
Akhirnya Flower pun berpamitan sebentar pada Andini untuk keluar dari ruangan kerjanya untuk mengabari Malik jika ia akan makan siang bersama dengan Andini sambil menunggu Malik selesai dengan pekerjaannya. Untung saja Malik mengiyakan perkataan Flower dan tidak banyak bertanya pada Flower.
Dan di sinilah Flower dan Andini kini berada. Di kantin perusahaan Bagaskara yang menjadi tempat favorit makan siang mereka dulu jika mereka malas untuk makan siang di luar perusahaan.
"Flower, setelah satu minggu semenjak kau berhenti dari perusahaan ini aku sangat penasaran kemana perginya dirimu karena kau tidak pernah lagi membalas pesan yang aku kirimkan bahkan dari informasi yang aku dengar kau sudah tak lagi tinggal di rumah kedua orang tuamu." Ucap Andini membuka pembicaraan di antara mereka.
Flower menghela nafas sejenak sebelum membalas perkataan Andini.
"Andini, aku harap kau tidak terkejut setelah mendengarkan penjelasan aku ini." Ucap Flower berniat jujur pada Andini yang sudah ia anggap sebagai teman baiknya saat ini.
"Ya, aku membutuhkan penjelasan darimu saat ini." Ucap Andini dengan tatapan berubah serius.
Flower pun tanpa basa-basi menceritakan apa saja yang terjadi padanya dua bulan yang lalu tanpa ada ia tutupi pada Andini. Tentu saja pernyataan Flower itu membuat Andini begitu terkejut mendengarnya hingga kedua bola matanya kini nyaris keluar dari wadahnya.
"A-apa, kau sudah menikah dengan Tuan Malik?" Tanya Andini terbata.
Flower pun mengangguk mengiyakannya. "Bukan hanya sudah menikah. Aku kini bahkan sudah mengandung anak dari Malik." Ucap Flower sambil mengusap perutnya.
Glek
Andini meneguk salivanya susah payah saat melihat ke arah perut Flower yang sudah terlihat sedikit membuncit.
"Jadi perut buncitmu itu bukan berisi lemak tapi seorang anak?" Tanya Andini dengan mata berkedip-kedip.
"Seperti yang kau pikirkan." Jawab Flower.
"Sudahlah, jangan berpikiran yang macam-macam." Ucap Flower merasa malas melihat Andini yang terlihat sedang berpikir.
"Emh, ya." Jawab Andini sambil tersenyum kaku dan merasa malu karena Flower mengetahui apa yang tadi ia pikirkan.
Setelah cukup lama berbicara dengan Andini sambil menikmati makan siang bersama, Flower pun berpamitan untuk kembali ke ruangan kerja Malik karena Malik sudah menunggunya di sana.
"Flower jangan lupa kirimkan alamat lengkap rumahmu saat ini karena minggu besok aku akan datang mengunjungimu." Ucap Andini sebelum Flower meninggalkannya.
Flower mengangguk mengiyakannya lalu melangkah meninggalkan Andini.
"Flower... kau sungguh beruntung mendapat suami seperti Tuan Malik. Aku yakin bersama Tuan Malik kau akan bahagia karena dia akan menjagamu dengan baik." Ucap Andini sambil menatap punggung Flower yang semakin jauh darinya.
Beberapa saat berlalu, kini Flower sudah kembali berada di lantai tertinggi perusahaan tepatnya di depan pintu ruangan kerja Malik. Flower yang hendak masuk ke dalam ruangan kerja Malik mengurungkan niatnya saat mendengar suara Malik sedang berbicara dengan seorang wanita di dalam sana.
"Siapa itu?" Gumam Flower merasa awas. Karena tak ingin larut dalam rasa penasaran, Flower pun membukan pintu ruangan kerja Malik.
"Dia..." gumam Flower dengan tatapan tajam tertuju pada wanita yang tengah menatapnya saat ini.
"Kau sudah kembali?" Tanya Malik pada Flower yang hanya diam berdiri di depan pintu ruangan kerjanya.
***