
Karena tak kunjung mendapatkan sahutan dari dalam oleh Flower, Arini pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi. Dan betapa terkejutnya Arini saat pintu sudah terbuka ia melihat Flower tengah tergeletak di atas lantai dengan mata terpejam.
"Nona Flower!" Pekik Arini. Ia segera mendekat pada Flower lalu mencoba membangunkan Flower namun tak kunjung mendapatkan hasil. Karena sadar tidak bisa mengeluarkan Flower dari dalam kamar mandi seorang diri, Arini pun kembali keluar dari dalam kamar mandi lalu berinisiatif memanggil William ke ruangan kerjanya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang terdengar sangat keras dari luar ruangannya menghentikan percakapan William dengan Gerry di dalam ruangan kerjanya.
"Masuk!" Sahut William para orang yang mengetuk pintu ruangan kerjanya.
Arini terlihat masuk ke dalam ruangannya dengan nafas tak beraturan dan wajah yang nampak cemas.
"Ada apa, Arini?" Tanya William cepat.
"Nona, Nona Flower, Tuan." Ucap Arini dengan sedikit tergagap.
"Ada apa dengan putriku?" Tanya William setelah bangkit dari kursi kerjanya.
"Nona Flower pingsan di dalam kamar mandi ruangan kerjanya, Tuan." Ucapnya terbata.
"Apa?!" William dan Gerry terkejut mendengarnya. Tanpa berucap apapun lagi, William segera keluar dari dalam ruangan kerjanya sambil berlari. Gerry pun turut melakukan hal yang sama dengan mengejar langkah William.
"Tuan..." Arini pun turut berlari keluar dari dalam ruangan kerja William.
Brak
William membuka pintu ruangan kerja Flower dengan sedikit keras lalu berlari ke arah kamar mandi.
"Flower!" Pekik William melihat putrinya tergeletak di atas lantai dengan wajah pucat dan mata terpejam. Tanpa membuang waktu lama William segera mengangkat tubuh Flower dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi.
Gerry dan Arini pun keluar dari dalam ruangan kerja Flower mengikuti William.
"Sebaiknya kau tetap di sini saja. Biar William dan saya membawa Flower ke rumah sakit." Ucap Gerry pada Arini yang hendak masuk ke dalam lift bersama mereka.
Arini mengangguk patuh lalu memundurkan langkahnya dari depan lift.
"Flower, bangun nak..." William tak dapat menyembunyikan kecemasannya melihat wajah pucat putrinya saat ini.
"Tenanglah... Flow pasti baik-baik saja." Ucap Gerry namun tak digubris oleh William.
Setengah jam berlalu, kini William dan Gerry telah berada di sebuah rumah sakit dan kini tengah berada di luar ruangan pemeriksaan menunggu Flower yang sedang ditangani oleh seorang dokter.
Tak berselang lama, Rania terlihat tengah berlari bersama mereka dan diikuti oleh Kyara di belakangnya.
"Sayang?" William nampak terkejut melihat istrinya yang kini berada di tempat yang sama dengannya.
"Aku yang menghubunginya untuk datang ke sini." Ucap Gerry menjawab kebingungan di wajah William.
"Bagaimana anak kita, Kak? Apa Flow baik-baik saja?" Tanya Rania yang sudah menangis.
"Aku belum mengetahuinya. Dokter masih memeriksa keadaan Flower di dalam sana." Jawab William.
"Flower... ada apa denganmu, Nak. Kau membuat Mom khawatir." Ucap Rania sambil menangis di dalam pelukan William.
Sepuluh menit berlalu, seorang dokter wanita yang tadi memeriksa Flower telah keluar dari dalam ruangan pemeriksaan dengan senyuman merekah di wajahnya.
"Bagaimana dengan anak saya? Apa kondisinya baik-baik saja?" Tanya William cepat.
Dokter wanita itu masih tersenyum menatap wajah William dan Rania secara bergantian. "Selamat, Tuan, Nyonya, putri kalian saat ini tengah mengandung keturunan Arnold." Jawabnya terus tersenyum tanpa memperdulikan wajah Rania dan William yang sangat terkejut mendengar perkataannya.
***