Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1120. Dia Pasti Seorang Master!


Selama Grup Dutch Textile bersedia memberikan hak penjualan, semua produk yang dijual bahkan bila itu hanya sepasang kaus kaki pun, pasti akan laris terjual.


Apakah rintangan sebesar itu dapat diselesaikan oleh Jansen hanya dalam waktu satu atau dua jam?


Bos perusahaan lain bahkan butuh waktu tiga tahun untuk berhasil mendapatkan hak penjualan tersebut.


"Jansen, satu atau dua jam sepertinya terlalu cepat!" Rowen akhirnya buka suara.


"Itu tidak cepat. Aku masih harus pulang kemari untuk makan malam!"


Jansen berkata dengan santai.


Rowen pun hampir pingsan mendengar ucapan Jansen.


Kenapa kamu harus buru-buru pulang kemari untuk makan malam? Kamu sama sekali tidak peduli dengan kerja sama yang begitu penting ini!


"Ricky, dengarkan saja kakak iparmu. Bawa kakak iparmu pergi menemui bos itu!"


Jessica pun tertawa sambil berkata, "Cepat selesaikan masalah itu. Malam ini, kakak iparmu akan makan malam di sini!"


"Baiklah!"


Ricky pun langsung membawa Jansen pergi tanpa berpikir terlalu banyak.


Rowen dan Danial saling menatap satu sama lain. Mereka berdua merasa bahwa Jansen seolah hanya bermain-main saja tanpa sedikit pun keinginan untuk membahas masalah bisnis.


Hanya Jessica seorang yang merasa bahwa ini adalah hal wajar. Dengan kedudukan Jansen seperti sekarang ini, uang sama sekali bukan sesuatu yang penting bagi dirinya.


"Kakak Ipar, Grup Dutch Textile sepertinya memang tidak boleh dianggap remeh. Aku dengar bahwa dulu ketika Keluarga Bermoth yang merupakan keluarga elit masih ada, mereka semua sangat takut kepada Grup Dutch Textile!"


Ricky menjelaskan sambil mengemudi, "Sungguh aneh, Grup Dutch Textile jelas bisa berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar, tetapi mereka malah bersikeras tidak ingin melakukan ekspansi usaha dan tetap mempertahankan model bisnis keluarga!"


"Grup Dutch Textile tidak sesederhana seperti yang kita lihat!"


Jansen tersenyum tipis, "Mereka dikendalikan oleh orang-orang dunia Jianghu yang sama sekali tidak peduli dengan uang dan kekuasaan. Karena itu, Grup Dutch Textile terlihat sangat sederhana dan tidak melakukan ekspansi usaha sedikit pun.


"Dunia Jianghu?"


Raut wajah Ricky sedikit berubah. Dia paling takut berurusan dengan orang-orang dunia Jianghu. Mereka kaya dan berkuasa bahkan tidak bisa diatur oleh pemerintah. Selain itu, mereka juga mampu bertarung dan menyelesaikan segala masalah dengan kekerasan.


"Aku tidak menyangka bahwa ternyata Grup Dutch Textile adalah penguasa dunia Jianghu. Kakak Ipar, lebih baik kita..."


Ricky merasa pesimis dan ingin mundur. Pantas saja, setiap kali Ricky pergi ke kantor Grup Dutch Textile, mereka bersikap begitu arogan terhadap Ricky.


Jansen berkata dengan acuh, "Jangan khawatir, mereka pasti akan bersedia untuk bekerja sama dengan kita!"


"Bagaimana jika mereka tidak bersedia bekerja sama?"


Ricky merasa gelisah.


"Hajar saja mereka sampai mereka bersedia!"


Jansen terlihat acuh tak acuh.


Ricky terdiam. Meskipun kakak iparnya ini punya relasi yang luas di Ibu kota, orang yang dihadapinya sekarang adalah salah satu penguasa dunia Jianghu.


