
Malik tak menggubris apa yang Flower katakan justru memilih pergi dari hadapan Flower. Sikap Malik pun tentu saja berhasil membuat Flower kesal hingga menghentakkan kedua kakinya di atas lantai.
"Selain menyebalkan dia juga sangat tidak sopan kepadaku!" Gerutu Flower. Tak ingin menambah rasa kekesalan di dalam hatinya, Flower memilih memasukkan amplop yang diberikan Malik ke dalam tas kerjanya lalu melanjutkan membereskan barang-barangnya ke dalam kardus.
Beberapa jam berlalu, kini Flower sudah keluar dari dalam perusahaan Bagaskaras dengan membawa kardus. Andini dan beberapa rekan kerja Flower yang melihat Flower pun segera menghampiri Flower.
"Flower, berjanjilah jika pertemanan kita tak habis sampai di sini." Ucap Rika.
"Ya, itu pasti." Jawab Flower tersenyum.
Rika, Andini dan yang lainnya ikut tersenyum lalu menbantu Flower memasukkan barang-barangnya ke dalam mobilnya. Setelahnya Flower pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya dan meninggalkan perusahaan dengan sejuta kenangannya.
"Aku harap setelah ini hidupku akan lebih baik." Gumam Flower sambil melajukan mobilnya keluar dari perusahaan Bagaskara.
"Dia sudah pergi?" Tanya Rey pada Malik yang tengah berdiri di depan lobby menatap mobil Flower yang mulai hilang dari pandangannya.
"Ya. Nona Flower sudah pergi, Tuan." Jawab Malik.
Rey mengangguk paham lalu mengajak Malik pergi meninggalkan perusahaan karena sebentar lagi mereka akan memiliki jadwal pertemuan dengan Galang di sebuah resto yang berada tidak jauh dari perusahaan.
*
Satu jam berlalu, Flower terlihat sudah berada di rumahnya sambil menggendong sebuah kardus.
"Flower, kau sudah pulang, Nak?" Mom Rania berjalan tergesa-gesa menghampiri putrinya yang terlihat kesusahan membawa kardus.
"Sudah. Agh, terima kasih, Mom." Flower merasa lega karena Mom Rania telah membantunya.
"Sama-sama." Jawab Mom Rania lalu melangkah membawa kardus ke ruang tamu.
"Pak Mang terlihat sibuk dan Flower sungkan meminta tolong padanya." Jawab Flower.
Mom Rania tersenyum mendengarnya. Pandangannya pun kini berpusat pada wajah Flower yang terlihat pucat. "Flow, apa kau baik-baik saja, Nak?" Tanya Mom Rania.
"Flow baik-baik saja. Ada apa Mommy?" Tanya Flow.
"Mom lihat wajahmu nampak pucat. Apa kau yakin baik-baik saja?" Tanya Mom Rania lagi untuk memastikan.
"Ya. Flow baik-baik saja. Mungkin itu karena efek Flow terlalu kecapean membereskan barang-barang ini, Mommy." Jawab Flower seadanya.
"Tapi Mom lihat kau sering pucat akhir-akhir ini."
Flower terdiam beberapa saat lalu menggeleng. "Hanya perasaan Mommy saja. Baiklah kalau begitu Flow naik ke kamar dulu. Flow ingin beristirahat sebentar:" Pamit Flower.
Mom Rania mengangguk saja membiarkan Flower beranjak menuju kamarnya.
Bruk
Setelah berada di dalam kamarnya Flower pun langsung menjatuhkan punggungnya begitu saja di atas ranjang.
"Kenapa tubuhku akhir-akhir ini mudah lelah dan mengantuk?" Gumam Flower dengan mata terpejam.
"Apa ini efek aku sudah semakin tua hingga tubuhku semakin renta?" Tebaknya. Flower pun membuka kedua kelopak matanya lalu menatap kalender yang terpajang di kamarnya.
"Satu minggu lagi adalah jadwal aku datang bulan. Mungkin juga karena efek mau datang bulan membuat tubuhku mudah lelah dan mengantuk." Ucap Flower menebak-nebak. "Tapi... kenapa wajahku juga sering pucat akhir-akhir ini?" Flower pun berusaha mencerna apa yang terjadi.
***