelemahan lawan. Hanya butuh waktu beberapa menit, sudah banyak musuh tergeletak di sekelilingnya. Mereka semua meringis kesakitan.


Liam merupakan pensiun anggota Tim Operasi Khusus. Dengan tubuhnya yang kuat, dia berhasil menghajar para musuh hingga menjerit kesakitan.


Para pengawal turun dari mobil dan segera menyerang, tetapi mereka semua berhasil dipukul mundur tanpa perlawanan dalam waktu sekejap.


"Siapa orang-orang ini?"


Gordon menyaksikan adegan menyakitkan ini, dan terdiam bisu karena orang-orangnya yang berjumlah ratusan malah takluk di tangan belasan orang. Apa apaan ini!


Gordon tiba-tiba menatap Jansen dan Melihat Jansen duduk di kursi sambil minum teh. Gordon akhirnya sadar bahwa Jansen bukanlah orang sembarangan.


"Apa-apaan ini? Mereka semua benar-benar tidak berguna!"


"Apakah mereka sengaja berakting? Dasar sampah!"


Silvia dan Fernando marah bukan main, mereka heran karena ratusan orang pengawal yang datang seharusnya bisa menghajar Jansen tanpa ampun, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, para pengawal ini dihajar sampai ketakutan ingin kabur dari Ibu Kota.


Hasilnya, para pengawal yang jumlah ratusan ini sama sekali tak berguna.


Silvia tidak terima Melihat seorang pria pecundang yang dulunya berlutut kepada istrinya sendiri, bisa tiba-tiba berubah menjadi seorang pemimpin yang hanya bermodalkan belasan bawahan tangguh mampu menaklukkan ratusan musuh.


Silvia tidak ingin Jansen yang dianggapnya pecundang malah kebagian bisnis Keluarga Miller nantinya.


Fernando juga sangat marah. Dia dan Jansen sebenarnya sama-sama adalah menantu laki-laki Keluarga Miller, tetapi Jansen tampaknya lebih hebat daripada dirinya.


Fernando tidak terima ini.


"Masih mau keras kepala?"


Saat ini, terdengar suara pelan Jansen.


Silvia dan Fernando terus berharap orang-orang suruhan Grup Aliansi Bintang yang top sepuluh grup korporasi terbesar di Huaxia ini, bisa datang lagi menghabisi Jansen.


Namun, Gordon malah sangat ketakutan setelah dihajar tanpa ampun oleh Jansen. Gordon menangis sambil berkata, "Tuan, aku takut kamu, Tuan. Aku tak berani keras kepala lagi, aku tak berani keras kepala lagi!"


Mendengar kata-kata Gordon, harapan Silvia dan Fernando itu seakan sirna seketika. Yang dibayangkan mereka sama sekali tidak terjadi, tapi malah pupus dalam waktu sekejap oleh Jansen.


Silvia dan Fernando mulai ketakutan saat ini, tetapi mereka berdua juga merasa tidak rela.


Karena tidak tahu harus berbuat apa, mereka berdua sangat kesal.


"Tuan, untuk masalah ini, kami hanya menuruti perintah atasan kami. Lagi pula, sudah ada dokumen dari pemerintah daerah. Meskipun, kamu menghajar kami, lahan ini tetap harus diambil!"


Saat ini, Gordon berkata sambil menangis, ratusan orang anak buahnya sudah terluka, dan biaya pengobatan yang dibutuhkan pun tidak sedikit.


"Sini kamu!"


Jansen memanggil Gordon.


"Aku?"


Gordon ketakutan Melihat betapa tangguhnya Panah dan kawan-kawan, sehingga tidak berani mendekat ke sana saat dipanggil Jansen.


"Kemarilah!"


Jansen membentak.


Gordon berjalan ke tempat Jansen dengan wajah tangisan dan kepala tertunduk.


"Sebenarnya, aku ini bukan orang yang keras kepala, tetapi karena kalian yang keras kepala, makanya kami juga terpaksa berbuat seperti itu!" ujar Jansen dengan nada datar, dan membuat Gordon semakin menangis ketakutan. Kalau saja Gordon tahu Jansen begitu kuat, tentu dia tidak akan keras kepala dan mau berunding dengannya.


"Tetapi, yang kamu katakan itu ada benarnya juga. Begini saja, masalah ini juga bukan kamu yang ambil keputusan, kamu panggil atasan kamu yang bisa ambil keputusan datang kemari. Aku tunggu kamu di dalam panti asuhan ini!"


Jansen meletakkan kursinya kembali dan masuk ke dalam panti asuhan.


Jansen juga tahu bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan, tetapi dia tetap perlu bernegosiasi dengan atasan mereka.