One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Mempersiapkannya sendiri


Karena tidak ingin berdebat dengan Flower saat di hadapan William, Rania, Gerry dan Kyara, Malik pun membiarkan Flower yang ingin kembali ke ruang tamu sendiri tanpa bantuan darinya.


"Malik, lanjutkan makan siangmu." Titah William pada Malik.


Malik mengangguk mengiyakannya lalu kembali duduk di kursi dan melanjutkan menghabiskan makan siangnya. Sementara Flower terus melangkah ke arah ruang tamu sambil mengelus perutnya.


"Kenapa kau bertingkah saat berada dengan ayahmu? Apa kau sengaja ingin mencari perhatian pria datar itu?" Omel Flower pada janinnya.


Dua puluh menit kemudian, William, Rania, Gerry, Kyara dan Malik telah selesai menghabiskan makanan mereka masing-masing. Mereka pun beranjak dari kursi dan kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan mereka di sana.


"William, jika kau membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk memberitahukannya padaku." Ucap Gerry.


"Tentu saja aku akan memberitahukannya padamu dan meminta bantuan padamu." Jawab William dengan wajah masam.


Gerry tertawa kecil melihat ekspresi William saat ini.


"Flower, apa kau baik-baik saja, Nak?" Tanya Kyara pada Flower yang terlihat pucat.


"Flow tidak apa-apa, Tante." Jawab Flower pelan.


"Apa yang kau rasakan saat ini adalah hal yang wajah dirasakan oleh ibu hamil." Tutur Kyara lembut.


"Iya, Tante." Jawab Flower seraya tersenyum tipis.


Karena sudah tidak ada lagi hal yang ingin mereka bahas di kediaman William, akhirnya Gerry dan Kyara pun berpamitan untuk pulang pada William dan Rania.


"Terima kasih sudah datang." Ucap William saat mengantarkan Gerry dan Kyara ke pintu mobilnya.


"Ya. Semoga masalah ini cepat selesai." Jawab Gerry sambil menepuk pundak William.


"Malik, kau harus belajar terbiasa menghadapi sikap Flower yang terkadang manja dan arogan. Maklum saja, dia adalau anak tunggal dan sudah terbiasa dimanja oleh Daddynya sejak kecil." Ucap Gerry pada Malik.


"Baik, Tuan." Jawab Malik patuh.


Kyara yang berada di sebelah Gerry pun ikut mengangguk saja membenarkan apa yang Gerry katakan.


"Semoga saja dengan berjalannya waktu Flower dapat menerima Malik di dalam hidupnya." Ucap Kyara penuh harap di dalam hatinya.


*


Sudah hampir satu minggu belakangan ini Malik terlihat disibukkan mengurus acara pernikahannya dengan Flower. Ia bahkan beberapa kali telat masuk ke perusahaan karena harus menyelesaikan berkas-berkas yang diperlukan untuk acara pernikahan mereka nantinya.


Ya, Malik memang memutuskan untuk mengurus acara pernikahannya sendiri tanpa bantuan orang lain karena ia merasa bertanggung jawab untuk itu. Apa yang dilakukan Malik pun dibenarkan oleh Rey. Rey pun acap kali meminta Malik untuk libur bekerja saja namun pria itu selalu menolaknya. Seperti pagi ini, Malik terlihat sudah berada di perusahaan padahal esok hari adalah hari pernikahannya dan Flower diadakan.


"Kenapa tidak libur saja. Saya kan sudah memintamu untuk libur." Ucap Rey pada Malik yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa melakukannya." Jawab Malik seadanya. Lagi pula Malik tahu jika Rey juga sudah mulai sibuk mempersiapkan persalinan untuk Yura.


Rey menatap datar pada Malik. "Apa semuanya sudah beres?" Tanya Rey.


"Sudah, Tuan." Jawab Malik.


"Kau memang bisa diandalkan untuk urusan apapun. Saya harap acara besok dapat berjalan dengan lancar." Ucap Rey dan diangguki Malik sebagai jawaban.


***


Siap-siap kondangan ya.