
Gerry dan Kyara telah sampai di perusahaan Bagaskara dan kini sudah berada di dalam ruangan kerja Malik bersama dengan Rey.
"Malik, saya tidak menyangka jika semua ini terjadi pada dirimu." Ucap Gerry menatap wajah Malik yang lebam dan sudut bibirnya yang pecah.
"Maafkan saya, Tuan." Jawab Malik dengan tatapan bersalah karena telah mengecewakan Gerry dan Rey yang sudah memberikan kepercayaan penuh kepadanya.
"Saya paham jika kejadian yang menimpamu dan Flower bukanlah kesalahanmu sepenuhnya. Tapi sebagai pria yang bertanggung jawab kau harus tetap menikahinya." Ucap Gerry.
Malik hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan Gerry. Lagi pula sebelum ia mengetahui Flower sengan mengandung ia sudah menawarkan sebuah pertanggungjawaban pada Flower namun Flower menolaknya dengan keras.
"Dan untukmu, Rey. Usahakan kabar ini jangan sampai di telinga Yura karena Papa takut dia akan kepikiran dan menyalahkan dirinya sendiri atas kehamilan Flower." Pesan Gerry.
"Baik, Dad." Jawab Rey sekenanya. Tanpa disuruh oleh Gerry pun Rey pasti akan menyembunyikan kabar ini dari istrinya. Sebagai seorang suami ia tahu bagaimana sikap istrinya dan tidak ingin istrinya menjadi banyak pikiran jika mengetahuinya.
Gerry dan Kyara tak berlama-lama di perusahaan Bagaskara. Tujuan mereka datang untuk memberikan sebuah arahan pada Malik sudah kesampaian dan akhirnya mereka pun berpamitan untuk pulang ke rumah mereka.
"Jadi kapan kau akan menemuinya?" Tanya Rey setelah kepulangan kedua orang tuanya.
"Secepatnya saya akan menemui Nona Flower, Tuan." Jawab Malik.
Rey mengangguk paham. Setelah berbincang singkat dengan Malik, ia pun ikut berpamitan kembali ke ruangan kerjanya.
"Huft..." Malik menghembuskan nafas kasar di udara. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana reaksi Flower besok saat ia datang untuk bertanggung jawab pada wanita itu.
*
"Dimana Daddy, Mom?" Tanya Flower saat sudah berada di meja makan namun tak melihat keberadaan Daddynya di sana.
Flower menatap ke arah kursi yang biasa digunakan Daddynya dengan wajah sendu. Tidak biasanya Daddynya itu melewatkan sarapan pagi bersama keluarganya seperti saat ini.
"Ayo duduk dulu." Ucap Rania pada Flower yang masih berdiri di tempatnya.
Flower mengangguk lalu menarik kursi dan menjatuhkan bokongnya di atas kursi.
"Daddy pergi lebih awal karena ada pekerjaan yang harus Daddy selesaikan bersama asistennya sebelum jam delapan pagi ini." Jelas Rania tak ingin Flower terlalu memikirkan kenapa Daddynya itu pergi lebih awal.
Flower hanya mengangguk mengiyakan perkataan Mommynya. Namun hatinya kini tetap saja tidak tenang karena perubahan sikap Daddynya itu.
"Ayo kita mulai sarapan. Kau harus menjaga pola makanmu dengan baik mulai saat ini." Ucap Mom Rania.
"Baik, Mommy." Jawab Flower lalu dengan tidak bersemangat menelentangkan piring dan mengambil nasi beserta lauk-pauk yang ada di depannya.
"Flow, kenapa kau tidak mengambil sayurannya? Sayuran itu baik untuk ibu hamil seperti dirimu." Ucap Rania setelah Flower selesai mengambil makanan untuk dirinya.
"Flow tidak berselera, Mommy." Jawab Flower singkat.
Rania memilih tak melanjutkan percakapan mereka dan membiarkan Flower makan dengan tenang.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya Rania dan Flower telah selesai menghabiskan sarapan mereka masing-masing. Saat Flower hendak beranjak meninggalkan meja makan ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sangat tidak ia harapkan kedatangannya.
"Kau! Untuk apa kau datang ke sini?!" Tanya Flower ketus pada pria yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.
***