Setengah jam kemudian, mereka berdua tiba di kantor Grup Dutch Textile yang terletak di sebuah gedung pencakar langit modern. Di atas gedung tersebut, terdapat tulisan Dutch Textile yang berukuran besar. Tulisan itu bahkan dapat terlihat dari jarak sejauh satu kilometer.


"Tempat ini jauh lebih mewah daripada kawasan industri!"


Jansen turun dari mobil dan mengangguk.


"Aku pergi menyapa dulu!"


Ricky membawa Jansen ke depan gerbang dan hendak masuk ke dalam, tetapi mereka berdua tiba-tiba dicegat.


"Apa yang kalian lakukan?"


Orang-orang yang mencegat Jansen dan yang lainnya berpakaian jas. Wajah mereka pun terlihat sangar.


"Sejak kapan pihak Dutch Textile memperketat pengamanan?"


Ricky mengerutkan kening dan berkata sambil tersenyum, "Kami di sini untuk membahas kerja sama. Namaku Ricky Miller, aku adalah Presiden Direktur PT Astro Miller yang hari itu pernah mengadakan pertemuan dengan manajer kalian!"


"Aku tidak kenal kamu, keluar sana!"


Salah seorang pria berpakaian jas menegurnya dengan sangat kasar, "Nona muda sedang membahas kerja sama dengan bos Grup Dutch Textile. Tidak ada seorang pun yang boleh mendekat!"


"Apa? Kalian bukan petugas keamanan Dutch Textile?"


Ricky merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan langsung memarahi mereka, "Kalian tidak punya hak melarang orang lain masuk!"


"Tuan, mereka mulai mencegat kami sejak siang hari. Mereka jelas juga sedang berupaya mendapatkan persetujuan kerja sama dengan Dutch Textile. Mereka tidak punya hak melarang kami masuk!"


Saat ini, ada beberapa orang pria berpakaian jas dan sepatu kulit di dekat pintu gerbang. Mereka semua datang untuk membahas masalah kerja sama, tetapi malah diusir keluar.


Mereka tentu tidak akan protes bila yang menolak bekerja sama dengan mereka adalah Grup Dutch Textile. Mereka sangat marah karena yang mencegah mereka masuk adalah kompetitor mereka yang juga merupakan mitra bisnis Grup Dutch Textile.


Mereka adalah pesaing yang berani bertindak semena-mena.


"Jangan hiraukan mereka, mari kita semua masuk ke dalam. Kita lihat berapa banyak orang yang bisa mereka cegat!"


Krek!


Para pria berpakaian jas tertawa mencibir dan langsung menutup pintu gerbang agar mereka semua tidak dapat masuk ke dalam kantor.


Ironisnya, para petugas keamanan Grup Dutch Textile bahkan tidak berani muncul dan terus saja bersembunyi.


"Kalian terlalu semena-mena!"


Semua mitra bisnis pun marah besar.


"Keluarga Gibson sedang ada urusan penting, kalian yang tidak berkepentingan silakan keluar!"


Salah seorang pria berpakaian jas mencemooh mereka setelah menutup pintu besi.


"Dasar Keluarga Gibson! Hati-hati saja, kami pasti akan menuntut kalian!"


Ricky dan mitra bisnis lain juga terus memaki para pria berpakaian jas itu.


"Mereka hanya bisa omong kosong!"


Saat ini, Jansen pun datang sambil berkata dengan sinis. Jansen melihat bahwa mereka ini adalah para legenda bela diri yang selalu bertindak semena-mena. Untuk menghadapi mereka semua, tentu diperlukan cara yang berbeda dengan cara biasa.


"Hei Bocah! Apa kamu cari mati?"


Melihat Jansen tidak menuruti perintah dan terus bersikeras masuk, para pria berpakaian jas itu pun tampak sangat marah.


Mereka sebenarnya sudah merasa cukup bersabar. Kalau tidak, mereka tentu sudah menghajar para bos-bos perusahaan itu. Meskipun pintu besi telah ditutup, masih saja ada orang yang belum mau menyerah.


