One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Akhirnya menikah


"Rachel, jangan berbicara seperti itu. Doakan saja yang terbaik untuk pernikahan Flower dan Malik." Jawab Kyara pelan agar orang yang berada di sekitar mereka tidak mendengar percakapan mereka.


"Baiklah, Mama." Jawab Rachel menurut tak ingin melanjutkan percakapan di antara mereka karena kini pembawa acara sudah bersiap membuka acara pernikahan pagi itu.


Suasana di dalam rumah pun berubah hening setelah acara akad pernikahan dimulai. Flower yang duduk di sebelah Malik pun mulai gugup saat Malik sudah mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan William. Sesaat kemudian Flower pun dikejutkan dengan kata sah yang terdengar cukup keras hingga menggema ke sudut ruangan.


Apa aku sudah menjadi istri dari pria datar ini? Tanya Flower dalam hati dengan mata berkedip-kedip. Ditatapnya Dad William yang kini tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Daddy..." lirih Flower ikut berkaca-kaca.


"Selamat, Tuan Malik dan Nona Flower, kini kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri." Ucap penghulu.


"A-apa..." Flower terbata. Ternyata dugaannya benar jika kini ia sudah sah menjadi istri dari seorang pria yang sangat dibencinya.


Setelah serangkaian akad selesai dilakukan, Flower dan Malik pun kini tengah berdiri di tengah ruangan untuk menyalami para tamu undangan yang mengucapkan selamat pada mereka.


"Flower, selamat atas pernikahanmu dan Malik. Semoga pernikahan kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan." Ucap Yura dengan tersenyum pada Flower.


"Ya. Terima kasih." Jawab Flower mencoba ikut tersenyum.


Pandangan Flower pun kini tertuju pada Rey yang tengah mengulurkan tangan padanya.


"Selamat." Ucap Rey singkat, padat dan jelas.


Flower hanya diam saja sambil menatap wajah Rey. Melihat Flower tak merespon perkataannya membuat Rey segera beralih pada Malik yang berada di sebelah Flower.


"Flower, selamat atas pernikahanmu." Kali ini Rachel yang mengulurkan tangan pada Flower. Flower pun menyambut uluran tangan Rachel dan mengucapkan terima kasih walau dalam hatinya merasa kesal karena Rachel terlihat senang di atas penderitaannya saat ini.


Seandainya saja Kak Rey yang menjadi suamiku saat ini. Kau pasti sudah menjadi adik iparku, Rachel. Flower kembali berucap dalam hati.


Setelah selesai menjabat tangan para tamu undangan yang datang, Flower dan Malik pun diminta untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Apa kau lelah?" Tanya Malik datar pada Flower.


"Tentu saja aku lelah. Apa kau tidak melihat sudah berapa aku berdiri sejak tadi?" Jawab Flower ketus sambil memijat kakinya.


"Tunggulah di sini. Aku akan mengambilkan minum untukmu." Ucap Malik tanpa memperdulikan perkataan ketus Flower.


"Ya. Pergilah. Ambil minuman dingin untukku." Pinta Flower.


Malik mengangguk saja lalu pergi dari hadapan Flower. Sebenarnya bisa saja ia meminta bantuan orang lain mengambilkan minuman untuk Flower, namun ia memilih mengambilkannya sendiri untuk istrinya itu.


"Minumlah." Ucap Malik setelah kembali ke hadapan Flower.


Flower menerimanya lalu meminum air putih yang diambilkan Malik hingga habis tak tersisa. "Jangan berpura-pura baik kepadaku karena sampai kapan pun aku tidak akan menyukaimu." Ucap Flower.


"Aku tidak baik kepadamu. Aku hanya bersikap baik pada anak yang ada di dalam kandunganmu karena anak itu adalah darah dagingku." Jawab Malik datar namun berhasil membuat Flower kesal mendengarnya.


***