
"Kau..." Flower melototkan kedua bola matanya pada Malik karena merasa kesal dengan pria itu.
Malik yang tidak ingin menanggapi Flower pun memilih berlalu begitu saja dari hadapan Flower. Menurutnya menanggapi Flower hanyalah akan membuang waktunya saja.
Dan kini Flower, Malik, Gerry dan Kyara sudah duduk di ruang tamu. Setelah Gerry membuka percakapan di antara mereka.
"Jadi tujuan kami datang ke sini adalah untuk melamar Flower menjadi istri dari anak kami Malik." Ucap Gerry seraya tersenyum pada William.
William tak langsung menanggapi perkataan Gerry. Ia memilih menatap pada Flower dan Malik sejenak lalu mengangguk mengiyakan perkataan Gerry. "Saya menerima lamaran anda." Jawabnya tanpa panjang lebar.
Mendengar jawaban singkat William tentu saja membuat Gerry jengkel sekaligus senang. Ia tahu William memang sengaja mempercepat proses lamaran Flower dan Malik karena tidak ingin putrinya itu akan mengulur waktu dengan berbagai alasan yang keluar dari dalam mulutnya untuk menolak lamaran Malik.
"Karena lamaran sudah diterima bagaimana kalau kita langsung saja menentukan tanggal pernikahan anak-anak kita?" Tawar Gerry.
William mengangguk mengiyakan. Akhirnya pembahasan mereka pun berlanjut tentang tanggal pernikahan Flower dan Malik. Dan sesuai kesepakatan mereka, waktu pernikahan Malik dan Flower akan dilangsungkan satu minggu kemudian tanpa ada resepsi.
Ya, William sudah memutuskan untuk meniadakan resepsi untuk pernikahan putrinya. Hanya ada akan dan tamu undangannya pun hanya orang-orang terdekat mereka saja. Tentu saja keputusan William itu tak dibantah oleh Flower. Lagi pula ia hanya menikah dengan terpaksa dan dengan pria yang sangat dibencinya.
Setelah percakapan mereka selesai, Rania pun mengajaka Gerry, Kyara dan Malik untuk makan bersama karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang tiba.
"Hoek." Saat sedang menikmati makan siang bersama Flower tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan berlari ke arah kamar mandi karena merasakan mual yang teramat dari dalam perutnya.
"Flower..." Rania pun turut bangkit dari duduknya.
Rania mengangguk mengiyakannya lalu menatap pada Malik. Mengerti arti tatapan semua orang yang tertuju padanya, Malik pun segera bangkit dari duduknya lalu melangkah ke arah kamar mandi dimana Flower berada.
"Hoek..." setelah masuk ke dalam kamar mandi Malik dibuat tertegun melihat Flower yang tengah memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
Malik pun mendekat pada Flower dan tanpa ragu memijat tengkut Flower berharap dapat membantu wanita itu menghilangkan rasa mualnya.
"Ka—" Flower yang hendak menolak bantuan Malik mengurungkan niatnya karena mulutnya sudah ingin mengeluarkan makanan kembali dari dalam perutnya.
Malik terus memijat tengkuk Flower hingga akhirnya terhenti saat Flower sudah tak lagi memuntahkan apa pun dari dalam mulutnya.
"Jangan berani menyentuhku!" Ucapnya pedas namun pelan karena tenaganya sudah habis terkuras.
"Saya hanya membantu anak saya." Jawab Malik menatap datar Flower.
Flower sangat kesal mendengarnya. Namun ia memilih tak menggubris perkataan Malik karena kini tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.
Menyadari kondisi Flower saat ini, Malik pun membantu Flower keluar dari dalam kamar mandi walau Flower beberapa kali mencoba menepis tangannya dari bahunya.
"Jika kau tidak sanggup maka jangan keras kepala. Ingat, aku hanya ingin membantu anakku bukan dirimu." Ucap Malik datar namun terdengar menyakitkan di telinga Flower.
***