
Flower terus memuntahkan makanan dari dalam perutnya hingga lidahnya kini terasa pahit. Tubuhnya pun kini terasa semakin lemas karena baru saja memuntah isi dalam perutnya.
"Ada apa ini, kenapa perutku terasa mual sekali? Apa aku mengidap penyakit lambung saat ini?" Lirih Flower sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Karena merasa tubuhnya sudah semakin lemah dan sulit untuk melangkah, Flower pun memutuskan untuk duduk di atas lantai kamar mandi barang sejenak.
Setelah merasa tubuhnya sedikit bertenaga, Flower pun keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah tertatih.
"Pucat sekali." Gumam Flower menatap penampakan wajahnya di depan cermin. "Tahu begini lebih baik aku membeli obat di apotek sebelum pulang ke rumah tadi." Lanjut Flower kemudian.
*
Satu minggu tanpa terasa telah berlalu, dan kini Flower telah bekerja di perusahaan Arnold sesuai dengan permintaan Daddynya. Walau awalnya Flower merasa terpaksa menuruti keinginan Daddynya untuk bekerja di perusahaan, namun kini Flower belajar untuk menerimanya karena menurutnya itu lebih baik dari pada ia harus bekerja di perusahaan Bagaskara dan terus melihat interaksi Rey dan Yura ketika jam makan siang tiba.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang terdengar dari luar ruangan kerjanya mengalihkan perhatian Flower dari tumpukan berkas di depannya.
"Masuk." Ucap Flower mempersilahkan seseorang yang berada di luar ruangan untuk masuk ke ruangannya.
Ceklek
Pintu ruangan Flower terbuka dan memperlihatkan seorang wanita cantik tengah menenteng sebuah plastik bewarna putih yang berisi makanan.
"Arini, kau sudah datang." Kedua bola mata Flower berbinar menatap sekretarisnya telah datang dan tengah membawa makanan yang tadi dipesannya.
"Letakkan di atas meja sofa saja." Ucap Flower.
Arini mengiyakannya lalu melangkah ke arah meja sofa. Flower pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Arini yang tengah mengeluarkan makanan dari dalam kantong plastik.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" Tanya Arini saat memperhatikan wajah Flower yang terlihat pucat.
"Saya baik-baik saja." Jawab Flower.
"Tapi wajah anda terlihat sangat pucat Nona." Ucap Arini merasa cemas dengan atasannya. Sudah tiga hari sejak Flower bekerja di perusahaan Arnold ia selalu melihat wajah atasannya itu nampak pucat dan layu.
"Sudahlah, ayo buka makanannya." Titah Flower tak menanggapi lagi apa yang Arini katakan karena kini ia sudah tidak sabar menikmati makanan yang Arini bawa dan berharap setelah memakannya tenanganya akan bertambah.
Arini terpaksa mengangguk saja karena tidak ingin merusak mood baik atasannya. Baru saja makanan terbuka, Flower sudah menutup hidungnya saat aroma makanan tercium sangat tidak enak di hidungnya.
"Kenapa makanannya bau?" Tanya Flower sambil menahan rasa mual pada perutnya.
"Bau? Makanan ini sangat wangi, Nona." Jawab Arini apa adanya.
"Hoek." Flower tak menanggapi perkataan Arini dan kini tengah berlari ke arah kamar mandi yang ada di dalam ruangannya.
Arini pun segera menyusul Flower ke depan kamar mandi untuk memastikan jika Flower baik-baik saja.
"Nona? Apa anda baik-baik saja?" Tanya Arini setelah hampir sepuluh menit menunggu di depan kamar mandi namun tak kunjung mendapatkan jawaban dari Flower bahkan kini tak terdengar lagi suara muntahan Flower dari dalam kamar mandi.
***