One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Dia?


"Kau berhutang pada Andini?" Tanya Malik tak percaya.


Flower pun mengangguk membenarkannya. "Andini sempat menawarkan untuk membayarkan makananku tapi aku menolaknya karena aku tahu dia belum gajian." Jawab Flower.


Malik menghela nafas mendengar jawaban istrinya itu. Ia pun mengeluarkan dompet dalam saku celananya dan memberikan beberapa lembar uang pada Flower. Setelahnya Malik pun menekan tombol lift menuju lantai ruangan kerja Andini berada.


"Bayarkan hutangmu pada Andini sekarang juga." Titah Malik setelah lift berhenti di lantai ruangan kerja Andini.


Flower mengangguk lalu keluar dari dalam lift menuju ruangan Andini. Malik pun memilih menunggu Flower kembali di depan pintu lift sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap istrinya itu.


Lima menit berlalu, Flower telah kembali dan mereka pun turun menuju lobby.


*


Ting


Saat tengah berada di dalam perjalanan menuju kediaman mereka, Flower mendapatkan notifikasi dari grup keluarganya yang mengabarkan jika Yura sudah melahirkan anak kembar tiganya. Tentu saja melihat informasi itu membuat jantung Flower berdebar-debar karena membayangkan pria yang sejak lama dicintainya kini sudah memiliki tiga orang anak sekaligus.


"Beruntung sekali Yura dicintai oleh pria seperti Kak Rey." Lirih Flower sambil tersenyum miris.


Malik yang tidak terlalu mendengarkan perkataan Flower pun tak menanggapinya dan tetap fokus pada jalanan di depannya.


Saat mobil tengah berhenti di perempatan terkena lampu merah, Malik tertegun saat matanya menangkap sosok yang sangat dikenalinya tengah berbicara dengan seseorang dari dalam mobilnya terlihat dari kaca mobilnya yang sedikit terbuka.


Saat telah sampai di depan rumah mereka Flower melihat ada yang berubah dari sikap suaminya namun Flower memilih mengabaikannya dan masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu Malik. Malik pun memilih turun lebih dulu dari dalam mobilnya dan menghampiri Flower yang sudah berada di dalam rumah mereka.


"Kenapa kau ikut masuk?" Tanya Flower. Ia pikir Malik akan langsung putar balik menuju perusahaan Bagaskara.


"Ini." Malik menyerahkan beberapa lembar uang bewarna merah pada Flower. "Gunakan uang ini jika kau membutuhkannya." Ucap Malik.


Flower tak langsung mengambilnya justru menatap uang itu lebih dulu. "Ini untukku?" Tanyanya memastikan. Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Malik, Flower pun mengambil uang itu dengan wajah tersenyum.


"Terima kasih." Ucap Flower kemudian tanpa sadar.


Malik sedikit tertegun mendengarkan ucapan istrinya itu. Malik pun mengangguk lalu berpamitan untuk kembali lagi ke perusahaan.


"Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya terlihat berubah?" Ucap Flower menatap mobil Malik yang kini sudah melaju meninggalkan rumah mereka.


Tak ingin terlalu memikirkan suaminya itu, Flower pun memilih masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya untuk meletakkan uang yang diberikan Malik padanya.


"Padahal uang ini sangat jauh lebih sedikit dibandingkan uang yang sering diberikan Daddy padaku. Tapi mengapa aku merasa senang mendapatkannya?" Ucap Flower bertanya-tanya. Entah mengapa kini Flower merasakan ada perubahan di dalam dirinya setelah dua bulan lebih ia menikah dengan Malik.


Sementara Malik yang sudah keluar dari area perumahan mereka terlihat diam dengan tatapan tak terbaca mengingat sosok yang tadi dilihatnya.


***