One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Pria tidak peka


"Ck. Kau itu sungguh menyebalkan." Sungut Flower lalu bangkit dari duduknya.


"Kau ingin kemana?" Tanya Malik melihat Flower yang berniat pergi dari hadapannya.


"Bukan urusanmu." Jawab Flower ketus karena kesal pada Malik yang tidak mengerti maksud ucapannya.


Malik pun sontak bangkit dari duduknya lalu mencekal lengan Flower.


"Lepaskan aku!" Flower mencoba memberontak agar tangan Malik terlepas dari lengannya namun Malik dengan kuat menahannya.


"Katakan kau ingin pergi kemana baru aku akan melepaskanmu." Jawab Malik.


Flower menyipitkan kedua matanya pada Malik yang kini menatapnya dengan datar dan dingin. "Aku ingin menemui Andini." Jawab Flower.


Malik tak langsung membalas perkataan Flower karena ia ingin melihat keseriusan di wajah Flower saat ini. Setelah yakin jika istrinya itu tidak berbohong, Malik pun melepaskan cekalan tangannya di lengan Flower.


"Kau itu sungguh menyebalkan." Flower menghentakkan kedua kakinya lalu melangkah meninggalkan Malik.


Malik hanya diam di posisinya tanpa berniat membalas perkataan Flower. Setelah pintu tertutup dari luar oleh Flower, Malik pun segera meraih ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya untuk mengikuti kemana Flower pergi saat ini. Ia ingin memastikan jika istrinya itu benar-benar menemui Andini dan tidak pergi kemana-mana.


Setelah menutup panggilan telefon, Malik pun kembali duduk di atas sofa dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan Flower.


Sementara Flower yang sudah berada di luar ruangan kerja Malik nampak menatap datar pada Liza yang tengah menunduk mengetikkan sesuatu di layar komputernya.


"Ck. Membuat moodku rusak saja." Ucap Flower lalu melangkah menuju pintu lift berada.


Liza yang sejak tadi mencuri pandang pada Flower yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerja Malik kini menatap punggung Flower yang semakin jauh dari pandangannya.


"Apa benar Nona tadi adalah istri Tuan Malik?" Liza masih dibuat tak percaya jika pria pujaan hatinya itu sudah memiliki seorang istri bahkan sebentar lagi akan memiliki seorang anak. Hatinya yang awalnya berbunga-bunga kini telah layu sebelum berkembang.


*


"Andini..." Flower tersenyum merekah pada teman baiknya itu.


Andini pun segera bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Flower lalu memeluknya barang sejenak. "Kau datang? Kenapa tidak bilang?" Andini begitu senang melihat Flower saat ini.


"Emh... aku tidak memiliki rencana sebelumnya untuk datang ke sini." Jawab Flower seadanya.


Andini tak langsung menjawabnya karena kini pandangannya terpusat pada manejer keuangan yang ikut masuk ke dalam ruangan bersama Flower.


"Lanjutkanlah pembicaraan kalian. Saya keluar dulu." Ucap Manejer pada Flower dan Andini.


"Terima kasih." Jawab Flower dan diangguki manejer sebagai jawaban.


Setelah kepergian manejer keuangan, Andini pun mengajak Flower untuk duduk di kursi kerjanya.


"Flower, aku sungguh senang karena kau bisa datang lagi ke perusahaan ini." Ucap Andini dengan tersenyum pada Flower.


"Aku pun begitu." Jawab Flower ikut tersenyum.


"Oh, ya. Dengan siapa kau datang ke sini? Apa kau datang sendiri?" Tanya Andini.


Flower terdiam sesaat lalu menggeleng sebagai jawaban. "Aku datang bersama Malik ke sini." Jawab Flower jujur.


"Apa? Bersama Tuan Malik?" Tanya Andini sedikit keras hingga kini perhatian rekan kerjanya yang lain terpusat kepadanya.


"Emh, ya. Aku akan menjelaskannya nanti kepadamu." Udap Flower tak ingin terlalu banyak bicara di dalam ruangan kerja Andini.


***