Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 573. Empat Belas Orang Lagi!


"Kamu tidak mematuhi perintah!"


Semua orang pun terkejut.


"Para tentara bayaran ini berani bertindak sesuka hati di wilayah negara Huaxia. Mereka bahkan membunuh saudara-saudara kita dan bermain-main dengan potongan kepala saudara-saudara kita yang telah mereka penggal. Aku tidak mungkin membiarkan mereka lolos dengan tenang!" Jansen berkata dengan pelan.


"Memang benar begitu, tetapi pihak markas telah mengeluarkan perintah untuk meledakkan wilayah tak berpenghuni dengan pesawat pengebom hingga rata!"


"Kalian seharusnya tahu, jika terjadi pengeboman dalam skala besar, dunia internasional akan menertawakan ketidakmampuan pasukan negara kita. Kita tidak boleh kehilangan muka!”


Jansen berkata demikian lalu menghilang dalam kegelapan malam.


Semua orang pun diam dan tidak membujuk lagi.


"Dokter, kita harus membalaskan dendam Macan Emas, Macan Terbang, dan saudara-saudara kita yang telah meninggal!"


Seorang anggota Tim Macan berseru, “Jika kamu mati dan telah berjuang sekuat tenagamu, aku juga akan membalaskan dendam untuk kalian semua!"


"Aku juga!"


Mereka satu per satu ikut berseru.


Sekarang, mereka semua telah diperintahkan untuk mundur, sehingga mereka semua terpaksa harus pergi. Namun, setelah ini semua berakhir, mereka semua pasti akan berangkat ke luar negeri untuk membalas dendam terhadap Resimen Tentara Bayaran SKY Axe.


"Apa yang sedang dia lakukan? Siapa pria ini, apa dia tidak mendengar perintah?"


Di markas besar, Kepala Komandan Strategi melihat ke layar dan langsung marah besar.


Macan Hitam malah menemukan sesuatu, "Itu ternyata Dokter, anggota tim kami!"


"Sembarangan! Dia seharusnya ditembak mati karena telah melanggar perintah atasan!" Kepala Komandan Strategi berkata dengan sinis.


"Mungkin saja Dokter punya jalan keluar, biarkan saja dia mencobanya!" Macan Hitam mendesak.


Kepala Komandan Strategi menggerutu, "Pasukan pihak musuh masih tersisa sembilan belas orang. Selain itu, masih ada dua orang pemimpin tentara bayaran yang melindungi Barrack. Jansen seorang diri tidak mungkin sanggup menghadapi mereka. Dia akan merusak rencana dan strategi pertempuran yang telah dibuat!"


"Dokter?"


Pria tua itu menyipitkan matanya dan menatap Macan Hitam sambil berkata, "Menurutmu, apakah dia akan berhasil?"


Macan Hitam mengerutkan alis. Jansen telah terluka parah dan terpaksa harus terlibat baku tembak saat mengikuti latihan militer. Sepertinya, Jansen akan sulit berhasil.


Macan Hitam mengangkat kepala lalu berkata, “Jika dia gagal, aku akan menemaninya pergi ke pengadilan militer!"


"Macan Hitam, kamu sudah gila. Apakah kamu rela mengorbankan karirmu demi seorang tentara biasa?"


Kepala Komandan Strategi pun menegur dengan keras, "Tentara ini tidak mematuhi perintah atasan dan meninggalkan tugas tanpa izin. Dia pasti akan diadili di pengadilan militer. Kalaupun dia dijatuhi hukuman tembak mati, kamu sama saja mencelakakan dirimu sendiri jika bersikeras melindungi dirinya!"


"Dia adalah bawahanku!"


Macan Hitam bersikukuh.


Pria tua itu tiba-tiba menyela, "Oke, hubungi pesawat pengebom untuk berhenti bergerak. Beri dia sedikit waktu!"


"Ketua!"


