One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Kewajiban istri


"Flow tidak menyangka jika pada saat malam hari taman ini masih tetap ramai, Mom." Ucap Flower pada Mom Rania sambil bergelayut manja di lengan Mom Rania. Flower bahkan tidak memperdulikan tatapan orang-orang padanya karena kini ia sedang bersikap layaknya anak kecil tapi dengan kondisinya yang sedang hamil.


"Emh, ya. Taman ini masih tetap ramai pada malam hari. Terlebih begitu banyak jajanan di sekitar taman ini. Jadi orang-orang yang ingin berkunjung ke sini bisa wisata kuliner." Jawab Mom Rania sambil mengusap rambut putrinya.


"Jika benar seperti itu kenapa dulu Mommy tidak pernah membawa Flower jalan-jalan di waktu malam hari seperti ini?" Tanya Flower.


"Tentu saja karena Daddymu tidak mengizinkannya. Daddy tidak ingin kau menikmati makanan dari luar karena takut mengganggu kondisi kesehatanmu." Jawab Mom Rania.


Flower pun terdiam setelah mendengar penjelasan Mom Rania.


"Flower, Daddy itu sangat menyayangimu sejak kau lahir ke dunia. Makanya setelah waktu itu kau keracunan makanan di pinggir jalan Daddy melarang keras dirimu untuk membeli jajanan dari luar." Ucap Mom Rania.


Flower masih diam dengan hati bersedih. Ia memang dapat merasakan kasih sayang yang begitu besar dari Daddynya sejak kecil. Bahkan Daddynya itu melarang keras Flower untuk bekerja di rumah karena takut ia terluka atau sekedar terkena cipratan minyak panas. Tapi sayang, saat ini Flower benar-benar tidak merasakan kasih sayang dari Daddynya itu untuknya.


"Emh." Malik pun berdehem hingga membuat perhatian Flower tertuju kepadanya.


"Apa kau ingin jajanan yang ada di sekitar sini?" Tawar Malik pada Flower.


Flower mengangguk dengan cepat. "Ya. Sepertinya bayi kita sejak tadi menginginkan telur gulung dan berbagai macam olahan daging yang lainnya." Ucap Flower dengan mata berkedip-kedip.


"Benarkah begitu? Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu membelikan cemilan untukmu dan Mommy." Pamit Malik.


Flower mengangguk mengiyakannya dan tak lupa meminta Malik untuk berhati-hati karena Malik harus menyebrangi jalan menuju penjual jajanan yang ia minta.


Setelah kepergian Malik, Mom Rania pun memulai pembicaraan serius dengan Flower.


"Flower, apa saat ini kau sudah memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri pada Malik?" Tanya Mom Rania.


"Kewajiban? Kewajiban seperti apa yang Mommy maksud?" Tanya Flower.


"Flow sudah belajar membuatkan minum untuknya dan menghangatkan makanan untuk sarapan paginya atau malam harinya." Jawab Flower dengan polosnya.


"Bukan kewajiban itu saja, Flower." Mom Rania menggelengkan kepalanya merasa tak percaya mendengar jawaban dari putrinya.


"Lalu apa, Mommy?" Tanya Flower bingung.


"Apa kau sudah memenuhi kewajiban bathin untuk Malik?" Tanya Mom Rania.


Deg


Jantung Flower seakan berhenti berdetak mendengar perkataan dari Mommynya.


"Ma-maksud Mommy?" Tanya Flower.


"Apa kau sudah pernah melayani suamimu dengan berhubungan suami istri?" Tanya Mom Rania.


Flower seketika menggelengkan kepalanya. "Tentu saja belum Mommy." Jawab Flower.


"Apa? Kau belum pernah melakukannya sejak pertama kali kalian menikah?" Tanya Mom Rania memastikan.


Flower pun menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan mommynya itu.


"Astaga, Flower... kenapa kau sampai mengabaikan hal yang seperti itu? Suamimu juga berhak atas dirimu sepenuhnya, Flower." Tekan Mom Rania.


"Mommy, apa Flow wajib melakukannya sedangkan Malik tidak pernah memintanya? Lagi pula kami menikah hanya karena anak ini bukan? Dan sepertinya Malik tidak memiliki rasa ingin melakukannya pada Flower."


***