
"Tuan Malik?" Ucap Zaki dengan wajah terkejut melihat sosok pria yang sangat dikenalinya. "Kenapa Tuan Malik ada di—" pertanyaan Zaki terputus saat mendengar pintu mobilnya sudah tertutup dari luar yang menandakan Flower telah turun dari dalam mobilnya.
"Flower sudah turun, Tuan." Ucap Andini memberi tahu.
"Aku tahu itu." Jawab Zaki lalu segera turun dari dalam mobilnya.
Andini pun sontak melakukan hal yang sama tanpa perduli jika mereka akan terkena hujan jika turun dari dalam mobil tanpa menggunakan payung.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Malik sedikit keras pada Flower yang baru saja berdiri di depannya setelah berlari saat sudah keluar dari dalam mobil.
"Berlari." Jawab Flower singkat sambil memegang bajunya yang sedikit basah terkena air hujan.
"Apa kau tahu perbuatanmu tadi sangat berbahaya?" Tanya Malik masih dengan nada tinggi tanpa memperdulikan jika ada Zaki yang turut sudah berada di depannya saat ini.
"Ehem." Deheman Zaki membuat Malik segera mengalihkan pandangan pada Zaki. "Tuan Malik?" Sapa Zaki.
Malik menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis membalas sapaan Zaki.
"Kenapa anda bisa ada di sini?" Tanya Zaki tanpa basa-basi pada Malik.
"Karena dia adalah suamiku." Jawab Flower sedikit ketus pada Zaki.
"A-apa? Suami?" Ulang Zaki dan diangguki Flower sebagai jawaban. "Kau jangan berbohong Flower, mana mungkin Tuan Malik adalah suamimu." Ucap Zaki sambil tertawa kecil.
"Terserah jika kau tidak percaya." Jawab Flower acuh. Lagi pula apa untungnya bagi Flower jika Zaki mau percaya perkataannya.
"Flower benar jika saya adalah suaminya." Ucap Malik tegas.
"Apa?!" Kali ini suara Zaki terdengar meninggi. "Bagaimana bisa?" Tanyanya tanpa sadar.
"Ck. Kau ini terlalu banyak bertanya." Balas Flower dengan wajah malas.
Malik menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
"Bersuaralah agar tak membuatnya takut." Bisik Flower pada Malik.
"Terima kasih telah mengantarkan istri saya pulang, Andini, Tuan Zaki." Ucap Malik datar namun penuh penekanan di kata "istri".
Zaki hanya bisa menelan rasa keterkejutannya seorang diri. Bagaimana bisa wanita yang menjadi incarannya bisa menikah dengan pria datar seperti Malik pikirnya. Dan tak lupa Zaki juga mengingat jika saat di Surabaya kemarin Flower dan Malik sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda jika mereka menjalin sebuah hubungan.
"Terima kasih telah mengantarkan aku pulang." Ucap Flower datar pada Zaki.
Zaki menganggukkan kepalanya. Walau masih banyak pertanyaan yang berkeliaran di pikirannya namun Zaki memilih segera berpamitan karena tidak nyaman melihat tatapan Malik padanya saat ini.
"Ayo masuk." Malik menarik tangan Flower untuk masuk ke dalam rumah setelah Zaki dan Andini kembali masuk ke dalam mobil.
"Ish, lepaskan tanganku!" Ucap Flower sambil menyentak tangan Zaki.
"Kenapa kau pulang bersama pria itu?" Tanya Malik dengan tatapan berubah tajam.
"Memangnya kenapa? Aku pulang bersamanya karena cuaca sedang hujan dan Andini tidak ingin aku kehujuanan jika pulang bersamanya naik motor." Jawab Flower.
"Kenapa kau tidak meminta jemput padaku justru memilih pulang bersama pria lain?" Malik tak menyurutkan tatapan tajam di wajahnya.
"Kau ini kenapa? Kenapa kau seperti orang sedang marah saja." Tanya Flower kesal.
"Aku tidak suka jika kau pulang bersama pria lain selain diriku!" Tekan Malik sambil mencengkram lengan Flower.
***