
"Kau sudah selesai mandi?" Tanya Flower pada Malik.
"Sudah. Sekarang ayo katakan ada apa denganmu?" Tanya Malik.
Flower menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa." Jawab Flower. Saat ini ia merasa tidak ingin menceritakan apa-apa pada suaminya itu.
Malik menghela nafasnya. "Kau sangat tidak pandai berbohong. Ayo katakan ada apa denganmu? Apa ada yang mengganggu pemikiranmu saat ini?" Tanya Malik.
Flower tertunduk. "Ya. Aku memikirkan nasib Emila dan Ibunya." Jawab Flower jujur.
"Bukankah aku sudah mengatakan agar tak lagi memikirkannya?" Tanya Malik.
Flower menggeleng. "Aku tidak bisa. Bagaimana pun juga aku adalah seorang wanita yang masih memiliki hati." Jawab Flower.
"Apa yang kau pikirkan tentangnya?" Malik memilih bertanya dari pada mematahkan pendapat istrinya.
"Aku merasa kasihan pada ibunya. Saat ini hanya Emila yang dia punya dan Emila juga adalah tulang punggung keluarganya. Kasihan sekali ibunya jika harus hidup sendiri dan terus menangisi nasib anaknya." Ucap Flower.
Malik mengusap punggung istrinya. "Lalu apa yang kau inginkan?" Tanya Malik karena ia tahu Flower memiliki keinginan saat ini.
"Bagaimana kalau kau membujuk Daddy agar meringankan hukuman untuknya. Aku rasa masih ada cara lain untuk menghukumnya selain dipenjara." Ucap Flower.
"Aku rasa itu sulit. Dia sudah sangat keterlaluan kepadamu. Diberniat mencelakaimu dan Baby. Aku tidak ingin jika dia berkeliaran di luar dia akan memiliki niat yang jahat lagi kepadamu." Ucap Malik.
Flower menghembuskan nafas bebas di udara. "Semua orang berhak memiliki kesempatan kedua bukan? Dan Emila berhak untuk dimaafkan. Lagi pula apa yang dia lakukan semata karenamu. Dia ingin kau kembali kepadanya tapi tidak bisa karena kau lebih memilih aku dan anak kita."
"Apapun alasannya dia tetap bersalah." Jawab Malik.
"Tapi..." Flower menghentikan perkataannya melihat tatapan Malik.
Flower diam. Entah mengapa ia merasa suaminya sama sekali tidak memiliki rasa iba pada Emila yang notabanenya adalah mantan kekasihnya dulu.
Sementara di kamar Dad William dan Mom Rania, Dad William terdengar mempertanyakan sesuatu hal pada Mom Rania.
"Untuk apa dia datang ke rumah tadi?" Tanya Dad William. Tentu saja Dad William mengetahui kedatangan Bu Asma karena ia sudah meminta orang untuk mengikuti kemana pun Bu Asma pergi karena Dad William takut Bu Asma akan membalas dendam pada putrinya.
"Dia meminta maaf dan meminta agar putrinya dibebaskan." Jawab Mom Rania apa adanya.
Dad William tersenyum miring. "Katakan jangan pernah bermimpi karena sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan orang yang sudah mencelakai putriku bisa hidup dengan tenang." Tekan Dad William.
"Apa kau tidak memiliki rasa kasihan padanya?" Tanya Mom Rania.
"Tidak. Aku lebih kasihan pada nasib putriku." Jawab Dad William cepat.
Mom Rania menghela nafas panjang. Untuk saat ini ia tidak memiliki kesempatan untuk meluluhkan hati suaminya karena ia tahu saatnya belum tepat.
Di saat Mom Rania hanya bisa pasrah menyerahkan semua keputusan pada suaminya, Flower justru sebaliknya. Setelah hari itu ia terus memikirkan cara agar Emila bisa bebas dari hukumannya dan ia tak lagi dihantui rasa kasihan pada Bu Asma yang beberapa kali datang ke rumahnya meminta untuk membebaskan Emila.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