
"Karena apa?" Ulang Mom Rania.
"Karena bisa saja Flower kembali melahirkan lebih awal dari waktu yang sudah diprediksi oleh Dokter. Dan apa Malik tega untuk yang kedua kalinya membiarkan Flower kesakitan seorang diri tanpa dirinya?" Ucap Dad William tegas. Huh, pas sekali jawabannya kali ini. Tidak mengungkapkan maksud hatinya tapi menjatuhkan mental lawannya.
"Saya pergi hanya satu hari Daddy. Usia kandungan Flower juga baru masuk sembilan bulan." Jawab Malik. Sebenarnya ia juga tidak ingin pergi. Namun apa mau dikata, ia memiliki tanggung jawab yang besar untuk pekerjaannya esok hari.
"Malik benar. Lagi pula Flow tidak merasakan kontraksi awal seperti sebelum melahirkan Baby." Timpal Flower. Ia tidak ingin karena dirinya suaminya menjadi berat untuk pergi.
"Tapi tetap saja kemunkinan itu bisa saja terjadi." Dad William kembali berucap tegas.
Malik diam dan berpikir. Flower pun menatap suaminya yang kini nampak menimbang-nimbang. "Maaf, saya pamit sebentar untuk menghubungi Tuan Rey." Izin Malik.
Dad William mengangguk mengiyakannya. Di dalam hatinya kini ia bersorak gembira karena sepertinya Malik akan membatalkan rencana kepergiannya esok hari jadi ia tidak merasa awas lagi jika Flower mau melahirkan.
"William, kau terlalu pandai bersandiwara. Bilang saja jika kau tidak mau digigit dan dijambak lagi oleh Flower bukan?" Bisik Mom Rania di telinga suaminya.
"Kau benar." Jawab Dad William tanpa sadar. "Emh, maksudku kau salah. Aku hanya ingin Malik menemani Flower dari awal mula persalinannya." Dusta Dad William.
Mom Rania memicingkan kedua matanya. Tidak percaya ia dengan perkataan suaminya itu karena ia tahu itu adalah dusta.
Tak berselang lama Malik nampak kembali dengan wajah yang nampak datar.
"Bagaimana? Apa kau tidak jadi pergi?" Tanya Dad William tidak sabar.
"Saya jadi pergi, Dad." Jawab Malik. Masih memasang wajah datar.
"Tak masalah jika kau mau pergi, Sayang. Pekerjaanmu lebih penting. Jangan khawatirkan aku." Flower mengusap lengan suaminya.
"Apa? Kau ini benar-be—" perkataan Dad William terhenti karena Malik memotongnya.
"Apa?!" Bukan hanya Dad William yang merasa terkejut mendengarnya, tapi Mom Rania dan Flower juga.
"Karena pekerjaan saya di sana hanya sebentar dan memungkinkan untuk membawa mereka, Tuan Rey menyarankan untuk membaw Baby dan Flower. Jadi Daddy tidak perlu khawatir." Jelas Malik.
Flower yang mendengar jika ia dan putrinya akan dibawa jalan-jalan tentu saja merasa senang mendengarnya. Sedangkan Dad William, tentu saja pria itu tidak terima.
"Daddy tidak setuju. Daddy tidak mau kalian pergi membawa Baby!" Protes Dad William.
"Kau ini kenapa? Biarkan saja Malik pergi membawa anak dan istrinya. Semua tidak boleh olehmu!" Mom Rania ikut protes pada suaminya itu.
"Tapi—" Dad William hendak kembali menjawab namun diurungkan karena melihat tatapan penuh peringatan dari mata istrinya.
"Sayang, kau benar ingin mengajakku pergi?" Tanya Flower pada Malik tanpa memperdulikan kedua orang tuanya.
"Ya, apa kau mau?" Malik tersenyum seraya mengusap kepala Flower.
"Tentu saja. Walau cuma sebentar tapi aku sangat senang dibawa pergi olehmu." Ucap Flower lalu tanpa malu mengecup pipi Malik.
Mendapatkan ciuman mendadak dari istrinya membuat wajah datar Malik menjadi memerah menahan malu.
Mom Rania yang melihatnya pun tersenyum karena putrinya itu selalu saja bersikap sesuka hatinya tanpa memperdulikan wajah datar suaminya.
***
Sambil menunggu cerita baru rilis, teman-teman bisa membaca Novel Kita Harus Menikah ya untuk flash back awal mula pertemuan Malik dan Flower dan segala perdebatan mereka😁