One Night Love Tragedy

One Night Love Tragedy
Wanita pilihan Malik


Malik masih diam hingga membuat Rey geram melihatnya. "Jika kau mengatakan sudah memiliki seorang kekasih saya mungkin bisa membantumu keluar dari permasalahanmu dan Flower sebelum kalian memutuskan untuk menikah." Ucap Rey.


"Maaf, Tuan, saya tidak mengatakannya karena saya sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan mantan kekasih saya." Jawab Malik.


"Apa?" Rey tertegun mendengarnya. "Jangan bilang jika kau yang mengakhiri hubungan kalian?" Tebak Rey.


Malik pun mengangguk membenarkannya.


"Apa alasan kau memutuskan kekasihmu itu? Apa karena Flower?" Tanya Rey.


Malik menghela nafas sejenak. "Saya hanya tidak ingin mantan kekasih saya memiliki pasangan yang sudah berkhianat seperti saya, Tuan. Dia terlalu baik untuk pria seperti saya." Jawab Malik.


"Kau terlalu dramatis, Malik." Sindir Rey.


"Maaf, Tuan. Saya memang melakukannya karena itu." Jawab Malik.


"Ck." Lidah Rey berdecak pelan. "Berarti saat ini kau lebih memilih Flower dibandingkan mantan kekasihmu itu?" Tanya Rey.


"Benar, Tuan. Saya lebih memilih wanita yang tengah mengandung keturunan saya." Jawab Malik singkat, padat dan jelas.


Rey mengangguk-anggukkan kepalany. Saat ini ia merasa bangga dengan asistennya itu karena memiliki pendirian yang teguh untuk hidupnya.


"Baguslah kalau begitu. Walau ada hati yang harus tersakiti karena keputusanmu saat ini, namun saya yakin kau sudah mengambil jalan yang benar." Ucap Rey.


Malik hanya mengangguk tanpa membalas perkataan Rey.


Rey pun berpamitan keluar dari ruangan kerja Malik setelah merasa tidak ada hal lain yang ingin ia sampaikan dan tanyakan pada Malik.


"Bagaimana Rey? Apa semuanya aman?" Tanya Papa Gerry saat Rey kembali ke dalam ruangan kerjanya.


Papa Gerry tersenyum senang mendengarnya. Kekhawatirannya pada Flower akhirnya hilang sudah karena apa yang ia pikirkan tidak terjadi. Malik tidak memilih mantan kekasihnya dan sudah memilih Flower untuk menjadi istrinya dengan tulus.


"Papa tidak dapat membayangkan bagaimana jika saat ini Malik lebih memilih tetap menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya itu." Ucap Gerry.


"Jangan terlau banyak berpikir terlalu jauh, Pa." Jawab Rey cepat.


"Kau mungkin saja bisa berkata seperti itu tapi tidak dengan Papa. Selama ini Papa tahu dengan jelas bagaimana Flower. Cintanya tak pernah terbalas dan tidak ada satu pun pria yang mencintainya dengan tulus. Walau sikapnya tidak sebaik yang kita harapkan, namun Papa tidak tega melihatnya harus terluka untuk yang kedua kalinya. Bagaimana pun juga Flower sudah Papa anggap sebagai anak Papa sendiri." Ucap Papa Gerry.


Rey memilih hanya diam saja karena apa yang baru saja Papa Gerry ucapkan ada hubungannya dengannya.


"Sudahlah, kalau begitu Papa pamit pergi dulu." Ucap Papa Gerry.


"Papa ingin kemana?" Tanya Rey dengan wajah bingung.


"Tentu saja Papa ingin bermain ke perusahaan Arnold." Kelakar Papa Gerry.


"Hal apa lagi yang ingin Papa bicarakan dengan Om William?" Rey merasa tak habis pikir dengan Papanya yang selalu saja datang ke perusahaan sahabatnya itu dengan alasan ada hal yang ingin ia bicarakan dengan William.


"Tentu saja tentang pria cassanova itu." Ucap Gerry dengan ketus saat mengingat pria yang ia maksud.


"Maksud Papa Zaki?" Tebak Rey.


"Kau benar. Siapa lagi jika bukan dia. Untung saja Flower tidak jadi dengannya. Jika tidak Papa bisa merasa bersalah dengan anak itu."


***