
Saat sore hari telah tiba, Flower terlihat begitu bersemangat menunggu Malik pulang dari tempat kerjanya. Di depan rumahnya Flower sudah duduk dengan anggun sambil memainkan ponselnya menunggu Malik pulang.
"Seharusnya sebentar lagi dia sudah pulang." Ucap Flower setelah melihat jam di ponselnya. Dengan rasa tak sabar Flower terus menatap ke arah jalan untuk melihat kedatangan mobil Malik.
Deg
Deg
Lima menit berlalu kini mobil Malik sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Flower menunggu suaminya itu keluar dari dalam mobilnya dengan jantung berdebar-debar.
"Ka-kau sudah pulang?" Tanya Flower sedikit terbata. Flower bahkan lupa jika ia sedang memasang mode diam pada Malik. Agh, sepertinya Flower tidak memperdulikannya.
Malik tak langsung menjawab pertanyaan istrinya justru menatap wajah Flower dengan intens.
"Malik." Ucap Flower karena Malik hanya diam saja.
"Ayo masuk." Ajak Malik.
Flower mengiyakannya lalu melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti Malik.
Setelah berada di dalam rumah Flower pun dengan rasa tidak sabar langsung mempertanyakan cincin yang diberikan Malik untuknya.
"Malik, apa benar cincin itu pemberian darimu? Bagaimana kau bisa tahu jika aku sangat menginginkannya? Cincin itu sangat mahal apa kau memiliki uang untuk membelinya?" Tanya Flower bertubi-tubi.
Malik menghela nafas mendengar banyak pertanyaan dari istrinya itu. "Dimana cincinnya, kenapa kau tidak memakainya?" Tanya Malik.
"Cincinnya masih berada di dalam kotak. Aku tidak memakainya karena aku ingin memastikan lebih dulu kau membeli cincin itu dengan cara tidak berhutang." Ucap Flower dengan wajah polosnya. Sepertinya wanita itu sangat takut jika suaminya itu kehabisan uang karena membelikan hadiah untuknya.
"Ayo kita ke kamar." Ajak Malik menarik tangan Flower ke dalam kamar mereka. "Sekarang keluarkan cincinnya." Titah Malik.
Flower mengiyakannya lalu melangkah ke arah lemari untuk mengeluarkan kotak cincin itu dari sana.
Malik menerimanya dan membuka kotak cincin tersebut. Setelahnya ia mengambil cincin tersebut dan meminta Flower mengulurkan jarinya.
Deg
Flower dibuat berdebar-debar saat tangannya merasakan tangan lembut Malik kini menyematkan cincin berlian tersebut di jarinya.
"Ka-kau..." Flower dibuat tak dapat berkata-kata. Kedua bola matanya pun tanpa sadar berkaca-kaca karena merasa haru mendapatkan sebuah hadiah yang sangat mahal dari suaminya itu.
"Hadiah ini aku berikan sebagai ucapan terima kasih karena kau telah berjuang sejauh ini menjadi ibu yang baik untuk anak kita." Ucap Malik datar hingga menghilangkan kesan romantis di antara mereka.
Flower yang sudah biasa mendengar perkataan datar Malik pun tak memperdulikannya karena kini ia merasa begitu haru mendapatkan hadiah dari suaminya itu.
Jika istri pada umumnya mungkin akan langsung memeluk suaminya jika diberikan hadiah seperti Flower, berbeda dengan Flower yang memilih hanya mengucapkan terima kasih karena ia harus menjaga jarak di antara mereka.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Malik kemudian.
Flower seketika menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Ini adalah cincin incaranku." Jawab Flower jujur.
Malik hanya mengangguk mendengarnya. "Besok aku akan membawamu bertemu dengan orang tuaku." Ucap Malik setelah beberapa saat ini dan Flower saling terdiam.
"Bertemu ibumu?" Ulang Flower memastikan.
Malik menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku kau siap?" Tanya Malik.
"Tentu saja. Aku siap unruk bertemu dengan ibumu." Ucap Flower dengan yakin.
***