
Dan akhirnya apa yang diharapkan Zaki pun terwujud. Ia berhasil mengajak Flower untuk pulang bersama walau awalnya wanita itu terlihat menolak dengan keras ajakannya untuk pulang bersama. Bukannya tanpa alasan Flower mau menerima ajakan Zaki, ia menerimanya hanya karena tidak tahu harus kembali pulang bersama siapa dan jika ingin memesan taxi online rasanya Flower enggan melakukannya.
Dan di sinilah sekarang Flower berada. Di dalam mobil mewah milik Zaki. Tidak ada senyuman yang terpancar di wajah Flower sejak masuk ke dalam mobil. Yang ada hanyalah raut wajah masam yang ia tunjukkan pada Zaki pertanda ia tidak begitu senang pulang bersama pria itu.
Walau dapat melihat ekspresi tidak mengenakkan Flower untukknya, namun Zaki tetap merasa senang karena kini ia memiliki waktu lebih banyak bersama Flower bahkan berdekatan seperti saat ini bersama Flower.
"Flow, apa mobilku terasa bau?" Tanya Zaki saat melihat Flower menutup hidungnya dengan tangannya.
"Aroma parfum mobilmu terlalu menyengat dan aku merasa mual menciumnya." Ucap Flower jujur.
Zaki mengendus aroma parfum mobilnya. Dan tidak seperti yang Flower katakan, aroma parfum mobilnya tidak menyengat bahkan sangat nyaman tercium oleh indera penciumannya. Zaki pun memilih diam tak menyangkal perkataan Flower karena ia tidak ingin semakin merusak mood Flower saat ini.
"Flower, apa kau tidak berniat untuk bekerja di perusahaan keluargamu saja? Menurutku sudah waktunya kau bekerja di perusahaan keluargamu untuk membantu Daddymu di sana." Ucap Zaki membuka pembicaraan serius di antara mereka.
Mendengar pertanyaan dari Zaki membuat Flower terdiam beberapa saat. Zaki pun turut memilih diam tak ingin memaksa Flower untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku sedang memikirkannya." Jawab Flower singkat pada akhirnya.
Zaki menahan senyum mendengar jawaban Flower yang terdengar lembut di telinganya. "Memang tidak mudah untukmu bisa langsung bekerja menjadi pemimpin di perusahaan keluargamu. Namun menurutku untuk saat ini kau sudah bisa belajar menjadi pemimpin dengan bekerja di perusahaan Arnold dengan bantuan Om William." Saran Zaki.
"Ya. Kau benar. Tapi bisakah untuk saat ini kau memilih diam karena aku sedang merasa tidak berselera untuk berbicara." Pinta Flower dengan datar.
Sedangkan Flower yang tidak lagi memperdulikan Zaki memilih menatap keluar kaca mobil menatap jalanan sambil menahan rasa mual pada perutnya karena mencium aroma parfum mobil Zaki.
Setengah jam berlalu, mobil Zaki telah berada tepat di depan rumah Flower. Zaki pun segera keluar dari dalam mobil berniat membukakan pintu untuk Flower, namun sayang niatnya tak terwujud karena Flower sudah turun lebih dulu dari dalam mobilnya.
"Terima kasih telah mengantarkanku pulang." Ucap Flower datar pada Zaki.
"Sama-sama." Balas Zaki.
"Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu." Pamit Flower.
Zaki tak langsung menjawabnya hingga membuat Flower merasa bingung karenanya.
"Ada apa?" Tanya Flower karena ia sudah sangat ingin masuk ke dalam rumahnya.
"Flow, apa kau tidak berniat menawarkanku untuk masuk lebih dulu?" Tanya Zaki hati-hati.
"Tidak. Aku tidak berniat dan tidak ingin. Lagi pula aku tidak ingin memasukkan pria ke dalam rumah di saat kedua orang tuaku tidak sedang berada di rumah." Jawab Flower datar namun penuh sindiran.
***