
Atap itu tiba-tiba menjadi sunyi, tetapi terasa sekali aura pertengkaran yang membara.
Wajah Ghalinus sangat murung. Jansen sudah bersikap arogan dari awal dan bahkan sampai sekarang masih bersikap seperti itu.
"Siapa pun yang bisa mengalahkannya akan diberi hadiah!"
Ghalinus meneriakkannya dengan amat serius.
"Biarkan aku yang menghajarnya!"
Seorang pria keluar dan melepas jaketnya, memperlihatkan otot-ototnya yang kuat.
Momen seperti ini juga merupakan periode terbaik untuk bisa naik pangkat. Siapa pun yang bisa membunuh Jansen pasti akan dimanfaatkan kembali oleh Ghalinus.
"Nak, ketika aku berjuang di Asia Tenggara, kamu sendiri masih belum berhenti meminum susu!"
Sesuai mengucapkannya, pria itu langsung menyerang Jansen. Dia melakukan gerakan yang tangkas dan menargetkan titik fatal dari tubuh Jansen.
Ia sedang mencoba meraih leher Jansen dengan telapak tangannya, namun sebenarnya, tangan satunya lagi sudah menyiapkan kapur sirih untuk dilemparkan ke mata Jansen.
Itu adalah kapur. Jika sampai mengenai mata, kedua matanya akan berisiko mengalami kebutaan.
Para gangster ini selalu menggunakan segala cara untuk menang.
Jansen meraih telapak tangannya dan memegang telapak tangan pria itu. Pria itu terdiam sesaat dan berpikir di dalam hati betapa cepat gerakan dari Jansen itu. Dia langsung saja menumpahkan kapur itu!
Tapi saat ini, angin kencang bertiup kencang dari balik tangan Jansen. Kapur sirih yang tadinya sudah dilempar, justru ditiup balik dan mengenai mata pria itu.
"Ah, mataku!"
Pria itu berteriak meringis sambil menutupi matanya.
Jansen menendang keluar, mematahkan tulang rusuknya dan melompat mundur puluhan meter jauhnya.
Saat ini, seseorang di belakangnya memegang penutup karung. Ini juga trik mereka yang biasa lakukan. Selama target ditutupi oleh karung dan 'disambut' oleh tongkat besi, bahkan master bela diri yang paling kuat pun akan menjadi lemah dan bisa dipukuli sampai mati!
Orang yang melakukan trik itu adalah pria berotot dengan lengan yang kuat. Dia langsung menutupi Jansen dengan karung tersebut.
"Pukul dia sampai mati!"
Orang-orang di sekitar memanfaatkan kesempatan itu dan bergegas dengan jeruji besi di tangan mereka.
Ghalinus sedang merokok dan menonton. Wajahnya penuh rasa puas dengan kekejaman itu. Ia sontak melempar puntung rokok dan mengambil sebatang besi dari samping. Ia berinisiatif untuk bergegas.
Duar!
Tak lagi menunggu mereka memukulinya, karung yang menutupi Jansen tiba-tiba meledak terbuka, membuat semua orang terdiam membeku!
Jansen mencibir, seperti seekor puma hitam telah merasukinya, dia langsung mencengkeram pria berotot yang sudah mengarunginya tadi. Pria berotot yang sedang memegang karung itu melolong kesakitan. Pria setinggi dua meter itu berlutut, dan dadanya terpelintir oleh cengkraman Jansen. Ini benar-benar rasa sakit yang menusuk di dadanya.
"Itu saja yang kamu punya?"
Jansen berbalik melihat kerumunan lagi. Salah satu dari mereka yang memiliki kaki panjang dan sekumpulan orang yang sedang memegang jeruji besi, langsung saja ikut bersenang-senang dan berhasil ditendang oleh Jansen terbang keluar.
Ghalinus sendiri adalah petarung yang lambat. Ia tidak mendekati Jansen. Jika sampai dia harus bertarung dengan Jansen, dia pastinya akan tersiksa.