Kepala Komandan Strategi menggerutu sambil menghentakkan kakinya dengan kesal, “Jika tentara ini merusak rencana pertempuran, mengakibatkan Barrack lolos dari pengejaran, dan membuat negara kita kehilangan muka, dia pantas dijatuhi hukuman tembak mati bahkan bila perlu hingga sepuluh kali!"


Macan Hitam mengabaikan ucapan Kepala Komandan Strategi dan langsung menghubungi Jansen melalui radio komunikasi, "Dokter, bagaimana kondisi lukamu? Berapa banyak amunisi yang masih kamu punya, cepat laporkan situasimu sekarang!"


Dalam kegelapan, Jansen bergerak cepat. Profound Qi di dalam tubuhnya membuat tubuhnya terasa hangat, sehingga kesadarannya tetap terjaga.


Suhu di sekitarnya sangat rendah, ditambah lagi dia sudah tidak makan hampir sepanjang hari, kekuatan fisiknya pun sudah mencapai batasnya.


"Lukaku tidak terlalu bermasalah, aku masih punya delapan belas butir peluru dan tiga buah granat!" Jansen menjawab.


"Aktifkan tampilan video!"


Macan Hitam kembali mengeluarkan perintah. Layar menampilkan pemandangan di sana secara langsung beserta kondisi di sekelilingnya yang berubah dengan cepat.


"Anak ini bergerak sangat cepat, apakah dia sedang mengemudikan mobil?"


Pria tua itu sontak terkejut. Dengan kecepatan seperti ini, Jansen sepertinya dapat mengejar Barrack dengan mudah.


"Ketua, dia sudah terluka, dia juga tidak punya tambahan nutrisi. Jika dia terus bertempur dalam waktu panjang, dia tidak akan sanggup bertahan lama!" Kepala Komandan Strategi menyindir dengan wajah masam sambil menatap Macan Hitam.


Pria tua itu tidak berbicara dan terus menatap ke layar.


Dua puluh menit berlalu dengan tenang, kecepatan Jansen mulai melambat. Dia tiba-tiba menemukan ladang ranjau yang luas.


Tentara bayaran ini sangat lihai. Mereka mendirikan ladang ranjau dalam waktu singkat untuk mengulur-ulur waktu pasukan yang mengejar mereka.


Jansen menggunakan Qi melihat untuk menghindari segala macam jebakan. Waktu menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit dini hari, beberapa jam lagi sebelum matahari terbit.


Duar!


Pada saat ini, sebuah roket ditembakkan, tetapi roket itu tidak mengenai Jansen dan mendarat di tempat yang berjarak sepuluh meter dari Jansen.


Meskipun demikian, Jansen sudah menyadarinya sejak awal. Setelah terjatuh, Jansen langsung membidik target dan melepaskan tembakan.


Di tempat yang berjarak sejauh ratusan meter, seorang warga negara asing ditembak di dahi dan jatuh tergeletak.


"Bagus!"


Di dalam markas, semua orang diam-diam menyeka keringat.


Namun, Jansen memiliki kemampuan reaksi yang kuat. Jansen dengan cepat menghindar lalu melancarkan serangan balik dengan menembak pihak musuh.


"Kemampuan refleks yang dimilikinya sangat kuat. Dia juga memiliki pengamatan serta ketenangan yang sangat baik. Dia memang seorang penembak jitu dengan bakat alami!" Pria tua itu memuji.


"Ketua, aku rasa kita tidak boleh merasa senang terlalu cepat. Masih ada delapan orang pasukan musuh yang tersisa. Lagi pula, dia sepertinya sudah berhasil mengejar pasukan yang menjaga di belakang. Jika dia terlibat baku tembak dengan mereka, dia sepertinya akan kesulitan menghadapi mereka!" Kepala Komandan Strategi memperingatkan.


Pria tua itu tiba-tiba terdiam karena ucapan Kepala Komandan Strategi memang benar.


