One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Mencoba tetap tenang


"Apa aku perlu mencaritahu ada apa dengan putri kita selama berada di sana?" Tanya William.


Rania sontak menggeleng. "Tidak perlu. Kita hanya perlu menunggu Flower untuk bercerita jika memang ada yang tidak beres terjadi di sana." Jawab Rania.


"Apa mungkin saat berada di sana Flower merasa kesal karena Rey ikut mengajak Yura bersama mereka?" William kembali menebak-nebak.


"Mungkin saja. Aku juga memikirkan hal yang sama." Jawab Rania merasa sependapat dengan suaminya itu. Lagi pula hal apa lagi yang membuat Flower tidak bersemangat setelah pulang dari sana selain Rey yang membawa Yura tanpa sepengetahuan Flower. Jangankan Flower, Rania dan William saja baru mengetahui Rey membawa Yura ikut bersamanya setelah mereka berada di Surabaya waktu itu.


Di tengah pembicaraan Dad William dan Mom Rania yang menceritakan tentang dirinya, Flower terlihat tengah uring-uringan di dalam kamar memikirkan jika apa yang terjadi padanya tadi malam diketahui oleh kedua orang tuanya.


"Tidak, tidak. Mom dan Daddy tidak boleh mengetahui apa yang terjadi padaku. Jika sampai mereka tahu, aku tidak dapat membayangkan kemarahan mereka. Seorang putri dari keluarga Arnold telah bertindak di luar batas dengan memperkosa seorang asisten dari perusahaan Bagaskara." Flower bergedik ngeri saat mengatakannya.


"Sudahlah, Flow... lupakan apa yang telah terjadi. Anggap saja tidak terjadi apa-apa di antara dirimu dan asisten kaku itu tadi malam. Dan percayalah jika apa yang kalian lakukan tadi malam tidak akan menimbulkan efek apa-apa untuk kedepannya." Ucap Flower menenangkan hati dan pemikirannya.


Untung saja saat berada di dalam perjalanan dari bandara menuju rumahnya tadi Flower sudah sempat mencaritahu informasi tentang apa yang dilakukannya tadi malam. Jika mereka hanya melakukannya satu kali belum tentu akan menimbulkan efek apa-apa pada dirinya. Namun Flower tetaplah wanita yang ceroboh karena tadi ia tidak membaca kelanjutan artikel yang dibacanya yang mengatakan dalam sekali perbuatan bisa langsung menghasilkan pembuahan dalam rahimnya.


*


"Sayangnya kecantikanmi itu tidak berhasil memikat Kak Rey menjadi milikmu." Entah bisikan dari mana tiba-tiba saja menghancurkan kesenangan hati Flower saat ini.


"Sial!" Umpatnya merasa kesal karena apa yang ia dengar benar adanya. Tak ingin larut dalam kekesalannya yang akan merusak mood paginya, Flower memilih segera keluar dari dalam kamar setah sebelumnya mengambil tas kerjanya yang ada di atas ranjang.


"Flow... kau sudah ingin bekerja pagi ini?" Tanya Mom Rania saat Flower bergabung bersama mereka dengan pakaian kerjanya.


"Ya, Mom." Jawabnya lalu menjatuhkan bokongnya di atas kursi.


Mom Rania mengangguk saja tanpa berniat bertanya lebih lanjut. Setahunya saat ini Rey belum pulang ke ibu kota dan pastinya hari ini Flower bekerja tanpa ada Rey di dekatnya.


Acara sarapan pagi keluarga kecil William pun berlangsung setelah William duduk bergabung bersama mereka. Setelah lima belas menit menghabiskan waktu untuk sarapan bersama, Flower pun berpamitan pergi menuju perusahaan Bagaskara.


"Semoga saja hari ini pria itu tidak bekerja hingga aku tidak akan sakit mata melihat wajahnya." Ucap Flower penuh harap.


***