Ghalinus pun akhirnya menghirup napas dengan dalam, "Kemampuanmu boleh juga. Apakah kamu tertarik untuk menjadi muridku? Selama kamu setuju, aku tidak akan mengganggu rumahmu. Aku juga tidak akan mengganggu teman-teman wanitamu!"
Pada awalnya, dia ingin membunuh Jansen, tapi setelah melihat keterampilan Jansen, dia tahu jika orang ini bisa diandalkan untuk dirinya sendiri. Wilayah kekuasaannya akan lebih stabil dan dia juga akan bisa merebut wilayah orang lain.
Jansen tidak bisa menahan tawa. Entah dari mana Ghalinus mendapatkan ide seperti ini.
Ia juga merasa itu sedikit aneh. Orang seperti Ghalinus seharusnya tidak terlalu impulsif dalam melakukan sesuatu. Misalnya, Rumah Istana itu sangatlah besar dan Jansen sendiri adalah pemiliknya. Mengapa Ghalinus tidak mencari dahulu latar belakang Jansen?
Tidakkah dia merasakan ada hal yang aneh tentang hal itu?
"Hahaha, maafkan aku. Aku sebenarnya ingin menjadi yang paling berkuasa. Bagaimana kalau ku jadikan kamu saja yang ku jadikan sebagai muridku?" balas Jansen dengan tersenyum tipis.
Ghalinus mengangkat bahunya. "Bro, perkumpulan ini tidak bisa dibuka hanya karena kamu bisa bertarung. Sekarang, masyarakat kita adalah masyarakat hukum. Tapi denganku, aku bisa menggunakan kemampuan terbesarmu dan mengabaikan hukum."
"Kalau kamu yang mengikuti ku, aku justru akan mengembangkan keahlianmu!" balas Jansen.
Amarah yang baru saja diredam oleh Ghalinus kembali membara. Kenapa pria ini masih tidak mengerti maksud omongannya? Jansen terus menerus menentangnya, lagi dan lagi.
"Kamu benar-benar ingin cari mati, ya!" Ghalinus benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Nada bicara Jansen tiba-tiba berubah menjadi cuek. Jansen mendekati Ghalinus dan mengibaskan sebatang jeruji besi ke arah Ghalinus!
Tasss!
Wajah kiri Ghalinus pun hancur karena ayunan batang besi itu. Giginya terbang keluar dan setengah wajahnya penuh dengan lebam. Saat sedang menarik napas, wajahnya mengembang seperti bengkak total.
"Pukul, pukul saja dia sampai mati!"
Setelah terjatuh ke atas lantai, Ghalinus langsung meraung.
Kerumunan muridnya kini tidak ragu-ragu lagi. Mereka langsung menangkap dan menerkam Jansen. Dengan seluruh kekuatan mereka, melawan Jansen pastinya akan sama seperti sedang melawan seekor domba.
Lima menit kemudian, lantai justru penuh dengan orang-orang dengan tangan dan kaki yang patah, mereka semua berteriak kesakitan. Sejumlah besar orang melarikan diri, hanya menyisakan beberapa orang yang berbaring gemetaran di tempatnya.
Mereka biasanya begitu bersikap begitu kejam. Namun, begitu tulang dan otot mereka disobek dan patah, semua sikap kejam itu pun langsung menghilang.
Jansen lantas melemparkan batang besi yang ada di tangannya. Dia sama sekali tidak berkeringat. Jansen akhirnya menatap Ghalinus dengan samar.
"Siapa kamu!"
Ghalinus bertanya dengan sungguh-sungguh sambil membelai wajah kirinya yang terasa sakit.
"Sudah kubilang, aku seorang dokter!"
"Bohong, bagaimana bisa ada dokter yang bisa bertarung seperti itu?!"
