
"Apa?!" Bu Venna seketika bangkit dari duduknya karena sangking terkejutnya. "Kau jangan bercanda Malik!" Hardik Bu Venna.
"Aku tidak bercanda, Bu. Saat ini aku sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak." Jawab Malik.
Bu Venna menatap Malik dengan tajam. "Ibu bilang jangan bercanda!" Tekan Bu Venna yang tak percaya begitu saja.
"Maafkan aku, Ibu. Aku menikah tanpa memberitahu dan meminta restu dari Ibu." Ucap Malik dengan kepala tertunduk. Kali ini ia merasa sangat bersalah karena telah menyembunyikan statusnya dari ibunya itu.
"Malik!" Bu Venna semakin meninggikan nada suaranya. Sungguh saat ini ia tidak percaya dengan perkataan anaknya itu. "Dengan siapa kau menikah, Malik? Dengan siapa?" Tanya Bu Venna.
"Tenangkan diri Ibu lebih dulu baru aku akan menjawabnya." Ucap Malik.
Bu Venna menatap geram pada putranya itu. Mau tidak mau ia mengikuti permintaan Malik dengan menenangkan dirinya lebih dulu. Jika tidak, ia tahu Malik tidak akan memberitahukannya.
"Aku menikah dengan Flower, anak dari Tuan William." Jawab Malik pada akhirnya.
"Apa?!" Bu Venna seketika bangkit dari duduknya. "Kau menikah dengan anak Tuan William?" Tanya Bu Venna. Ia sangat mengetahui siapa itu Tuan William dan bagaimana kekuasaannya dari berita yang ia dengar. Namun sampai saat ini Bu Venna sama sekali tidak mengetahui bagaimana wujud dari anak Tuan William tersebut.
"Ya. Aku telah menikahinya sejak tiga bulan yang lalu." Jawab Malik.
Bu Venna dibuat menggeleng tak percaya. "Bagaimana bisa kau menikah dengannya sedangkan kau sudah memiliki seorang kekasih?" Tanya Bu Venna.
"Semua terjadi begitu saja, Bu. Aku sudah memantapkan hati untuk menikahi Flower dan memilih meninggalkan Emila karena aku sudah tidak mencintainya." Jawab Malik.
Bu Venna menggelengkan kepalanya tanda tak percaya. "Kau jangan berbohong, Malik. Ibu tahu betul jika kau sangat mencintai Emila." Tekan Bu Venna.
Melihat putranya yang hanya diam saja tentu saja membuat Bu Venna murka dan kembali mencecar putranya dengan banyak pertanyaan. Malik yang sudah biasa menghadapi seseorang yang bersifat sama seperti ibunya pun menjawab dengan tenang walau ibunya membalas perkataannya dengan nada tinggi dan penuh amarah.
*
"Dia sudah pulang?" Gumam Flower saat mendengar pintu rumahnya terbuka dari luar. Flower pun memilih berpura-pura tidur agar tidak berinteraksi dengan Malik. Lagi pula saat ini ia sangat kesal karena Malik baru pulang di waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Ceklek
Suara pintu kamar yang terbuka dari luar tak membuat Flower bergeming. Wanita itu masih tetap diam mendekap erat selimutnya dengan tidur membelakangi Malik.
"Kau sudah tidur?" Tanya Malik pada Flower. Melihat istrinya yang hanya diam saja membuat Malik tak lagi bersuara karena berpikir jika istrinya itu sudah tidur.
Sebelum menghampiri istrinya yang sudah tertidur Malik memilih membersihkan tubuhnya lebih dulu karena di rumah ibunya tadi ia tidak sempat membersihkan tubuhnya.
Dua puluh menit berlalu Malik telah siap membersihkan tubuhnya dan berganti baju. Dilihatnya di atas ranjang Flower masih nyaman bergulum di dalam selimut.
"Maaf karena aku pulang terlalu lama." Ucap Malik saat sudah berada di samping istrinya.
Deg
Mendengar suara lembut dan tulus dari mulut suaminya membuat jantung Flower berdebar-debar. Flower berusaha menahan dirinya agar tidak bergerak hingga suaminya itu tidak mengetahui jika ia sedang berpura-pura tidur.
***