"Senior Angsan, mereka sudah berhasil mengejar kita. Sialan, dia punya kemampuan menembak yang sangat hebat!"


Saat ini, di dalam hutan, ada tujuh orang yang sedang bersembunyi di tempat gelap. Mereka memperlambat laju mereka sambil menunggu untuk berjumpa dengan Angsan.


"Sialan, dia bergerak sangat cepat!"


Pria bernama Angsan menghardik, "Bukankah aku sudah menyuruh kalian meletakkan ranjau? Kenapa ranjau itu tidak meledak?"


"Aku tidak tahu, tapi aku yakin ranjau itu masih aktif!"


Seorang pria bertubuh besar yang memakai penutup kepala kamuflase berkata demikian.


"Tapi, berdasarkan suara tembakan, sepertinya hanya ada satu orang di pihak sana!" Seorang pria lain menebak berdasarkan pengalaman yang dimilikinya.


"Dia bahkan berani datang seorang diri, benar-benar cari mati! Saudara-saudara sekalian, bunuh dia!"


Angsan berteriak dan langsung melepaskan tembakan ke depan dengan senapan mesin ringan.


Ada tiga orang lagi yang memegang senapan gatling di sampingnya. Seorang pria bertubuh kekar pun berteriak dan melepaskan tembakan ke depan dengan membabi-buta.


"Dasar bocah kulit kuning, kamu masih belum mati juga!"


Semua pepohonan di depan telah ambruk, situasinya porak-poranda. Bahkan, seorang Master Tingkat bumi pun sepertinya sulit menahan gempuran senjata yang mengerikan. Apalagi, Jansen juga sudah terluka.


"Gawat! Cepat tiarap!"


Di dalam markas, semua orang terlihat tegang.


Tembakan yang datang menerjang sangat dahsyat. Jansen sepertinya sulit menahan tembakan tersebut.


Lebih dari sepuluh menit berlalu, gempuran pihak musuh mulai melemah. Saat ini, tampilan di layar terus berubah dengan cepat. Sepertinya, Jansen mulai bergerak. Dalam waktu singkat, mereka semua hanya bisa melihat pepohonan di dalam hutan yang sudah berantakan.


Bang!


Terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga.


"Masih ada tujuh belas orang lagi!"


Pada saat bersamaan, suara Jansen terdengar di radio komunikasi.


Pria tua dan yang lainnya terdiam. Apakah Jansen telah berhasil membunuh satu orang tentara pihak musuh?


Berdasarkan situasi sebelumnya, saat dihujani tembakan dengan senapan mesin berat, bagaimana caranya Jansen membidik pihak musuh dengan tepat?


Bang!


Pada saat bersamaan, pria bertubuh besar yang memegang senapan gatling terkena tembakan di bagian dahi dan langsung jatuh tengkurap.


"Beruang Hitam!"


Ketiga pria yang memegang senapan gatling berteriak keras, mata mereka berkaca-kaca.


Beruang Hitam telah ikut dalam banyak pertempuran bersama dengan mereka. Hubungan persahabatan mereka sangat dekat layaknya hubungan saudara. Namun, Beruang Hitam telah tewas.


'Sialan!'


Mereka sangat membenci orang yang melepaskan tembakan secara diam-diam.


Bang!


Satu tembakan kembali dilepaskan. Salah satu dari ketiga orang itu terkena tembakan di bagian kepala.


"Enam belas orang lagi!"


Jansen mengisi peluru dengan cepat, secepat kilat.


"Tidak!"


Dua orang lainnya berteriak keras.


Bang!


Lima belas orang lagi masih tersisa.


"Ada penembak jitu, cepat tiarap dan cari tempat berlindung!"


Tentara bayaran di sekeliling langsung kocar-kacir.


Bang!


Suara tembakan terdengar untuk ketiga kalinya. Semua orang yang memegang senapan gatling akhirnya tewas.


Masih ada empat belas orang yang tersisa.


Di dalam markas, suasana sangat hening.