
Dua hari kemudian
Akhirnya hari keberangkatan Malik pergi ke luar kota pun tiba. Pagi itu Flower nampak sudah membantu Malik bersiap-siap untuk pergi dengan mempersiap baju, sepatu dan tak lupa memakaikan dasi untuk Malik.
"Kau yakin tidak mau sarapan dulu?" Tanya Flower setelah Malik selesai bersiap-siap.
"Untuk hari ini aku sarapan di rumah Tuan Rey saja, ya." Jawab Malik lembut. Sebelum berangkat ke luar kota Malik memang diminta untuk menjemput Rey lebih dulu di kediamannya.
"Baiklah." Jawab Flower.
Malik tersenyum lalu memberikan kecupan di kening istrinya. Setelahnya mereka pun keluar dari dalam kamar dan Malik pun segera berpamitan pada Mom Rania dan Dad William untuk berangkat ke luar kota.
"Malik, ingat pesan Mommy agar tidak terlalu mencemaskan Flower. Ada Mom dan Daddy di sini yang akan menjaga Flow." Pesan Mom Rania tak ingin menantunya itu tidak fokus dalam bekerja karena terlalu mencemaskan Flower.
"Baik, Mommy." Jawab Malik walau hatinya masih saja tidak tenang meninggalkan Flower karena ia merasa ada yang akan terjadi di saat ia pergi nanti.
"Malik, aku pasti akan sangat merindukanmu." Ucap Flower tersenyum manis. Senyuman yang dapat membuat hati Malik merasa bahagia saat melihatnya.
"Kemarilah." Malik meminta istrinya masuk ke dalam pelukannya.
Flower mengiyakannya lalu memeluk Malik erat. "Berjanjilah untuk selalu mengabariku kemana pun kau pergi." Pinta Malik.
Flower menganggukkan kepalanya. "Iya, aku berjanji." Jawab Flower seraya tersenyum.
Mom Rania dan Dad William tersenyum melihat keromantisan anak dan menantu mereka. Setelah cukup berbagi kasih sayang pada Flower, Malik pun berpamitan pada kedua mertuanya untuk pergi. Tak lupa Malik menghubungi Bu Venna untuk mengabari jika ia akan berangkat dan meminta Bu Venna untuk menemani Flower bersama Mom Rania saat ia tidak ada.
"Mommy..." Flower memeluk Mommynya seraya menangis setelah kepergian mobil Malik.
Flower menganggukkan kepalanya. "Flow hanya sedih saja, Mommy." Jawab Flower masih dengan menangis.
Mom Rania pun mengerti dengan apa yang dirasakan Flower saat ini. Pastilah putrinya itu ingin selalu berada dekat dengan suaminya di saat hari menjelang pernikahan seperti saat ini. Tapi apa mau dikata, sebagai seorang pria yang memiliki tanggung jawab dengan pekerjaannya membuat Malik tak bisa membatalkan pekerjaannya begitu saja demi menemani istrinya.
Malik yang sudah berada di dalam perjalan menuju kediaman Rey pun nampak tidak tenang meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua itu. "Tenanglah, hanya dua hari." Ucap Malik pada dirinya sendiri. Ingin sekali saat ini Malik memutar mobilnya ke arah rumahnya dan memeluk erat tubuh istrinya yang sudah menjadi candu untuknya. Tapi semua itu tidak mungkin Malik lakukan karena ada tanggung jawab yang sedang menantinya.
Empat puluh menit berlalu, akhirnya Malik pun tiba di kediaman Rey. Yura yang mengetahui kedatangan Malik segera membukakan pintu dan meminta Malik untuk masuk.
"Apa kau tidak apa-apa, Malik?" Tanya Yura yang dapat melihat kegelisahan Malik saat ini.
"Saya tidak apa-apa, Nona." Jawab Malik berusaha tenang.
"Kau pasti berat meninggalkan istrimu yang sedang hamil besar bukan?" Tebak Yura.
Malik pun hanya diam seolah bingung harus menjawab apa karena ia merasa tidak enak jika harus jujur pada Yura.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