
Malik hanya diam dan memilih meninggalkan ibunya begitu saja. Bukannya ingin bersikap tidak sopan pada ibunya, hanya saja Malik tidak ingin emosinya semakin terpancing jika terus berbicara bersama ibunya itu. Sedangkan Bu Venna yang ditinggalkan begitu saja nampak menggeram dan mengepalkan kedua tangannya.
"Ini semua pasti karena wanita itu menghasut Malik untuk pergi dari rumah ini." Ucap Bu Venna.
Bu Venna pun hanya bisa menatap kepergian putranya menuju kamarnya tanpa berniat mengejarnya karena ia tidak ingin membuat Malik merasa tidak nyaman dengan sikapnya saat ini.
Beberapa saat berlalu, kini Malik sudah berada di dalam kamarnya. Malik langsung melangkah mendekati istrinya yang tengah berbaring di atas ranjang sambil membelakangi tubuhnya.
"Flower." Ucap Malik lembut pada Flower.
Flower seketika membalikkan tubuhnya hingga kini ia bisa menatap wajah Malik. "Kau sudah kembali?" Tanya Flower.
"Sudah." Jawab Malik singkat sambil menatap kedua manik mata Flower yang nampak mengkilat.
Flower pun bangkit dari pembaringannya. "Ayo kita bereskan barang-barang kita." Ajak Flower.
"Tidak perlu membantu. Kau cukup istirahat di sini saja biar aku yang membereskannya." Ucap Malik.
"Tapi..." Flower hendak membantah namun tatapan Malik seketika menyurutkan niatnya.
"Baiklah. Aku di sini saja." Ucapnya kemudian.
Malik menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia pun segera beranjak menuju lemari dan mengeluarkan koper Flower dari sana.
Malik, terima kasih karena kau mau mengorbankan dirimu demi kebaikan aku dan anak kita. Ucap Flower dalam hati.
Ada rasa haru yang kini Flower rasakan melihat perjuangan Malik untuknya dan anak mereka. Malik bahkan mau menentang ibunya hanya karena dirinya bahkan Malik tidak perduli bagaimana hubungannya dan ibunya nanti.
Satu jam berlalu, Malik terlihat telah selesai membereskan barang-barang mereka dan kini sudah siap membawa Flower untuk pergi dari rumah ibunya.
"Malik, apa tidak menunggu selesai makan malam saja? Hari di luar sudah gelap dan jam makan malam sudah hampir tiba. Sepertinya ibu juga sudah membuatkan makanan untuk kita." Ucap Flower.
Flower tak dapat membantah perkataan Malik. Ia pun memilih menurut dan mengikuti langkah Malik dari belakang.
"Apa kau mau aku membantu membawa kopernya?" Tanya Flower.
"Jangan mengada-ngada." Ucap Malik lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Wajah Flower seketika masam mendengarnya. Ia pun memilih diam tak lagi bersuara sambil mengikuti Malik turun ke lantai bawah.
"Malik, kau sudah ingin pergi?" Bu Venna terlihat menatap Malik dengan wajah sendunya.
"Ya. Malik dan Flower pamit dulu, Ibu." Ucap Malik.
Bu Venna menggelengkan kepalanya. "Kau bisa pergi setelah makan malam, Nak." Pintanya lembut.
"Tidak. Kami akan pergi sekarang juga. Malik akan membawa Flower makan di restoran." Jawab Malik.
"Tapi—" perkataan Bu Venna terputus saat melihat tatapan dingin Malik.
"Flow, ayo." Ajak Malik.
Flower mengangguk lalu mengulurkan tangan untuk berpamitan pada Bu Venna. Bu Venna pun terlihat enggan menyambut uluran tangan Flower. Rasanya ingin sekali ia memaki menantunya itu karena telah menghasut putranya untuk pergi dari rumahnya sendiri.
"Kalian akan kembali lagi, bukan?" Tanya Bu Venna setelah melepas tangan Flower.
"Malik tidak janji, Bu." Jawab Malik. Masih memasang wajah datar dan dinginnya. "Flow, ayo." Ucap Malik kemudian pada istrinya.
***
Sambil menunggu Flow dan Malik update kembali, silahkan mampir ke karya baru SHy judulnya Istri Figuran ya🤗