Ghalinus berteriak dengan marah, "Mau bagaimanapun kamu bisa bertarung, masyarakat ini adalah masyarakat yang taat hukum. Hari ini, aku akan mengakui kekalahanku, tapi hidupmu tidak akan mudah. Mulai besok dan seterusnya, aku akan memanggil ratusan muridku ke depan rumahmu setiap hari untuk membuat onar. Teman-temanmu tidak boleh keluar. Kalau sampai keluar rumah, mereka yang akan menghilang!"
"Bertarung denganku? Aku akan membunuhmu dalam hitungan menit saja!"
"Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir sekarang. Berlutut dan mengakui kesalahanmu. Sembah aku sebagai bosmu dan aku akan mengampuni mu!" ucap Ghalinus.
Mendengar hal itu, Jansen tidak bisa menahan senyumnya lagi, "Sejak kapan orang-orangmu memanfaatkan hukum sebagai senjata? Selain itu, kalian hanya anak kucing dan anak anjing di jalanan. Kalian takkan mampu melakukannya!"
"Kamu meremehkan aku?"
Ghalinus mengerutkan keningnya.
"Bukannya aku meremehkanmu, tapi entah berapa banyak orang yang sudah kuhabisi tahun ini dan mereka semua bersikap sepertimu ini!" jawab Jansen berkata dengan cuek. "Anggap saja kamu sedang beruntung. Pertama, aku baru pertama kalinya datang ke wilayah selatan untuk menetap dan tak ingin menimbulkan masalah bagi keluargaku, makanya sekarang kamu masih bisa berbicara denganku. Kedua, aku malas mencari masalah, agar masalah denganmu ini kian reda, barulah aku setuju untuk mengikutimu kemari!"
"Kalau kamu berani datang ke Rumah Istanaku lagi, yakinlah bahwa kepalamu takkan menjadi milikmu lagi!"
Saat dia berbicara, Jansen berjalan mendekat, meraih pakaian Ghalinus, membawanya ke pinggiran atap, dan mendorongnya setengah badannya dari atap.
"Bukankah kamu bilang kalau kamu sangat tangguh? Sekarang tunjukkan padaku ketangguhanmu itu!"
Melihat pemandangan ini, orang-orang lainnya berteriak, "Lepaskan Bos Ghalinus, atau kamu yang akan merasakan akibatnya!"
Tentu saja, mereka hanya menggertak saja. Mereka sama sekali tidak berani mendekati Jansen.
Sebelumnya, Jansen sudah menghabisi mereka semua, meninggalkan sebuah trauma di hati mereka.
"Kamu, lepaskan aku sekarang!"
Tubuh gemuk Ghalinus terus meronta, namun dia masih belum bisa lepas dari telapak tangan Jansen.
Sebaliknya, angin menderu, membuatnya tahu bahwa dia berada di puncak lantai delapan belas.
"Aku mengikuti mu ke sini, bukan untuk mendengarkan omong kosongmu, tapi sepertinya kamu yang tidak menghormatiku!"
Jansen masih menekan Ghalinus dan mendaratkan tamparan ke wajah Ghalinus, "Katakan padaku, apa yang sebenarnya kamu rencanakan selanjutnya!"
"Apa yang kamu inginkan?!" teriak Ghalinus.
Wajah kirinya pun akhirnya dipukul lagi. Udara dingin malam itu membuat kulitnya terasa makin kesakitan.
"Kamu masih tidak mengerti apa yang aku inginkan?" Jansen menggelengkan kepalanya, "Aku ini sedang mengancammu sekarang. Apakah kamu mengerti aku?"
"Mengancamku? Aku sudah lama bergabung dengan gang ini selama lebih dari 30 tahun. Siapa yang berani mengancamku? Mereka yang mengancamku sudah mati. Kamu berikutnya!" jawab Ghalinus kembali. Orang ini benar-benar keras kepala.
"Hanya seorang gangster lokal saja. Kamu pikir aku tidak akan berani membunuh gangster sepertimu?"
Jansen kembali melayangkan tamparan dan meneriakinya, "Kamu hanya memiliki satu kesempatan terakhir sekarang. Lakukan sesuatu untukku. Kalau tidak, mati!"