One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Rasa yang terpendam


Setelah kepergian Bu Venna pagi itu hari yang dijalani Flower hari itu benar-benar terasa buruk. Moodnya yang sudah buruk menjadi semakin buruk mengingat perkataan pedas mertuanya kepadanya.


"Mommy, Flow rindu Mommy." Ucap Flower lirih sambil memeluk erat guling di dalam dekapannya.


Flower menatap jam yang tergantung di dinding. Masih menunjukkan pukul lima sore. Sepertinya sebentar lagi Malik akan pulang. Mengingat itu membuat Flower segera bangkit dari pembaringannya lalu beranjak ke arah dapur.


Flower berniat membuatkan teh hangat untuk suaminya itu nanti dan saat ini ia sedang mencoba menakarkan gula untuk teh yang akan ia buat.


"Sepertinya teh tadi memang terlalu banyak gula karena ukuran gelasnya lebih kecil." Ucap Flower membandingkan dua gelas yang ia sedang ia pegang saat ini. Flower pun mencoba menakarkan gula dengan takaran yang sama seperti ia buat tadi di gelas yang cukup besar untuk Malik.


"Tunggu Malik pulang baru aku akan menuangkan air panas ke dalam gelas." Ucap Flower.


Flower pun mencoba bersikap seperti Suci dan Nia yang berkata selalu menunggu suaminya pulang di depan rumahnya.


"Sepertinya tidak terlalu buruk menunggu seperti ini." Ucap Flower setelah duduk di kursi teras rumahnya.


Dua puluh menit menunggu Malik pulang di depan rumahnya, akhirnya mobil milik Malik pun nampak berhenti tepat di depan rumah mereka. Flower pun segera bangkit dari duduknya untuk menyambut suaminya itu pulang.


"Kenapa kau duduk di depan rumah sore-sore begini?" Tanya Malik setelah berdiri di hadapan Flower.


"Itu karena aku sedang menunggumu pulang." Jawab Flower seadanya.


"Menungguku pulang?" Kening Malik dibuat mengkerut mendengar perkataan istrinya.


"Ya. Aku sedang menunggumu pulang." Jawab Flower.


Malik memilih tak lagi menjawab perkataan Flower dan meminta Flower untuk masuk ke dalam rumah.


"Tunggulah sebentar, aku akan membuatkan minum untukmu." Ucap Flower lalu melangkah ke arah dapur.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat aneh sekali." Ucap Malik.


Tak berselang lama Flower pun telah kembali dengan membawa gelas berisi teh hangat di tangannya.


"Ayo coba diminum dulu. Apa tehku ini terasa enak?" Pinta Flower.


"Bagaimana?" Tanya Flower.


"Enak." Jawab Malik seadanya.


"Maksudku bagaimana rasanya? Apa terlalu manis?" Tanya Flower lagi.


"Tidak. Rasanya pas tidak terlalu manis. Memangnya ada apa?" Tanya Malik.


Flower hanya menggelengkan kepalanya tanpa berniat memberitahu apa yang terjadi padanya tadi pagi.


"Oh ya, benarkah jika Ibumu meminta kita untuk menginap di rumahnya satu minggu ke depan?" Tanya Flower.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Bukannya menjawab, Malik justru balik bertanya.


"Ibumu yang memberitahukannya padaku." Jawab Flower seadanya.


"Ibu? Maksudmu Ibuku menghubungimu?" Tanya Malik memastikan.


Flower menggelengkan kepalanya. "Ibumu datang ke sini tadi pagi." Jawabnya.


"Apa?" Malik terlihat terkejut mendengarnya. "Untuk apa ibuku datang ke sini?" Tanya Malik.


"Tidak ada. Ibu hanya datang untuk memberitahukan hal itu kepadaku." Jawab Flower.


Malik menatap wajah istrinya dengan intens. Entah mengapa ia merasa ada hal yang sedang disembunyikan istrinya itu saat ini.


"Apa ibuku berbuat buruk kepadamu?" Tanya Malik menatap Flower dengan intens.


Flower yang ditatap seperti itu oleh Malik pun dibuat terdiam beberapa saat.


***