
Yura dan para pengawal tentu saja mengikuti mereka berdua. Mereka tidak akan tenang membiarkan Flower dekat kembali dengan wanita yang pernah berbuat jahat kepada Flower.
"Sudah sejak lama aku ingin bertemu denganmu tapi Daddy selalu melarangku." Ucap Flower membuka percakapan di antara mereka.
Emila fokus memandang wajah Flower. "Untuk apa kau ingin bertemu denganku? Permasalahan di antara kita sudah selesai dan aku tidak akan mengganggumu lagi." Ucap Emila pelan.
Flower menggeleng tidak setuju. "Belum selesai. Kau belum menjelaskan kepadaku kenapa kau pergi dan pindah ke kota ini." Jawab Yura.
"Aku tahu kau sudah tahu jawabannya." Ucap Emila.
"Apa karena Daddyku?" Flower menebak dan tentu saja tebakannya adalah benar.
Helaan nafas Flower terdengar berat. "Apa kau dan Ibumu aman tinggal di kota ini? Maksudku apa kalian tidak kesusahan?" Flower masih saja memikirkan nasib mantan kekasih suaminya itu. Sebagai seorang anak dari Dad William yang tidak akan mau mengampuni siapapun yang berniat mencelakai keluarganya, Flower sangat tahu jika saat ini Dad William pasti membatasi pergerakan Emila dan membuat Emila sulit mencari pekerjaan seperti semula.
"Aku dan ibu merasa aman dan nyaman di sini. Aku juga sudah bekerja di salah satu toko baju yang cukup besar di kota ini." Jawab Emila.
"Syukurlah..." Flower menghembuskan nafas lega karena Emila masih memiliki penghasilan untuk membiayai ibunya.
Emila menatap ke sekitarnya dengan wajah takut. Ia sangat takut jika Malik atau Dad William datang menghampiri mereka dan memberikan hukumann lagi kepadanya karena sudah melanggar janji bertemu dengan Flower.
"Maaf." Satu kata yang sejak lama ingin sekali Emila sampaikan pada Flower pun akhirnya keluar dari mulutnya.
"Maaf? Untuk apa?" Tanya Flower. Ia tidak membutuhkan kata maaf dari Emila karena wanita itu sudah pernah meminta maaf kepadanya.
Pandangan semua orang pun kini terpusat pada Emila menunggu jawaban wanita itu.
"Maaf karena sudah pernah berbuat jahat kepadamu. Dan terima kasih karena kebaikan hatimu yang sudah berjuang untuk membebaskan aku." Ucap Emila tulus dan dapat dilihat dan dirasakan oleh Flower.
Flower menganggukkan kepalanya. "Semua sudah berlalu dan tidak perlu diingat lagi." Jawabnya.
Pandangan Emila jatuh pada perut Flower yang nampak besar dan membuncit. "Kau hamil?" Tanya Emila.
Tangan Emila terulur pada Flower. Flower pun dengan cepat menerima uluran tangan Emila.
"Selamat atas kehamilanmu."
"Terima kasih." jawab Flower seraya tersenyum.
Emila segera melepaskan jabatan tangan mereka karena melihat tatapan tak bersahabat pengawal Flower.
"Maaf, kami sudah harus pergi." Ucap Emila karena menurutnya sudah cukup lama mereka berbicara.
"Benar, kami harus segera pergi, Flower." Timpal Bu Asma yang sejak tadi hanya diam saja.
"Tapi..." Flower rasanya belum puas berbicara dengan Emila. Ia bahkan belum berbicara dengan Bu Asma atau sekedar tahu dimana tempat tinggal mereka saat ini.
"Sekali lagi maaf. Mohon jangan membuat hidup kami menjadi sulit karena bertemu denganmu." Ucap Emila sambil mengatupkan kedua tangannya.
Yura pun memberikan pengertian pada Flower agar membiarkan mereka pergi setelah melihat ketakutan di wajah Emila.
Di tempat yang berbeda, Malik yang baru saja melihat pesan masuk ke dalam ponselnya dibuat mengepalkan sebelah tangannya mengetahui jika istrinya bertemu lagi dengan mantan kekasihnya.
***
Sebelum lanjut, Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Malik dan Flower update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Istri Figuran, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