One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Tuduhan tak berdasar


Dari luar kamar Malik dan Flower ternyata ada Mom Rania yang tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Malik dan Flower. Kedua bola mata Mom Rania kini berkaca-kaca merasa haru mendengarkan jawaban putrinya pada Malik. Mom Rania sungguh tidak menyangka jika putrinya yang selama ini manja sudah banyak berubah semenjak menikah dengan Malik. Sosok putrinya yang biasanya sangat senang jika diberikan uang oleh Dadddynya kini justru menolak diberikan uang oleh suaminya.


"Flower... Mom sungguh bangga denganmu, Nak. Mom tahu kau adalah anak yang baik dibalik sikap aroganmu itu." Ucap Mom Rani sambil tersenyum haru.


Setelah cukup mendengarkan pembicaraan Malik dan Flower, Mom Rania pun melangkah menuju kamarnya berada untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Sementara Malik dan Flower yang masih terlibat percakapan di dalam kamar terlihat saling menatap dengan datar saat ini.


"Jadi kau akan berangkat ke desa A bersama sekretaris Kak Rey itu?" Tanya Flower dengan ketus pada Malik.


Malik mengangguk mengiyakan perkataan Flower.


"Hanya berdua saja?" Tanya Flower lagi dan Malik menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa?!" Flower berbicara sedikit keras hingga membuat Malik terkejut mendengarnya.


"Ada apa denganmu?" Tanya Malik dengan wajah bingung.


"Kau bilang ada apa?" Flower tersenyum sinis. "Kau pasti sengaja ingin pergi berdua dengannya agar kalian bisa bermesraan di sana nanti bukan?" Ucap Flower mengeluarkan semua pikiran buruknya.


Malik pun sontak menggeleng mendengarkan tuduhan istrinya itu. "Kau berbicara apa? Siapa yang ingin bermesraan dengannya?" Jawab Malik.


Flower memasang wajah kesal. "Tentu saja kau dan wanita dedemit itu!" Flower masih berbicara ketus.


"Wanita dedemit?" Malik semakin dibuat pusing mendengar perkataan Flower.


"Siapa yang kau maksud wanita dedemit?" Tanya Malik.


"Liza?" Tanya Malik dan dibalas Flower dengan anggukan kepalanya. "Kau jangan berpikiran yang macam-macam. Untuk apa aku bermesraan dengannya di sana." Ucap Malik merasa tak habis pikir dengan jalan pemikiran istrinya.


"Malik... Malik. Kau tidak lupa bukan bagaimana jalannya Yura dan Kak Rey bisa menikah. Bisa saja kau dan dia berniat melakukan hal yang diperbuat Kak Rey dan Yura agar kalian bisa bersama." Flower tak henti menuduh suaminya. Hormon kehamilannya benar-benar memmbuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.


Malik memilih diam karena ia tidak ingin larut dalam tuduhan istrinya.


"Kau harus ingat jika saat ini aku sedang mengandung anakmu. Aku tidak ingin di saat aku sedang hamil kau menduakanku apa lagi berniat untuk poligami bersama wanita itu!" Ucap Flower tegas.


Malik masih diam dengan perasaan semakin tak habis pikir dengan perkataan istrinya itu.


Melihat Malik hanya tetap diam tentu saja membuat Flower semakin menggebu-gebu memberikan tuduhan pada suaminya itu. Terlebih ia dapat merasakan jika wanita bernama Liza itu menaruh rasa ketertarikan dengan suaminya itu.


"Aku ingin ikut denganmu!" Ucap Flower pada akhirnya setelah berbicara panjang lebar namun Malik tak kunjung menggubrisnya.


"Ikut denganku?" Akhirnya Malik bersuara.


"Ya. Aku ingin ikut agar aku bisa memastikan jika kau dan Liza tidak melakukan hal macam-macam di sana." Tekan Flower.


Malik menghela nafas panjang mendengarkan perkataan istrinya yang tidak berdasar itu.


"Malik, kau dengar aku bukan?" Tanya Flower semakin kesal.


"Kamarilah. Sepertinya kau sudah lelah." Ucap Malik lalu membawa Flower yang sedang marah ke dalam pelukannya.


***