One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Tidak boleh pergi


"Daddy, ada apa dengan wajahmu?" Tanya Flower yang menangkap perubahan ekspresi Daddynya.


"Tidak apa-apa. Memangnya ada apa dengan wajah Daddy?" Dad William balik bertanya.


"Wajah Daddy seperti orang sedang kesal." Jawab Flower seadanya.


Kepala Dad William menggeleng. "Tidak seperti itu. Hanya perasaanmu saja." Elaknya.


Mom Rania memicingkan kedua matanya menatap pada suaminya itu. Melihat tatapan istrinya membuat Dad William memalingkan wajahnya ke samping.


Dia pasti teringat dengan kejadian saat Baby lahir dulu. Ucap Mom Rania dalam hati. Mom Rania menebak jika saat ini suaminya merasa trauma dan takut akan menjadi pelampiasan kesakitan Flower kembali.


"Mommy, apa persalinan kedua Flow nanti terasa lebih sakit?" Tanya Flower.


"Mommy juga tidak tahu. Mom kan hanya pernah melahirkan dirimu." Jawab Mom Rania seadanya.


"Benar juga, ya. Harusnya Flower bertanya pada Tante Kyara karena anaknya ada dua." Ucap Flower.


Mom Rania mengangguk mengiyakannya. "Tapi jangan terlalu dipikirkan. Persalinanmu nanti akan terlewati juga dengan semestinya." Tutur Mom Rania tidak ingin putrinya terlalu banyak pikir.


"Iya, Mommy." Flower menurut. Lagi pula ia tidak terlalu memikirkannya seperti yang Mommy Rania takutkan saat ini. Dibandingkan memikirkan persalinannya, Flower lebih memikirkan nasib putri kecilnya saat ia melahirkan nanti. Apa putri kecilnya sanggup berjauhan darinya atau justru sebaliknya.


"Mommy, apa Baby tidak bisa ikut dengan Flower menginap di rumah sakit saja? Rasanya Flow tidak kuat bila jauh darinya." Keluh Flower.


"Tentu saja tidak bisa. Rumah sakit tidak baik di datangi terlalu lama oleh anak kecil seperti Baby. Lagi pula dokter pasti akan melarang Baby untuk menginap." Tutur Mom Rania.


Pandangan Flower beralih pada putrinya yang sedang berjalan ke arah pengasuhnya sambil memegang boneka kelincinya.


"Baby, semoga saja kau tidak merasa kekurangan kasih sayang dari Mommy jika saat Mommy melahirkan nanti." Ucap Flower pelan namun dapat didengar oleh Mom Rania.


Mom Rania mengusap tangan Flower. "Kau tenang saja, ada Mommy dan mertuamu yang akan memberikan kasih sayang lebih pada Baby nanti." Ucap Mom Rania menenangkan putrinya.


"Ada apa? Tumben sekali Kak Rey menelefonmu di waktu libur seperti ini?" Tanta Flower.


Malik tak langsung menjawab. Ia justru menatap wajah Flower dengan intens.


"Malik?" Ucap Flower lagi.


"Ada sedikit masalah pekerjaan di kota B. Sepertinya aku harus pergi ke sana besok hari." Jawab Malik. Hembusan nafas Malik terdengar berat setelah mengatakannya.


"Apa?" Dad William yang bersuara. "Kau ingin pergi ke kota B esok hari?" Ulang Dad William dah diangguki oleh Malik sebagai jawaban. "Tidak bisa. Kau tidak boleh pergi!" Ucap Dad William tegas.


Tentu saja perkataan Dad William yang melarang Malik pergi membuat Flower dan Mom Rania bingung mendengarnya.


"Kenapa Malik tidak boleh pergi? Biarkan saja Malik pergi Daddy." Jawab Flower tak setuju dengan perintah Daddy.


"Dia tidak boleh pergi karena—" Dad William menghentikan perkataannya. Ia merasa bingung apakah harus mengutarakan apa yang ada di hatinya atau tidak.


"Karena apa?" Selidik Mom Rania dengan mata memicing.


Karena jika Flower melahirkan secara mendadak maka akulah yang akan kembali menjadi korban pengeroyokannya! Jawab Dad William namun dalam hati.


***


Sebelum lanjut, Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