"Aku akan bunuh salah satu dari kalian sebagai peringatan jika masih ada yang berani!"


Salah satu pria berpakaian jas berkata dengan sinis dan bermaksud memberi pelajaran kepada Jansen sekaligus menunjukkan kepada para bos lain agar mereka tidak berani lagi berbuat onar.


Namun, Jansen sudah tiba di depan pintu besi. Jansen menarik pintu besi itu dengan perlahan.


Krek!


Pintu besi itu pun akhirnya dirusak paksa. Meskipun pintu besi itu sudah berubah bentuk dan punya pegangan yang kasar, pintu besi itu terbuat dari aluminium dan dipesan dari luar negeri.


Namun, sekarang pintu besi itu malah rusak parah. Lantas siapa sebenarnya yang melakukan perbuatan ini?


Namun, kejutan itu belum berakhir. Jansen menarik pintu besi ke bawah dan menggosok kedua tangannya. Pintu besi itu langsung berputar menjadi bola jeruji besi.


Pintu gerbang yang tertutup akhirnya terbuka.


Namun, Ricky dan yang lainnya tidak berani masuk. Mereka semua hanya terdiam kebingungan sambil menatap Jansen.


Pada saat ini, Jansen menancapkan batang besi yang sudah bengkok di atas lantai. Keramik di lantai pun langsung retak. Dia menancapkan batang besi itu hingga ke dalam permukaan tanah persis seperti menanam sayuran.


Gedebuk!


Para pria berpakaian jas itu semuanya terduduk di lantai sambil menatap Jansen dengan penuh ketakutan.


"Apa masih ada orang yang berani mencegatku?"


Jansen memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan menatap para pria berpakaian jas itu.


Tidak ada seorang pun dari mereka yang berani berbicara lagi.


"Kalian jelas bukan pegawai Grup Dutch Textile, tetapi malah berani-beraninya menghalangi kami masuk ke dalam untuk membahas masalah kerja sama. Siapa yang menyuruh kalian berbuat seperti ini? Kalau aku menuntut kalian melalui jalur hukum, kalian pasti akan kelabakan. Untung saja, suasana hatiku hari ini sedang baik. Kalau tidak, aku akan hancurkan kepala kalian. Cepat pergi dari sini!"


Jansen kembali berucap. Setelah itu, para pria berpakaian jas itu spontan menyingkir dan memberinya jalan.


Mereka pun tidak tahu kenapa mereka menyingkir dan memberi jalan kepada Jansen. Suasana di sekitar tiba-tiba terasa mencekam dan menakutkan.


Dalam sekejap, mereka pun merasa bahwa nyawa mereka benar-benar terancam.


Dia adalah seorang master!


Dia pasti seorang master.


"Ayo masuk!"


Melihat mereka semua tidak berani bergerak, Jansen pun memanggil Ricky dan naik ke lift.


Semua mitra usaha pun terus mengikuti Jansen.


"Kakak Ipar, kamu benar-benar seorang pria sejati!"


Ricky menatap Jansen dengan penuh rasa kagum. Ricky pun merasa bahwa Jansen makin dapat diandalkan dan punya sikap tegas serta mampu menyelesaikan masalah dengan baik.


Kakak iparnya yang sekarang jauh berbeda dengan kakak iparnya yang dulu saat baru pertama kali datang ke Ibu kota.


Tentu saja, Ricky juga bisa memahami bahwa kakak iparnya telah melalui banyak hal dan makin dewasa. Anak muda seperti Ricky tentu tidak bisa dibandingkan dengan kakak iparnya itu.


Para mitra usaha di sekeliling juga menyapa Jansen dengan sopan. Pria gemuk itu bahkan meminta Jansen untuk menjadi pengawal pribadinya dan berjanji akan memberikan Jansen gaji seratus ribu yuan per bulan.


Jansen pun hanya tersenyum dan menolaknya.