One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Extra Chapter (Sudah ingin keluar)


"Flower sepertinya ingin melahirkan, Mommy!" Jawab Malik cepat.


"Apa?!" Mom Rania tentu saja terkejut mendengarnya.


"Maaf, Mom. Malik harus segera membawa Flower ke rumah sakit!" Ucap Malik lalu melangkah meninggalkan Mom Rania yang masih terkejut di tempatnya.


Tak ingin membuang waktu lebih lama Mom Rania pun segera masuk ke dalam kamar dan membangunkan suaminya yang baru saja tertidur beberapa menit yang lalu.


"William ayo bangun! Putri kita mau melahirkan!" Ucap Mom Ranie mengguncang kuat tubuh suaminya.


Rasa kantuk yang Dad William rasakan pun hilang seketika mendengar perkataan istrinya. "Apa? Flower mau melahirkan?" Tanyanya.


"Ya. Sekarang ayo kita pergi ke rumah sakit!" Ajak Mom Rania cepat.


Dad William mengiyakannya lalu mereka pun keluar dari dalam kamar dengan berlari. Untung saja Malik sudah menyediakan lift di dalam rumah hingga tak membuat Mom Rania dan Dad William membuang waktu lama turun ke lantai bawah.


Setelah berada di luar rumah, terlihat Malik baru saja memasukkan Flower ke dalam mobil.


"Kami ikut!" Ucap Mom Rania cepat.


Malik mengiyakannya. Dad William yang terdiam di tempatnya pun segera bergerak saat Mom Rania menarik kuat tangannya.


"Apa Daddy bisa menyetir?" Tanya Malik cepat. Ia ingin duduk di belakang menenangkan istrinya yang sedang kesakitan.


"Bi—" perkataan Dad William terpotong oleh Mom Rania.


"Tidak. Daddymu tidak bisa menyetir dengan benar jika dalam keadaan darurat seperti saat ini. Sebaiknya kau saja yang menyetir biar kami yang menjaga Flow di belakang!" Jawab Mom Rania cepat.


"Ta—" untuk yang kedua kalinya perkataan Dad William terpotong oleh istrinya.


Malik terpaksa mengiyakannya dan segera masuk ke dalam kursi kemudi. Ia membiarkan kedua mertuanya yang bersama istrinya di kursi belakang mobil.


Perasaan tidak enak mulai dirasakan Dad William saat sudah berada di dalam mobil.


"Ya, tenanglah Flow." Dad William sebisa mungkin menjauh dari jangkauan putrinya.


"Sakit... perutku sakit sekali!" Flower merintih kesakitan.


Malik mencoba tetap fokus pada kemudinya dan menggunakan kelihaiannya dalam mengemudi agar cepat sampai di rumah sakit.


Perjuangan Dad William yang ingin menjauh dari putrinya agar tak terkena pelampiasan Flower untuk yang kedua kalinya berujung sia-sia saat tangan Flower berhasil menjangkau tangannya dan mencengkramnya dengan kuat.


"Aw... sakit!" Dad William meringis kesakitan.


Mom Rania yang melihat dan mendengarnya pun tak memperdulikan rasa sakit suaminya dan memilih fokus menenangkan Flower yang sedang menangis kesakitan.


"Aaa..." terdengar suara teriakan yang saling bersahutan di kursi belakang dari Dad William dan Flower.


"William diamlah!" Ucap Mom Rania keras merasa sebal karena suaminya tak bisa menahan rasa sakitnya justru berteriak bersama dengan putrinya.


"Daddy diamlah!" Flower ikut bersuara.


"Tapi aku juga kesakitan!" Dad William melayangkan protes namun tak ditanggapi oleh Flower karena ia kembali berteriak kesakitan karena anaknya sudah semakin tidak sabar untuk keluar dari rahimnya.


"Aaa..." sesaat kemudian terdengar suara Flower yang mengejan di kursi belakang.


"Flower, apa yang kau lakukan?" Dad William terbelalak saat melihat putrinya yang tiba-tiga mengang-kang dan mengejan.


"Boy sudah mau kelu-ar..." ucap Flower keras lalu kembali mengejan.


"A-apa..." Dad William seketika pusing dan matanya berkunang-kunang saat melihat ke bagian bawah putrinya sudah terlihat sebuah kepala yang ingin keluar dari sana.


***