
Keesokan harinya, setelah mendapatkan jawaban dari surat pengunduran yang telah ia ajukan kemarin, Flower terlihat sedang membereskan barang-barangnya yang ada di atas meja dan memasukkan ke dalam kardus. Sesekali Flower terlihat menghembuskan nafas kasar mengingat jika hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di perusahaan Bagaskara. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat menurutnya bekerja di perusahaan Bagaskara. Terlalu banyak kenangan pahit yang ia rasakan selama bekerja hingga membuatnya merasa satu tahun adalah waktu yang cukup lama.
"Semoga setelah hari ini aku bisa belajar melupakan Kak Rey dan tidak lagi bertemu orang-orang menyebalkan seperti asisten itu." Ucap Flower penuh harap.
Di tengah kesibukan Flower membereskan barang-barangnya, Yura terlihat datang ke perusahaan membawakan bekal makan siang untuk Rey. Melihat Flower yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus tentu saja membuat Yura merasa bingung. Yura pun memilih menghampiri Flower sejenak dan menanyakan ada apa dengan wanita itu.
"Flower." Sapa Yura setelah berada di depan meja Flower.
"Yura?" Flower mencoba memasang wajah tersenyum pada Yura. Pandangannya pun beralih pada kotak bekal yang dibawa Yura. "Kau ingin mengantarkan makan siang untuk Kak Rey?" Tanya Flower. Masih memasang wajah tersenyum agar Yura tak tahu jika hatinya saat ini sedang menahan rasa sakit.
"Emh, ya. Kau sedang apa? Kenapa kau memasukkan barang-barangmu ke dalam kardus?" Tanya Yura dengan wajah bingung.
"Oh,ini..." Flower menatap kardus di depannya. "Aku sudah berhenti bekerja hari ini. Dan saat ini aku sedang membereskan barang-barangku." Jawab Flower.
"Apa?" Yura cukup terkejut mendengarnya. Melihat keterkejutan di wajah Yura tentu saja membuat Flower merasa bingung karena Yura tidak mengetahui tentang rencananya yang ingin berhenti bekerja dari perusahaan Bagaskara.
"Kau ingin berhenti bekerja?" Tanya Yura kemudian.
"Tepatnya aku sudah berhenti bekerja dari perusahaan ini." Koreksi Flower.
Yura mengangguk. "Kenapa kau berhenti?" Tanya Yura.
"Karena sudah saatnya aku bekerja di perusahaan milik keluargaku." Jawab Flower seadanya.
Yura memilih diam dan tak lagi bertanya. "Emh, baiklah. Kalau begitu aku masuk ke dalam ruangan Kak Rey dulu." Pamit Yura kemudian. Yura memilih tak banyak bertanya pada Flower karena ia ingin mempertanyakannya lebih lanjut kepada suaminya.
"Tunggu dulu, Yura." Flower menahan niat Yura yang ingin beranjak.
"Sudah berapa bulan usia kandunganmu?" Tanya Flower.
"Delapan bulan.." Jawab Yura tersenyum sambil mengelus perutnya yang sangat membuncit.
"Terlihat sangat besar sekali." Ucap Flower pelan hingga Yura tak begitu jelas mendengarnya.
"Kau bilang apa, Flow?" Tanya Yura.
"Tidak ada. Masuklah ke dalam ruangan Kak Rey." Jawab Flower.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Yura lalu melangkah meninggalkan meja kerja Flower.
Setelah melihat Yura masuk ke dalam ruangan kerja Rey, Flower pun memilih menjatuhkan bokongnya di atas kursi kerjanya. "Beruntung sekali Yura mendapatkan suami idaman seperti Kak Rey yang begitu mencintainya. Seandainya saja aku yang menjadi Yura, pasti hidupku akan bahagia." Ucap Flower dengan tersenyum miris.
"Ehem." Mendengar deheman seseorang yang terdengar cukup keras di depannya membuat Flower menatap ke arah depan dimana Malik tengah berdiri di depan meja kerjanya sambil menatap datar pada dirinya.
"Ada apa?" Tanya Flower ketus pada Malik.
"Saya hanya ingin menyerahkan ini kepada anda." Malik menyerahkan sebuah amplop ke atas meja Flower.
Flower menatap amplop yang diberikan Malik sejenak lalu menatap wajah Malik kembali. "Aku harap setelah ini aku tidak akan lagi bertemu dengan pria seperti dirimu." Ucap Flower dengan tetap ketus pada Malik.
****